
Zahra ditemani Kirana memasuki ruangan dokter Alfa, yaitu dokter kandungan yang juga memeriksa kehamilan Keysa. Ia sudah tak sabar ingin mengetahui kebenaran tentang kehamilannya.
"Silahkan duduk!" Dokter Alfa melepas kacamata. Menatap Zahra dan Kirana bergantian. Karena sebelumnya mereka tidak ada perjanjian, dokter cantik itu bingung dengan mereka yang masih sama-sama terlihat muda.
"Siapa yang mau periksa?" tanya dokter Alfa sembari mengeluarkan sfigmomanometer.
"Saya, Dok." Zahra mengacungkan tangannya ke atas dengan cepat.
"Suaminya mana?" tanya dokter Alfa dengan ramah.
"Suami saya bekerja, Dok. Dan hari ini juga ada rapat penting. Jadi, dia gak bisa menemani saya."
Kemudian dokter itu manggut-manggut mengerti.
"Darah nya normal. Apa keluhannya?"
Zahra mengatakan apa saja yang dirasakan akhir-akhir ini. Ia menjelaskan pula tentang dua garis merah di tespek yang masih buram.
"Mari ikut saya." Dokter Alfa berjalan ke arah sebuah ruangan yang tertutup gorden.
Zahra mengikutinya dari belakang, sedangkan Kirana menunggu di ruangan dokter Alfa.
Tak butuh waktu lama, dokter Alfa langsung bisa menemukan titik janin yang memang sudah bersemayam di rahim Zahra. Ia memberi tahu keadaan calon bayinya yang masih sangat lemah dan meminta untuk menjaganya dengan baik.
"Jangan banyak pikiran dan makan yang teratur. Istirahat yang cukup, kalau perlu minta dimanjain sama suami. Karena itu sangat penting bagi ibu hamil muda, terutama bayinya."
Boro-boro manja. Mas Aidin itu orangnya cuek, Dok.
Zahra hanya menjawab dalam hati. Tidak mungkin ia mengatakan keburukan suaminya di depan orang lain.
Zahra kembali ke ruangan dokter Alfa dan duduk di samping Kirana. Mengutarakan kabar bahagia itu pada sang sahabat.
"Ini ada resep vitamin yang harus Nona tebus. Nanti kalau ada keluhan lain, silahkan hubungi saya."
Setelah mendapat surat pertanyaan tentang kehamilannya dari dokter Alfa, Zahra dan Kirana keluar.
__ADS_1
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kirana menghentikan langkah Zahra.
Wajah yang tadinya dipenuhi senyum itu meredup, sorot mata nya menunjukkan sebuah harapan besar.
"Aku akan membuat mas Aidin mencintaiku dan menerima anak ini."
"Bagaimana kalau dia tidak mau menerima kehamilanmu?" sergah Kirana antusias. Entah, ia tidak yakin rencana Zahra akan berhasil.
Zahra menoleh, menatap dalam manik mata Kirana yang berkaca-kaca.
"Aku akan mundur dan membawa bayiku pergi. Aku akan melepaskan dia untuk meraih kebahagiaannya dengan orang lain," ucap Zahra tegas. Sebab, rela atau tidak, ia harus melakukan itu demi masa depan anaknya.
Kirana memeluk Zahra dengan erat dan mengusap punggung wanita itu. "Aku yakin kamu pasti bisa membuat Aidin mencintaimu, aku akan membantumu."
Setelah saling bicara, mereka keluar dari rumah sakit.
"Zahra," teriak seorang wanita saat Zahra berada di parkiran.
Zahra segera menoleh ke arah sumber suara. Nampak wanita cantik dengan baju yang berbeda, dan itu sukses membuat hati Zahra sejuk. Jika biasanya Zahra melihat wanita itu dengan pakaian terbuka dan terlalu seksi, kali ini ia melihat wanita yang berdiri tak jauh darinya itu memakai dres panjang dengan bagian leher yang tertutup.
Tante Delia.
Kirana tak kalah terkejut melihat penampilan wanita itu.
Keduanya saling tatap dari jarak jauh. Delia dengan pengawalan yang ketat pun tak menghampiri Zahra, takut ia ditolak putrinya di depan umum.
"Apa kau tidak ingin memeluk tante Delia?" bisik Kirana membuyarkan lamunan Zahra.
Zahra berjalan pelan ke arah mama Delia. Mencoba meyakinkan hatinya untuk menerima kehadiran wanita tersebut. Sudah lama ia ingin melihat mamanya berubah, dan akhirnya Allah pun mengabulkan doanya selama ini.
"Apa kau tidak ingin memeluk mama, Za?" Mama Delia merentangkan kedua tangannya. Berharap penuh, perubahannya kali ini bisa membuat Zahra bisa menerimanya. Sama seperti Zahra, kedua matanya pun berlinang cairan bening.
Tanpa berpikir panjang, Zahra berhamburan memeluk mama Delia. Ia menumpahkan air matanya di pelukan wanita itu. Rasa bahagianya amat besar seperti saat ia mengetahui dirinya sedang mengandung.
"Maafkan mama, Za," ucap mama Delia penuh penyesalan. Berulang kali mengecup pucuk kepala Zahra yang tertutup hijab.
__ADS_1
Seharusnya dari dulu ia memenuhi permintaan Zahra, namun karena ego yang tinggi membuatnya gelap mata. Sekarang mama Delia sadar, bahwa permintaan putrinya sangat sederhana. Apalagi saat melihat Aidin yang berulang kali menyakiti nya. Ia harus menjadi tiang untuk wanita itu supaya kuat menghadapi rumah tangganya.
"Selama ini mama sudah mengabaikan kamu. Mama terlalu mementingkan urusan mama sendiri. Sekarang mama tidak akan egois, Za. Mama akan menuruti semua permintaan kamu, termasuk kembali ke jalan yang benar."
Zahra mengendurkan pelukannya, mengusap kedua pipi mama Delia yang dipenuhi air mata.
"Aku seneng banget mama berubah seperti ini, dan aku harap mama juga tidak bekerja di klub lagi."
Mama delia tersenyum lebar, karena sebelum memberanikan diri menemui Zahra, Ia sudah menjual semua aset miliknya termasuk klub yang pernah memberinya kehidupan.
"Sekarang dia sudah gak kerja lagi, Za," sahut suara berat dari arah belakang.
Zahra membalikkan badan. Menatap seseorang yang ada di belakangnya. Kedua alisnya saling terpaut saat melihat sosok yang menurutnya asing.
Pria dengan hidung mancung dan tubuh yang atletis itu mendekatinya dan mengulurkan tangan.
"Perkenalkan, namaku James. Suami mama kamu."
Zahra segera menerima uluran tangan itu dan menciumnya selayaknya anak dan orang tua.
"Pasti kamu bertanya-tanya kapan mama menikah," tebak Delia memegang kedua pundak Zahra.
Zahra mengangguk pelan. Selama ini yang ia tahu mama Delia adalah germo yang berhubungan dengan banyak pria hidung belang tanpa sebuah ikatan pernikahan, namun tiba-tiba saja ada seorang pria yang mengaku sebagai suaminya. Bukankah itu memang patut di pertanyakan?
"Sebenarnya mama dan Om James sudah menikah lima belas tahun yang lalu, waktu umur kamu empat tahun. Tapi kesalah pahaman kamu membuat mama tak bisa berkata apa-apa. Ceritanya panjang dan cukup mama yang menjalaninya."
Kini Zahra merasa bersalah sudah berburuk sangka. Selama ini ia hanya mempercayai ucapan ayah Adinata dan Aidin juga oran-orang yang sebenarnya tidak tahu kebenarannya dibalik kisah hidup mamanya.
"Kamu ngapain ke sini?" Mama Delia mengalihkan pembicaraan sembari melambaikan tangan ke arah Kirana.
Zahra meraih tangan mama Delia dan menempelkan di perutnya. "Sebentar lagi mama akan punya cucu," ungkap Zahra yang membuat mama Delia ikut bahagia.
"Selamat ya, Nak. Mama akan membelikan apapun kebutuhan kamu dan bayimu."
Seketika itu Zahra menggeleng. Ia tidak ingin merepotkan orang lain, termasuk mamanya yang sudah mempunyai keluarga.
__ADS_1
"Mas Aidin sudah memberikan semua yang aku mau, jadi mama tidak perlu khawatir. Sekarang aku juga mau ke kantor nya untuk mengantarkan makan siang," ucap Zahra asal untuk menghindar dari mamanya. Takut mama Delia akan ikut campur rencananya saat ini. Juga teringat ucapan Aidin yang melarangnya berhubungan dengan wanita itu.