
Penjelasan Zahra membuat Keysa geleng-geleng kepala. Tak pernah menyangka Aidin bisa bersabar menunggunya sampai tiga bulan. Itu adalah waktu yang cukup lama bagi seorang pria menahan hasrat, apa lagi mereka berpisah cukup lama, namun itulah yang terjadi, bahkan sedikit pun tak ada paksaan.
"Kamu kenapa sih?" Darren yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri Keysa yang masih tercengang dengan ponsel di tangannya.
Menatap Darren sinis. Menggeser duduknya sedikit menjauh.
Jangankan tiga bulan, empat puluh hari sudah nyosor kayak bebek.
Mengingat kelakukan Darren dulu setelah melahirkan Shireen.
"Kamu kenapa sih?" Darren bertanya lagi. Curiga dengan tatapan tajam Keysa. Lebih mendekat lagi. Ingin tahu apa yang dipikirkan wanita itu.
"Tadi aku menelpon Zahra," ucapnya basa-basi, ingin memancing reaksi Darren saat mengetahui kesabaran Aidin.
"Untuk apa?" Darren mengambil ponselnya dan berbaring di ranjang. Sesekali melirik Keysa yang mulai mengerucutkan bibir.
"Aku salut sama Aidin."
Eh, kok jadi memuji Aidin, apa dia mencintai adikku. Ini gak bisa dibiarkan.
Kembali terbangun, menangkup kedua pipi Keysa, menatap manik matanya yang penuh dengan kekesalan.
"Salut kenapa? Suamimu ini lebih sempurna, lebih tampan dan lebih setia, pokoknya lebih segala-galanya. Tapi kenapa memuji dia, seharusnya kamu memujiku." Membanggakan diri, bahwa ia lebih baik daripada adiknya yang songong itu.
"Salut karena dia sanggup menunggu Zahra sampai tiga bulan." Mengangkat tiga jarinya tepat di depan wajah Darren.
"Setidaknya memberi waktu pada istrinya untuk benar-benar siap melayaninya," imbuhnya.
Dalam waktu yang singkat otak Darren bisa menangkap apa yang dimaksud Keysa. Teringat dengan jelas saat ia memaksa wanita itu melayaninya, sedangkan Shireen baru berumur lima puluh hari.
"Itu kan sudah berlalu, kenapa harus diungkit?" Mengucap dengan lirih dan kepala menunduk. Merasa bersalah sudah memaksakan kehendak.
Merangkul pundak Keysa. Mencari cara untuk membuat hati wanita itu kembali berseri.
"Belanja yuk, kayaknya kamu butuh refreshing." Menaik turunkan Alisnya, mencoba membuat Keysa melupakan pembahasannya.
"Sogokan?" Keysa yang sudah hafal itu pun menebak, namun tempat. Itu ada kunci utama Darren untuk merayunya.
"Bukan, Sayang. Aku ikhlas. Kemarin Aidin membeli barang-barang mewah untuk Zahra, kamu gak pingin?"
__ADS_1
Mendengar kata barang mewah membuat otak Keysa traveling seketika, mungkin menghambur-hamburkan uang suaminya akan mengembalikan moodnya yang buruk.
Belum lagi kehamilannya kali ini sangat rewel dan menginginkan semua yang ia lihat.
"Baiklah, aku siap-siap dulu." Beranjak dari duduknya.
Darren mengelus dadanya. Akhirnya ia bisa bernapas lega karena tidak terlalu banyak mendapatkan tuntutan dari sang istri.
Semua persiapan sudah hampir selesai. Satu-satunya orang yang paling sibuk menyiapkan pesta itu adakah Richard. Selain di kantor, ia dipercayakan untuk menyusun berbagai acara nanti.
"Sudah sampai tahap mana?" Delia menghampiri Richard yang sedang memeriksa dokumen. Saat ini mereka berada di gedung milik James.
Setelah dirunding dengan seluruh keluarga, Aidin memutuskan untuk menggelar pesta di tempat itu.
"Semua sudah selesai, Nyonya. Hanya tinggal mengambil gaun Nona Zahra," lapor Richard seperti yang tertulis.
Delia pun ikut memeriksa tempat itu. Sedikitpun tak ingin ada kekurangan di pesta kali ini. Meskipun terlambat, ia bisa mengadakan acara mewah yang dikhususkan untuk putrinya.
"Sepertinya kamu capek, pulanglah. Nanti biar aku sendiri yang mengambil gaun Zahra," jelas Delia.
Richard mengangguk tanpa suara lalu meninggalkan Delia. Berhenti sejenak, menyeruput kopinya yang tinggal sedikit kemudian keluar.
Ternyata Aidin tak sendirian, melainkan bersama Zahra dan Zea.
"Di dalam ada nyonya Delia, Tuan." Richard memberitahu.
"Dengan siapa?" tanya Zahra.
"Sepertinya sendirian, Nona. Saya tidak melihat Cherly atau Tuan James," jelasnya lagi.
Zahra dan Aidin masuk. Richard mengurungkan niatnya untuk pulang dan kembali mengikuti mereka ke dalam.
Menggendong Zea yang terlelap, membawa bocah itu jalan-jalan keliling ke tempat lainnya.
Aidin dan Zahra menghampiri Delia yang sibuk memindahkan bunga. Rencananya pesta akan diadakan secara singkat. Namun, seketika itu ditolak oleh sang mama yang kini mengendalikan semuanya.
Mencium pipi Zahra dengan lembut. "Ini hari bahagia kamu, dan mama ingin yang terbaik untuk kalian."
Perpisahan yang sangat lama membuat wanita itu merasa bersalah. Apalagi saat mendengar kisah hidupnya yang penuh dengan lara, Delia tak ingin menyia-nyiakannya lagi dan ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya itu.
__ADS_1
"Apa aku boleh mengundang ayah, Ma?" tanya Zahra, takut mamanya tidak menyetujui rencananya.
"Undang saja, dia ayahmu. Bagaimanapun juga dia yang menjagamu dari bayi." Mengucap dengan nada ketus, seperti ada yang dipendam. Entah itu apa, Zahra pun tak mengetahui masa lalu mereka.
Yang ia dengar dari ayahnya, bahwa mamanya adalah wanita bejat yang suka menjual diri. Selebihnya, Zahra tak tahu.
Tak hanya Aidin dan Zahra yang datang ingin mengecek, Darren pun menyusul setelah dari mall.
Ia dan Keysa menghampiri Aidin dan Zahra juga Delia.
"Dari mana saja, Kak?" Zahra melihat wajah Keysa yang dipenuhi dengan senyuman.
"Dari bobol atm ku, Za," sahut Darren malas. Niatnya ingin jalan-jalan dan membeli beberapa barang, justru uangnya raib begitu saja.
"Maksud Kakak apa?" Zahra masih belum mengerti maksud Darren. Menatap kedua kakaknya bergantian.
Keysa menjelaskan semuanya. Bahkan dia membeli sesuatu yang sebenarnya tak dibutuhkan hanya demi menghabiskan uang Darren.
Bukan respon positif dan dukungan, justru Keysa mendapat cibiran dari Zahra.
"Tidak semua yang kita inginkan itu kita dapatkan, Kak. Kita sebagai seorang istri boleh meminta apapun selama suami kita mampu, tapi bukan berarti kita memberatkannya."
Mampus lo, kalau bu ustadzah sudah ceramah. Pasti tembus jantung.
Darren tertawa dalam hati melihat istrinya menciut. Ikut bergidik ngeri, takut disangkut pautkan dengan satu kesalahan. Tapi juga merasa menang dengan pitutur Zahra. Setidaknya Keysa tidak mengulangi perbuatannya. Meskipun saat ini ATM nya tanpa penghuni. Hari kedepannya akan gendut seperti milik Aidin. Begitulah pikirnya.
Benar juga, selama ini Keysa sering mendengar ceramah seperti itu, namun sekarang menyesal karena sudah menghabiskan uang Darren.
"Tapi kak Darren juga gak boleh lupa, kalau uang suami itu adalah uang istri."
Darren menelan ludahnya dengan susah payah. Ucapan Zahra sekejap membuatnya melayang namun juga menghempaskannya ke dasar jurang terdalam hingga ia tak bisa berkutik lagi.
Aidin menahan tawa. Meskipun ucapan itu juga menyindirnya di kala itu, untuk sekarang ia menjalankan kewajibannya dengan baik, bahkan tak mempedulikan kantongnya sendiri yang kering gelinting.
Dari arah jauh nampak Richard terus menyengirkan hidungnya.
"Kenapa, Chard?" tanya Aidin khawatir.
"Gak tahu, Tuan. Sepertinya Dedek Zea__" Menghentikan ucapannya.
__ADS_1
Zahra ikut mendekat dan mencium sesuatu yang aneh. "Zea pup, Mas."