Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Pesta 2


__ADS_3

Semua yang diinginkan Zahra terkabul. Kehadiran orang-orang yang disayanginya sudah cukup memberikan kebahagiaan tersendiri. 


Suasana pesta semakin meriah saat sesi foto itu di mulai. Mereka berpose bersama   Zahra dan Aidin dengan pasangan masing-masing. 


Tak hanya Adinata, ibu tiri dan juga ketiga adiknya pun ikut hadir di acara itu hingga Zahra merasa keluarganya sangat lengkap. 


Zahra menghampiri Adinata yang ada di dekat Adinata dan juga ketiga anaknya. 


"Aku ingin berfoto bersama Ayah dan mama," ungkapnya ragu, takut tak mendapat izin dari ibu tirinya. 


Adinata tersenyum lalu mengangguk tanda setuju. Berjalan ke depan bersama dengan putrinya. 


Setelah itu Zahra kembali menghampiri Delia yang sibuk berbincang dengan tamu. 


"Ma, kita foto bareng yuk," ajak Zahra berbisik. Menunjuk Adinata yang sudah siap. 


Delia menatap ke arah sang ayah  lalu menatap putrinya. "Harus ya?" tanya Delia lagi. 


Zahra mengangguk dengan memasang wajah memelas. 


"Baiklah, Mama akan bernostalgia dengan ayahmu," canda Delia yang didengar oleh James. Namun, sedikitpun pria itu tak cemburu malah kagum dengan sang istri yang terlihat biasa saja. 


"Impian kita tercapai, Mas." Delia menatap Adinata. 


Setelah puluhan tahun tak saling sapa, akhirnya mereka dipertemukan lagi. Meskipun keadaannya berbeda dan saling memiliki pasangan masing-masing, takdir tetap mengatakan bahwa mereka adalah orang tua Zahra, dan itu tak bisa diubah oleh apapun. 


Adinata tersenyum tipis. "Iya, akhirnya kamu dan aku bisa berfoto dengan anak kita," timpal Adinata. 


Tidak ada kata terlambat untuk menjalin hubungan baik. Delia memang tak pernah menjelaskan apa yang terjadi, namun Adinata meminta maaf atas perbuatannya yang sudah mengusir wanita secara tidak hormat. 


Bukan tanpa alasan Delia bungkam tentang kebenaran itu, ia hanya tidak mau Adinata dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. Cukup menjadi masa lalu dan tidak akan terulang lagi. Terlebih, ia sudah bagai dengan James. 


"Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah membesarkan anak kita dengan sabar." Delia kembali mengingat salah satu kebaikan mantan suaminya. 


Zahra yang berdiri di tengah kedua orang tuanya hanya bisa mendengar percakapan mereka. Momen yang ditunggu, melihat mama dan ayahnya bercakap dan ini akan menjadi pertemuan yang spesial antara mereka. 


"Kapan kita fotonya, Sayang?" Aidin yang baru datang menghentikan perbincangan mereka. 


Kini foto itu dimulai. Zea yang ada di gendongan Aidin ikut bergonta-ganti gaya seperti mama dan papanya. 


"Setelah acara selesai Ayah gak boleh pulang dulu, kita kumpul dengan keluarga mas Aidin," pinta Zahra menekankan. Berbeda dengan Delia yang sudah akrab, Adinata sedikit menjauh dengan mertuanya. 


"Iya, ayah akan menemanimu sampai bosan."


Zahra tertawa renyah mendengar ungkapan itu. 

__ADS_1


Setelah foto dengan kedua orang tuanya, Aidin menghampiri Bu Lilian dan pak Herman. 


"Nitip Zea ya, Ma. Kayaknya Zahra belum makan. Kalau gak diingetin pasti lupa." 


Bu Lilian menggendong cucu tercintanya. 


Tak berselang lama, Darren datang dengan Shireen yang juga merengek ingin ikut. 


"Shireen gak lihat, hari ini Oma miliknya dek Zea," cetus Aidin yang belum pergi. 


Menggoda Shireen menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. 


"Kamu gak punya oma," imbuhnya 


Mata Shireen digenangi cairan bening. Bibirnya tampak gemetar melihat bu Lilian terus menciumi pipi gembul Zea. 


"Cemburu ni ye…" bisik Aidin lagi.


Pak Herman hanya menahan tawa melihat tingkah cucunya yang menggemaskan. 


Merasa diabaikan oleh oma nya, Shireen menarik lengan Aidin dan memeluknya. 


Terpaksa Aidin mengurungkan niatnya dan beralih menggendong sang keponakan yang sudah terlihat kacau. 


"Aku ke sana dulu ya, Ma." Aidin meninggalkan bu Lilian dan Herman erat Darren, namun membawa Shireen yang tak mau lepas. 


"Aidin…" teriak suara berat dari ambang pintu yang membuat sang pemilik nama menoleh. 


"Kak Hanif." Kebahagiaan kali ini benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ternyata tak hanya keluarganya yang ada di Indonesia, namun yang ada di Sydney pun hadir. 


"Maaf, aku terlambat." Memeluk Aidin dan mengucapkan selamat. 


"Dengan siapa, Kak?" Aidin menggeser tubuh Hanif ke samping, nampak wanita  cantik berdiri di belakang pria itu. 


"Namanya Evana, dia calon istriku." 


Aidin ber Oh ria. Menggiring Hanif dan calon istrinya untuk menemui Zahra. 


Sama Seperti Aidin, Zahra pun terkejut dengan kehadiran pria itu. Tak begitu berharap kedatangannya karena rumah mereka yang berjarak jauh, dan mungkin James yang memintanya untuk datang. 


"Kenalkan, ini Evana, calon istriku." Menunjuk wanita yang ia bawa jauh dari luar negeri. 


"Kakak ada hadiah untuk kamu dan Aidin." Hanif mengeluarkan kotak kecil dari tas dan memberikan kepada Zahra. 


"Makasih ya, Kak. Aku janji akan datang saat kakak menikah nanti."

__ADS_1


Kebahagian demi kebahagian terus mengalir dengan kehadiran orang-orang tercinta, namun Zahra tetap saja terlihat tak tenang. Matanya tak henti-hentinya menyisir tamu yang berlalu lalang. 


"Kamu mencari siapa sih, Sayang?" tanya Aidin memastikan. Barangkali ada yang dicari Zahra. 


Zahra menghela nafas panjang. 


"Kirana kok gak datang ya, Mas?" ucapnya lirih. Padahal, ia sudah berulang kali mengingatkan gadis itu untuk datang, tapi sepertinya Kirana memang mengabaikan permintaannya. 


"Mungkin saja dia sibuk atau ada halangan lain." merangkul pundak Zahra, menenangkan. 


"Tapi gak biasanya dia begini, apa dia marah padaku?" Menelisik kesalahan yang pernah diperbuat, namun Zahra merasa tak punya salah. Selama berada di luar negeri pun masih saling berhubungan meskipun lewat ponsel. 


"Gak mungkin, nanti coba kita tanya, apa alasannya gak datang ke sini?" 


Di halaman gedung tempat pesta, seorang gadis tampak malu saat melihat penampilannya. Ia tak berani masuk saat melihat mobil yang berjejer rapi. 


Setiap tamu yang datang pasti berpenampilan mewah  dan naik mobil, sedangkan dia naik motor dengan baju sederhana. 


Tin tin 


Suara klakson dari arah belakang mengagetkannya hingga gadis itu pindah. 


Seorang pria tampan turun dan berjalan ke arahnya. 


"Kenapa gak masuk? Apa pestanya sudah selesai?" tanya pria itu. 


Gadis itu menggeleng tanpa suara. Sama seperti  yang lain, penampilan pria yang berdiri di depannya itu juga cool daan dipastikan orang kaya. 


"Nungguin pacar?" tanya nya lagi. 


Gadis itu menggeleng lagi. 


"Kamu bisu?" terka pria itu. 


"Enak saja, aku bisa bicara," bentak nya dengan suara lantang. 


Pria itu menahan tawa, ternyata orang yang dikira bisu itu memiliki suara yang merdu saat berteriak. 


"Kenalkan, namaku Iqbal."


Iqbal mencoba mengulurkan tangannya pada gadis berhijab itu, namun diabaikan begitu saja. 


"Namaku Kirana," ucapnya membuang muka. 


Tanpa izin Iqbal menarik jilbab Kirana dan mengajaknya masuk. 

__ADS_1


__ADS_2