Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Saling berbohong


__ADS_3

Richard datang ke rumah delia. Seperti biasa. Pria itu terlihat tampan dengan baju yang rapi. Jas hitam yang membalut tubuhnya membuat ketampanan pria itu semakin bertambah. Berjalan melenggang menuju pintu utama. 


"Saya mau bertemu dengan tante Delia?" ucapnya pada penjaga yang berjaga di depan pintu.


Pintu terbuka. Richard masuk, berhenti di belakang pintu. Pandangannya menyapu ruangan yang lumayan sepi. Ada dua pelayan berlalu lalang membersihkan ruang tengah. 


Ia menoleh lagi ke arah penjaga. 


"Tante Delia di mana?'' bertanya tanpa mendekat. 


"Tuan silahkan duduk saja. Kalau Anda sudah ada janji nanti beliau akan keluar," ucap Brown ramah. 


Richard duduk di ruang tamu. Ia masih penasaran  tujuan Delia menyuruhnya datang. 


Tuan Aidin pasti membohongiku. Yakin bahwa Aidin sudah menipunya. Tapi berharap juga sih he he he


Deg 


Jantungnya kembali berdegup kencang saat mengingat kedekatannya dengan Cherly. 


Jangan jangan __"


Richard memotong ucapannya saat Delia keluar dari sebuah kamar. 


Ketakutan melanda, Richard takut panggilan itu ada hubungannya dengan dirinya dan Cherly yang memutuskan untuk berteman. Iya, mereka sudah berteman dan saling curhat lewat pesan.


Delia duduk di depan sang sekretaris. 


"Pa–pagi, Tante." Richard menundukkan kepalanya. Sedikitpun Tak berani menatap wajah Delia. 


"Pagi," jawab Delia singkat. 


Meletakkan kopi dari pelayan yang baru saja tiba. 


"Kamu pasti belum sarapan?" Delia melihat jam yang melingkar di tangannya.


Richard hanya tersenyum tipis.


"Ada perlu apa Tante menyuruh saya datang ke sini?" tanya Richard memberanikan diri, mengusir rasa takut yang memenuhi dadanya. 


"Aku cuma mau tanya. Apa kamu mau tahu tentang lokasi yang bagus digunakan untuk pesta pernikahan?"


Apa-apaan ini?


Richard mulai tak fokus dengan pertanyaan Delia. 


Ia mengingat ucapan Aidin tadi pagi. 


Mama mau ngawinin kamu dengan putri bungsunya. 


Apa ucapan tuan Aidin benar? Kenapa tiba-tiba tante Delia menanyakan tempat untuk pesta. 

__ADS_1


"Kamu dengar aku, kan?" Delia menjentikkan jarinya di depan Richard yang nampak melamun. 


"I–iya, Tante. Saya dengar kok," jawab Richard gagap. "Banyak, tapi saya gak tahu tempat seperti apa yang diinginkan Cherly." 


Delia yang baru saja menyeduh teh itu menyemburkan nya kembali. Ia terkejut dengan ucapan Richard yang menyebut nama putrinya. 


"Kok Cherly?'' tanya Delia antusias. 


Kedua bola mata Richard membulat sempurna. Tangannya bergegas  mengambil tisu dan menyodorkannya di depan Delia. 


Lalu siapa? Begitulah pertanyaan selanjutnya yang hanya tertahan di kerongkongan. 


"Ini pernikahan Hanif, bukan Cherly?" terang Delia. 


Untung aku gak keceplosan. Awas saja, hari ini aku akan membalasmu. 


Tak peduli siapapun itu, Richard terlanjur naik pitam dan akan membalas perbuatan orang yang menipunya. 


Setelah mendapat tempat yang tepat dan sesuai selera Hanif, Richard pamit undur diri. Ia menolak tawaran Delia yang menyuruhnya untuk sarapan.


Namun, langkahnya berhenti saat Cherly, yang baru saja turun dari tangga itu memanggilnya. 


Gadis yang masih berseragam biru putih itu tampak cantik dengan bajunya yang tertutup. Meskipun di jaman yang modern, Ia patuh dan mengikuti jejak sang kakak untuk menjadi wanita muslimah. 


"Apa aku boleh ikut, Kak? Cuma sampai depan."


Richard tak berani menjawab, ia menatap Delia. Itu artinya meminta persetujuan wanita tersebut. 


Richard sudah jelas pria baik-baik, tapi Delia tidak bisa membiarkan begitu saja Cherly dekat dengannya. Bukan karena status mereka berbeda, akan tetapi, mereka sama-sama lajang. 


"Gak papa, Ma. Cuma sampai depan aja." Cherly sedikit mendesak. 


Terpaksa Delia menyetujui, namun memberi peringatan pada Richard untuk tidak macam-macam. 


"Turun di mana?" tanya Richard yang mulai melajukan mobilnya. 


Cherly tak menjawab. Ia memilih sibuk dengan ponsel di tangannya. 


"Turun di mana, Cher?" tanya Richard untuk yang kedua kali.  


"Di sekolahan, Kak."


"Apa?" Richard sedikit terkejut. Tadi ia mendengar dengan jelas saat Cherly akan menumpang sampai depan, sekarang bersilat lidah dan memintanya mengantar ke sekolahan. 


Bukan keberatan, Richard hanya takut Delia salah paham padanya. 


"Izin tante Delia dulu. Aku gak mau disalahkan." Richard memelankan laju mobilnya. Ia mulai panik dengan sikap Cherly yang meremehkan peringatan mamanya. 


"Gak usah, Kak. Mama pasti ngerti," tolak Cherly. 


Richard tak tinggal diam. Ia menghubungi Zahra dan mengatakan pada wanita itu tentang permintaan Cherly. 

__ADS_1


"Gak papa, anterin saja, dia kan calon bini mu." Bukan Zahra yang menjawab melainkan Aidin, pria yang tadi pagi hampir membuatnya malu. 


Richard segera menutup sambungannya, telinganya panas jika mendengar suara pria itu. Terpaksa ia mengantar Cherly hingga di depan sekolahan. 


Keduanya saling melambaikan tangan. Richard menatap punggung Cherly yang mulai menjauh. Kemudian pergi menuju ke arah kantor. 


Sesampainya, ia langsung masuk menghampiri Aidin yang sudah tiba lebih awal. 


"Selamat pagi, Tuan," sapa Richard ramah. 


Keduanya saling berhadapan dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Jika Richard marah karena sudah ditipu mentah-mentah, Aidin marah karena panggilannya ditolak hingga tiga kali, dan itu sungguh membuatnya merasa tak dihargai. 


"Apa maksudmu menolak panggilan ku?" Aidin bertanya dengan nada datar.


"Tadi pagi saya ke kamar mandi. Jadi gak bisa menerima telepon," jawab Richard berbohong. 


Pintu lift terbuka. Mereka berjalan saling beriringan. Permusuhan masih berlanjut. Aidin tidak percaya dengan jawaban yang menurutnya tak masuk akal. 


"Kamu berani berbohong padaku?" pekik Aidin tak terima. 


Richard menelan ludahnya dengan susah payah, ternyata membohongi Aidin tak semudah yang ia kira. 


"Maaf, Tuan. Tadi pagi saya masih malas bangun. Dan saya gak lihat kalau itu adalah Tuan." Terpaksa Richard menjawab jujur. 


Ia tidak mau dipecat hanya karena masalah sepele. Pekerjaan itu sangat penting. Ia masih harus mengumpulkan banyak uang untuk biaya pernikahan. 


"Bagaimana urusanmu dengan mama?"


Richard tersenyum menyeringai. 


"Saya sudah mendapatkan tempat yang pas, dan Cherly sangat menyukainya." 


Aidin mengerutkan alisnya. 


"Cherly atau kak Hanif?" Aidin beranjak dari duduknya menghampiri Richard yang mematung di belakang pintu. 


"Iya, Tuan. Tante Delia juga akan menikahkan saya dengan Cherly, dan beliau akan menggelar pesta yang sangat besar dan mewah," jelas Richard. 


"Kamu tidak membohongiku, kan?" 


"Tidak, Tuan," jawab Richard meyakinkan. Demi sebuah balas dendam ia melupakan pekerjaan yang harus dipertahankan. Bodo amat, yang penting bisa membalas perbuatan Aidin.


"Saya permisi, Tuan." 


Richard keluar dari ruangan Aidin dengan menahan tawa melihat reaksi pria itu. 


"Ini yang bener yang mana sih?" 


Aidin yang merasa kebingungan  menghubungi Zahra. Sebab, hanya wanita itu yang tahu tentang kebenarannya. 


Setelah mendapat penjelasan dari sang istri, Aidin menggebrak meja dan berteriak memanggil nama sekretarisnya. 

__ADS_1


"Aku pastikan kamu menjadi bujang lapuk."


__ADS_2