Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Ragu


__ADS_3

"Ngapain dia kesini?" Kirana menutup pintunya lagi saat melihat seseorang yang ada di halaman rumahnya. Pria tampan yang ia hindari justru mengikutinya terus menerus seperti hantu. 


"Siapa, Ki?" tanya Bu Nuri yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.


Aku harus bilang apa pada ibu?


Kirana masih bingung, sejak pertemuannya di pesta ulang tahun pernikahan Aidin dan Zahra, Iqbal memang sering menemuinya di restoran. Awalnya Kirana menganggap pria itu hanya iseng belaka. Namun, kini Iqbal malah datang ke rumahnya. Bukankah itu sudah sangat serius?


Kirana menggiring ibunya ke kamar dan mendudukkan di tepi ranjang. Alih-alih ketakutan dan menutup gorden.


"Ibu jangan keluar, kayaknya di depan ada perampok yang mengawasi rumah kita." Kirana mengucap dengan nada berbisik sambil mendaratkan jarinya di bibir, memberi kode pada sang ibu untuk diam. 


"Masa sih?" Bu Nuri tak percaya dengan ucapan Kirana. Puluhan tahun ia tinggal di rumah itu, dan sekalipun tak pernah ada orang yang seperti diucapkan putrinya. 


"Beneran, Bu. Aku gak bohong." Berpura-pura memasang wajah cemas. Mengelabui ibunya memang tidak mudah, tapi itu sering dilakukan Kirana saat ada seseorang yang tidak disukai datang mencarinya.


Bu Nuri semakin curiga dengan sikap aneh Kirana. Tak biasanya gadis itu penakut, yang ia tahu selama ini pemberani, bahkan depkolektor yang dulu sering menagih hutang dan mengancamnya pun dilawan. 


"Dari mana kamu tahu kalau orang itu perampok?" tanya Bu Nuri menyelidik. 


Sebagai seorang ibu, ia tak bisa dibohongi begitu saja. Otaknya lebih licik daripada putrinya yang baru menetas. 


Dari mana ya? 


Kirana memutar otaknya. Mencari jawaban yang tepat untuk membuat ibunya percaya. 


Tin tin 


Suara klakson kembali menggema. Bu Nuri penasaran, terpaksa membuka jendela kamar yang langsung menghubungkan dengan halaman. 


Ia melihat pria tampan yang bersandar di samping mobil. 


"Kalau perampoknya setampan itu gak papa dia masuk. Biarkan dia merampok hati ibu." 


Eh


Kirana terkejut dengan kata-kata ibunya yang sedikit konyol. 

__ADS_1


"Maksud Ibu, apa?" tanya Kirana menarik ibunya yang belum juga menutup gorden. 


"Ibu mau menghianati ayah yang sudah meninggal?" imbuhnya tak terima. 


Bu Nuri menggeser tubuh Kirana, ia berdiri di depan meja rias. Menatap wajahnya dari pantulan cermin. 


"Ibu masih sangat muda, dan ibu yakin masih laku. Memangnya kenapa kalau ibu menikah lagi?" ucapanya penuh percaya diri.


"Kalau bapak tirimu orang kaya kita bisa hidup enak dan tinggal di rumah mewah."


Umurnya Bu Nuri baru menginjak kepala empat, ia memang masih sangat cantik, bahkan belum ada kerutan sedikitpun di wajahnya, dan itulah yang membuat membandingkan dengan putrinya. 


Kirana mengepalkan kedua tangan, geram dengan ibunya yang selalu genit begitu saat melihat yang bening. 


Apalagi Iqbal tak sekedar tampan dan mempesona, pria itu juga kaya yang pasti banyak wanita yang terpikat. 


"Pokoknya ibu gak boleh menikah lagi!" tolak Kirana kesal. Ia keluar dan mengunci pintu kamar dari luar yang membuat Bu Nuri cekikikan. 


Siapa yang mau menikah lagi, Ki. Ibu hanya memancing kamu supaya cepat menerima laki-laki di hidupmu.  


Kirana membuka pintu depan. Menghampiri Iqbal yang tak pindah dari tempatnya. Hari sudah semakin gelap, tapi pria itu tak menyerah juga dan tetap berdiri di depan rumahnya. 


"Kamu ngapain ke sini, aku sudah bilang jangan ikuti aku?" Kirana membuang muka ke arah lain. 


"Aku ke sini mau bertamu, apa salahnya?" 


"Gak salah, masuk saja," teriak bu Nuri dari dalam kamar. Melambaikan tangannya ke arah Iqbal. 


Kirana terbelalak melihat aksi ibunya yang sangat genit. Menutup mata Iqbal dengan kedua telapak tangannya. 


"Lebih baik kamu pulang saja, nanti ibu marah." Kirana mendorong tubuh Iqbal, namun pria itu tak pantang menyerah. Sudah jelas wanita yang ada di  balik jendela itu menyuruhnya masuk, namun Kirana malah sebaliknya. 


"Kata siapa marah? Ibu kamu tersenyum tuh." Iqbal menurunkan tangan Kirana. Membalas lambaikan tangan bu Nuri. Sepertinya ada lampu hijau yang mulai menyala, dan itu akan memudahkan rencananya. 


Iqbal membuka pintu mobil. Bukan ingin masuk, melainkan mengambil sesuatu dari sana. Lalu membawanya masuk ke rumah, tak peduli dengan Kirana yang mengusirnya. 


"Buka pintunya, Ki! Kamu mau jadi anak durhaka," teriak bu Nuri sambil menggedor-gedor pintu kamarnya. 

__ADS_1


Kirana berjalan pelan lalu membukanya. Tak mungkin ia membiarkan ibunya terkurung di kamar dalam waktu yang lama. Pasti akan murka. 


"Kalau kamu gak mau sama dia," Menunjuk Iqbal yang mematung ambang pintu. "biarkan sama ibu saja," lanjutnya. 


Sedikitpun Iqbal tak kaget, justru ia semakin tertantang antara ibu dan anak tersebut. 


Bu Nuri menghampiri Iqbal dan menyuruhnya duduk. Menyapanya dengan ramah dan lemah lembut. 


Kirana semakin kesal. Ia memilih ke kamar dan tak mau menemui Iqbal yang mulai berbincang dengan Ibunya.


Hampir lima belas menit, Kirana tak kunjung keluar. Iqbal merasa diabaikan oleh gadis itu. Kedatangannya benar-benar tak disambut dengan ramah. Beruntung Bu Nuri masih peduli yang membuat Iqbal betah. 


"Sebentar ya, ibu panggilkan Kirana dulu." Bu Nuri beranjak dari duduknya. Ia meninggalkan Iqbal yang mulai gelisah.  Takut Kirana tak nyaman dengan kedatangannya. 


Bu Nuri masuk ke kamar Kirana tanpa mengetuk pintu. Duduk di samping sang putri yang nampak termenung. 


"Sebenarnya kamu kenapa sih?" Bu Nuri mengusap bahu Kirana. Ia khawatir dengan putrinya yang sering menolak laki-laki. 


"Gak kenapa-napa, Bu? Aku cuma capek saja," jawabnya asal. 


Bu Nuri menghela napas panjang. "Iqbal orangnya baik, ibu lihat dia juga serius, sebenarnya laki-laki yang seperti apa kriteria mu?"


Setelah sekian lama hanya bercanda, kali ini bu Nuri berbicara serius dan menunjukkan sikap sebagai seorang ibu. 


Kirana menoleh ke arah ibunya. Mereka saling bertatap muka. 


"Aku takut kecewa, Bu. Aku takut mas Iqbal hanya mempermainkanku saja. Dia itu orang kaya, mana mungkin tulus mencintaiku yang orang miskin."


Bu Nuri tertawa lalu menoyor kening Kirana. Ia tak mengerti jalan pikiran gadis itu. 


"Kalau pikiranmu seperti itu terus, semua laki-laki akan menjauhimu. Ayolah, setidaknya mencoba. Kamu itu sudah dewasa, sudah saatnya berumah tangga. Mau sampai kapan kamu seperti ini terus, mau menjadi perawan tua?" cibir Bu Nuri. 


Kirana berdecak kesal. Ia semakin bingung untuk memutuskan. 


"Sekarang temui dia, ajak makan." Menepuk tangan Kirana dan meninggalkannya pergi. 


Setelah mencerna setiap ucapan ibunya, Kirana membuka pintu dan keluar. Ia duduk di depan Iqbal, berseberangan dengan meja.

__ADS_1


Hening


Iqbal hanya bisa menatap wajah cantik Kirana, sedangkan gadis itus sendiri memilih untuk menundukkan kepalanya.


__ADS_2