
Aidin beruntung masih memiliki kakak yang sangat penyayang. Disaat dirinya rapuh bisa memberikan bahu untuk bersandar. Membagi kekuatan untuk terus bisa berjalan meskipun halangan terus melintang.
"Tenangkan diri kamu, kita ke ruangan papa."
Menggiring tubuh lemah sang adik menuju lift. Namun, Setibanya di tengah jalan mereka bertemu dengan bu Lilian dan beberapa tim medis.
"Papa di mana, Ma?" tanya Aidin cemas.
"Baru saja di bawa ke ruang operasi." Seketika itu juga Aidin berlari menghampiri dokter yang hampir membawa pak Herman masuk.
Senyum mengembang di sudut bibir pria yang berbaring di atas brankar. Mengusap lembut tangan Aidin yang memeluknya.
"Aku akan selalu berdoa untuk papa. Cepat sembuh. Zea dan Zahra menunggu, Papa."
Pak Herman hanya mengangguk sembari tersenyum. Melihat Aidin dan Darren ada di sampingnya serta kehadiran kedua cucunya sudah cukup memberikan dukungan. Hanya mereka yang mampu membangkitkan semangatnya.
Setelah pintu tertutup rapat, kedua pria itu memeluk bu Lilian menenangkan untuk tetap yakin dan tidak perlu khawatir.
"Keysa dan Shireen ikut?" tanya bu Lilian.
"Ikut dong, Ma. Mereka ingin menjenguk Zea dan tante Zahra. Kalau tidak sekarang kapan lagi, pasti Aidin pulangnya masih lama."
Mengingat umur Zea yang baru dua hari, Aidin harus berpikir ulang dan rencananya akan mencari tempat tinggal baru di Sydney.
Di kamar lain
Zahra sedikit gusar, dalam hati terus berdoa untuk pak Herman yang saat ini bertaruh nyawa. Sudah hampir dua jam Aidin pergi, namun pria itu tak menghubunginya ataupun mengirim pesan.
"Kamu kenapa, Nak?" James yang baru datang bisa membaca kegelisahan wanita itu.
"Mas Aidin belum memberi kabar tentang keadaan papa, aku takut terjadi sesuatu yang buruk."
Delia ikut mendekat. "Bagaimana kalau kita ke ruang pak Herman saja."
Zahra bergegas turun dari ranjang. Duduk di kursi roda yang sudah disiapkan James. Menitipkan Zea pada suster yang berjaga sebelum pergi.
"Lurus saja, nanti belok kiri, itu ruang operasi Tuan Herman." Setelah mendapatkan petunjuk, James kembali mendorong kursi Zahra. Hingga tiba di sebuah lorong, langkahnya terhenti saat melihat Aidin sedang menggendong bayi. Bahkan Aidin terus menciumi bayi itu tiada henti.
__ADS_1
Senyum yang dari tadi terukir kini meredup. Matanya berkaca-kaca melihat kebahagian suaminya bersama bayi mungil lain.
Apa itu Fathan, ternyata mas Aidin sangat menyayangi anak Amera.
Tidak ingin mengganggu momen penting suaminya, Zahra meminta kembali ke ruangannya tanpa bertemu dengan Aidin maupun bu Lilian yang sudah terlihat di depan mata.
"Kenapa kembali? Bukankah tadi Aidin dan mamanya?" Delia pura-pura tak mengerti.
"Gak papa, Ma, nanti saja kalau papa sudah selesai operasi."
Hampir saja masuk ke sebuah lift, suara Teriakan dari belakang membuat Zahra menoleh. Senyumnya kembali mengembang melihat sosok wanita yang berlari kecil ke arahnya.
"Kaka Keysa, kak Darren, kalian __"
Keysa berhamburan memeluk Zahra. Berbulan-bulan tak bertemu membuatnya rindu setengah mati, bahkan sempat menyuruh sang suami untuk menjelajah mencarinya, namun usaha mereka hanya sia-sia dan tak membuahkan hasil.
"Mas Darren mencarimu sampai ke lubang semut, ternyata kamu di sini." Mengusap punggung Zahra tanpa melepas pelukannya.
Darren dan Delia serta James hanya bisa menyaksikan adegan yang mengharukan itu. Meskipun mereka bukan saudara kandung, Keysa begitu akrab dengan Zahra, wanita yang menjadi panutan nya selama ini.
"Mana keponakanku, Dek?"
Zahra menghentikan ucapannya, tidak mungkin mengatakan tentang apa yang dilihat tadi.
"Ngomong-ngomong, di mana anak kakak?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
"Sama om nya, dia itu kalau lihat Aidin gak mau lepas, sampai terkadang papanya cemburu."
Delia dan James tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Tak ubahnya Zahra, meskipun sudah berulang kali mencoba dipisahkan tetap saja bersatu seperti magnet.
Jadi tadi anaknya kak Keysa, bukan Fathan. Aku sudah berburuk sangka pada mas Aidin.
"Aku mau bertemu mas Aidin."
Zahra mengurungkan niatnya untuk pergi, selain khawatir dengan keadaan pak Herman, juga ingin bertemu dengan putri dari kakak iparnya.
Tak seperti tadi, kali ini Aidin langsung sadar kehadiran Zahra. Ia beranjak menyambut kedatangan wanita itu.
__ADS_1
"Ngapain ke sini, sebentar lagi aku akan ke ruangan kamu. Papa sudah selesai dioperasi, aku hanya menunggu kakak Darren datang." Aidin menjelaskan panjang lebar pada Zahra.
"Kayaknya tadi Zahra bilang mau kesini tapi gak jadi, kenapa?" ceplos Keysa yang langsung mendapat cubitan dari Darren. Kebiasaan istrinya itu bicara tanpa rem. Tidak melihat situasi dan kondisi.
Zahra menundukkan kepala, tidak mungkin mengatakan bahwa karena bayi mereka lah yang membuatnya mengurungkan niat untuk bertemu sang mertua.
Aidin berjongkok mensejajarkan wajah Shireen dan sang istri.
"Sayang, lihatlah! Ternyata gak cuma anak kita, tapi anak kak Keysa juga mirip dengan kamu."
Zahra mengulurkan tangannya ke arah sang keponakan, namun seketika itu Aidin melarangnya untuk menggendong Shireen karena keadaannya yang masih lemah.
"Aku gak mau kamu kenapa-napa. Bocah tengil ini banyak tingkah, takutnya nanti kamu kelelahan."
Sudah terbukti, Shireen bahkan beberapa kali menjambak rambut Aidin juga mencakar pipi pria itu. Kedua kakinya terus menendang ingin turun. Bagaimana jika ada di tangan Zahra yang baru melahirkan, pasti akan membuatnya kewalahan.
"Sorry ya Shireen, setelah ini om gak akan lagi ngajak kamu, karena om udah punya bidadari Zea, dia lebih cantik dan anteng, gak seperti kamu yang kecentilan."
Sontak bayi mungil itu menangis. Kedua tangan mungilnya memeluk tubuh Aidin dengan kepala bersandar di dada bidang sang paman. Seolah-olah tak ingin berpisah dengannya.
"Mas, anak kecil itu lebih peka dari kita orang dewasa. Setiap perkataan pasti di masukin hati, jadi jangan sembarangan," tegur Zahra, tak tega mendengar jeritan bayi tersebut.
"Om cuma bercanda, Sayang." Bu Lilian mengusap lembut cucunya kemudian menghampiri Zahra.
"Maaf ya, Mama belum bisa menemani kamu, nanti kalau papa sudah sembuh, mama akan luangkan waktu untuk kamu dan Zea."
Itu yang Zahra rindukan dari ibu mertuanya. Dalam keadaan apapun selalu mementingkan kebahagiaannya. Bahkan kasih sayang yang belum diberikan ibu kandung sudah didapatkan dari wanita itu. Tak pernah menyangkal jika ia lebih nyaman berada di tengah keluarga Adijaya daripada Adinata.
"Aku antarin kamu ke kamar ya, di sini suasannya kurang baik."
Zahra menatap mata Aidin yang nampak sembab dan memerah seperti orang yang baru saja menangis. Lalu mengangguk setuju.
Meninggalkan tempat itu hanya berdua. Sebab, Delia dan James berbincang dengan Bu Lilian dan Darren.
"Sepulang dari sini kamu mau tinggal dengan ku, 'kan?" tanya Aidin ragu. Masih takut Zahra akan menolak.
Hampir lima menit Zahra tak menjawab membuat Aidin was-was.
__ADS_1
"Aku jawabnya nanti saja. Kalau kita sudah sampai di kamar."