
Hampir seharian penuh, Zahra menghabiskan waktunya di luar bersama dengan Delia dan James. Setelah sekian lama saling memendam rasa yang bergejolak, akhirnya mereka bisa melepas rindu tanpa ada halangan. Bahkan James sebagai ayah tiri juga mendukung kehadiran Zahra. Pria yang dipanggil papa itu hanya bisa mengungkap kebahagian dalam hati melihat Delia yang terus mengulas senyum.
Saat ini Zahra berada di restoran setelah tadi puas berkeliling pusat perbelanjaan bersama dengan Kirana, namun gadis itu segera pergi setelah mendapat telepon dari kakaknya.
''Seandainya kau mau tinggal di rumah, pasti mama mu gak akan kesepian.'' James menghabiskan minumannya yang tinggal sedikit.
''Tapi aku punya suami, Pa. Tidak baik tinggal di rumah mama.'' Mengucap kata suami, Zahra teringat dengan Aidin di kantor.
''Astagfirullah, Ma. Aku harus pergi sekarang."
Zahra buru-buru meraih tas nya dan beranjak.
''Kamu mau pergi ke mana?'' Delia ikut beranjak.
''Aku harus ke kantor mas Aidin, dia pasti menungguku.'' Walaupun itu tidak mungkin, setidaknya memberi alasan yang masuk akal pada mama dan papa tirinya.
''Tadi aku sudah janji akan membawakan makan siang, tapi ini sudah sore.'' Melihat lagi jam yang melingkar di tangannya. Ternyata benar, sudah hampir jam tiga. Itu artinya jam makan siang sudah lewat.
''Mama akan antar kamu.'' Delia mencium kedua pipi James bergantian. Setelah itu mengikuti langkah Zahra keluar dari restoran.
James hanya geleng-geleng kepala melihat perubahan Delia yang terlihat sangat bahagia.
Akhirnya kau bisa bersatu dengan Zahra.
James membayar makanannya, setelah itu pergi menyusul Delia dan Zahra.
Mereka berpisah di parkiran karena saat ini Delia ingin berduaan dengan Zahra sebelum berpisah lagi. Sedangkan james pergi dengan pengawalnya untuk mengurus pekerjaan.
Sepanjang perjalanan, Delia dan Zahra masih saling bercanda membahas hal-hal yang konyol.
''Kenapa kamu masih menerima Aidin?'' tanya Delia yang sukses membungkam bibir Zahra.
Wanita itu tersenyum. Terkadang ia lelah dan ingin menyerah, namun jauh di lubuk hati yang terdalam terus mendorongnya untuk tetap bersama dengan pria itu.
''Selama ini aku sudah egois, Ma. Mas Aidin selingkuh, tapi aku sibuk menyalahkan dia, dan sekarang aku sadar, kalau mas Aidin juga butuh dorongan supaya bisa melepaskan selingkuhannya. Aku akan berjuang untuk menyadarkan dia menjadi laki-laki yang lebih baik lagi."
"Tapi Bagaimana jika dia tetap tidak bisa mencintaimu?''
__ADS_1
Delia seakan mengulang pertanyaan Kirana tadi pagi.
''Aku akan pergi darinya. Aku akan ikhlaskan mas Aidin hidup dengan perempuan lain. Setidaknya aku sudah berusaha membuatnya kembali ke jalan yang benar. Jika kami tetap bercerai, itu artinya dia memang bukan jodohku.''
Hati Delia terenyuh mendengar ucapan putrinya. Seandainya ia yang ada di posisi Zahra, tidak mungkin sanggup dan memilih pergi untuk mencari lelaki yang lebih baik lagi.
''Pintu rumah mama akan selalu terbuka untuk kamu, pulanglah jika kamu sudah tak tahan dengan sikap Aidin.''
Zahra menganggukkan kepala dengan berat, karena sampai detik ini pun cintanya masih untuk pria itu.
Tanpa terasa mobil yang dikemudi Delia membawa mereka di depan gedung milik Pak Herman.
Zahra meraih makanan yang tadi di bawa dari restoran lalu turun. Mereka saling melambaikan tangan hingga mobil Delia kembali melaju berhamburan dengan kendaraan lain.
Suasana gedung masih sangat ramai. Banyak karyawan yang keluar karena sudah waktunya pulang.
Zahra langsung berjalan menuju lift tanpa bertanya pada resepsionis.
Setibanya di lantai atas, seorang wanita menghampiri Zahra yang baru keluar dari pintu lift.
''Saya mau bertemu mas Aidin." Zahra menatap pintu ruangan pak Herman dan Aidin secara bergantian.
Menunjuk pintu ruangan pak Herman.
Semoga mas Aidin bisa memegang amanah besar ini. Semoga Allah selalu memberi kelancaran padanya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Zahra langsung ke ruangan sang mertua yang sekarang menjadi ruangan suaminya.
Tanpa mengetuk pintu, ia masuk. Matanya menatap Aidin yang masih sangat sibuk dengan dokumen yang ada di depannya. Bahkan seperti tak menyadari kedatangannya.
Zahra sengaja berjalan pelan dan meletakkan makanannya di atas meja sofa, setelah itu menghampiri Aidin.
"Jangan terlalu serius." Mengusap bahu Aidin dengan lembut yang membuat sang empu kaget.
''Kamu?'' pekik Aidin bingung. Melihat mata Zahra yang nampak menggodanya.
"Kamu sama siapa?'' tanya Aidin menatap pintu yang tertutup rapat.
__ADS_1
"Sendiri, naik taksi online."
Maaf ya, Ma. Aku gak mungkin bilang ke mas Aidin kalau mama yang nganterin.
Aidin melihat jam yang melingkar di tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Seharusnya kamu gak usah ke sini, Za. Ini sudah jam pulang," kata Aidin dengan tegas.
Zahra tak peduli, ia malah meraih pulpen yang ada di tangan Aidin lalu duduk di pangkuan pria itu. Menghirup dalam aroma parfum yang bercampur keringat lalu menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
"Aku mau pulang dengan kamu. Aku ingin mama dan papa melihat kita rukun dan romantis. Bukankah itu akan sedikit membantu papa supaya cepat sembuh?" Mendongakkan kepalanya menatap wajah Aidin yang nampak dipenuhi amarah.
Tapi aku sudah janji dengan Amera, Za. Bagaimana kalau dia marah.
Aidin hanya bisa berbicara dalam hati, tidak mungkin ia mengatakan itu di depan Zahra yang pasti akan membuat keadaan semakin kacau.
"Oh iya, tadi aku bawa makanan untuk kamu." Zahra mengambil makanan yang ia bawa lalu membukanya. Tak menunggu waktu, ia langsung menyuapi Aidin.
''Sambil dengerin kajian lebih seru.'' Menyalakan ponselnya tentang ceramah seorang ulama' besar.
Hukuman bagi seseorang yang melakukan zina adalah dengan rajam atau dilempari batu sampai mati. Sedangkan pada pelaku yang belum menikah, hukuman zina diganti dengan hukum cambuk sebanyak 100 kali serta diasingkan selama satu tahun.
Kalau dia setelah berzina langsung bertaubat kepada Allah, menyesal dan menangis karena perbuatannya, tetap bisa diampuni Allah," kata Ulama' itu. Kemudian menjelaskan, yang dimaksud dari dosa zina yang tidak diampuni oleh Allah.
Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa. Wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa, lanakuunanna minal khoosiriin. Artinya, “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri sendiri. Jika Kau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk hamba-Mu yang merugi,” Surat Al-A'raf ayat 23.
Seketika itu sekujur tubuh Aidin dipenuhi dengan keringat dingin. Bahkan, makanan yang dikunyah bermenit-menit tak sanggup ia telan karena kerongkongannya yang menyempit.
Maafkan aku, Mas. Mungkin dengan seperti ini kamu bisa sadar dan kembali ke jalan yang benar.
''Kamu menyindirku?'' Aidin meraih ponsel milik Zahra dan mematikannya. Meneguk air putih yang ada di depannya hingga kandas.
"Aku tidak menyindirmu. Aku memang sangat menyukai ceramah itu, setidaknya mengingatkan mereka yang suka selingkuh."
Skak
Aidin tak bisa berkutik lagi dan memilih diam.
__ADS_1