Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Perubahan Zahra


__ADS_3

"Oh iya mbak, aku mau beli yang ini, ini, dan ini." Zahra menunjuk beberapa baju mahal yang ada di belakang pelayan. Kemudian mengeluarkan kartu yang diberikan oleh Aidin untuk membayarnya. Melirik sekilas ke arah Amera yang menatap nya dengan penuh kebencian. 


Wanita itu tak bisa berbuat apa-apa mengingat itu adalah tempat umum. Tidak mungkin ia ikut memamerkan kartu miliknya yang juga pemberian Aidin, takut Zahra akan membongkar jati dirinya yang hanya berstatus wanita selingkuhan. 


Setelah selesai, dia langsung menghampiri Aidin dan mengajaknya pulang. 


"Sudah?" tanya Aidin menatap empat paper bag yang ada di tangan Zahra. Sepertinya tak menyadari ada Amera di toko itu dan langsung pergi begitu saja tanpa menolak ajakan sang istri. 


"Kok banyak banget, memangnya itu baju apa?" Menyungutkan kepalanya ke arah jok belakang, di mana Zahra meletakkan barang-barangnya. 


"Baju setan," ucap Zahra ketus seraya memasang seatbelt. 


Aidin mengernyitkan dahinya. "Baju setan?" Mengulangi kata Zahra yang baru saja ia dengar. 


"Iya, itu adalah baju setan jika dipakai seorang wanita saat di depan suami orang. Namun, itu akan menjadi baju pahala jika dipakai seorang istri di depan suaminya sendiri," terang Zahra lugas.


Zahra menjelaskan secara detail, namun belum juga dimengerti oleh pikiran Aidin yang sedikit cetek. 


Bu Lilian dan pak Herman menyongsong  kedatangan Zahra dan Aidin di depan teras. Mereka terlihat rapi dengan baju yang senada. Bukan hanya itu, Pak Herman juga tak memakai kursi roda lagi.


"Papa dan Mama mau ke mana?" tanya Zahra mencium punggung tangan mereka bergantian. Lalu melihat Darren yang juga ada di sana. 


Aidin menyusul dengan barang belanjaan Zahra, tak seperti biasanya yang selalu protes, kali ini pria itu nampak santai meskipun terlihat kerepotan. 


"Sekalian kami mau pulang," imbuh bu Lilian. 


Zahra hanya ber Oh ria, itu artinya ia tak bisa lagi mengancam Aidin, dan suasana rumah akan kembali sepi seperti semula. 


"Besok mama akan kirim pembantu ke rumah ini. Kamu jangan terlalu capek, jaga kesehatan. Mama gak bisa jagain kamu setiap hari." Mengusap pundak Zahra lalu memeluknya. 


"Itu apa, Din. Banyak banget?'' tegur pak Herman penasaran.


"Ini camilan dan baju Zahra, Pa. Tadi pas pulang dia mampir belanja," jelas Aidin tanpa ragu. 

__ADS_1


Pak Herman tersenyum puas. Dan yakin akan meninggalkan mereka berdua. "Jaga Zahra dengan baik, sekali lagi kamu menyakitinya, jangan panggil aku papa." 


"Muliakan seorang istri, maka Allah akan memuliakan derajatmu kelak. Memperlancar cara kamu untuk mencari rezeki dan mempermudah segala urusanmu," imbuh bu Lilian. 


Sebuah peringatan keras dan wejangan  yang membuat bulu halus Aidin merinding. 


Kini Zahra hanya bisa melambaikan tangannya saat mobil yang ditumpangi bu Lilian dan pak Herman mulai meninggalkan rumah Aidin. Meskipun ia merasa berat, keputusan mereka tak bisa diganggu gugat, ia juga tak ingin Aidin merasa tertekan dengan keberadaan mereka. 


"Malam ini kamu mau makan apa, Mas?" Zahra mengikuti langkah Aidin dari belakang. 


"Terserah kamu saja." Aidin meletakkan barang-barang belanjaannya di sofa lalu ke kamar. Sedangkan Zahra langsung ke belakang untuk memulai ritual memasak. 


Tak berselang lama, bel berbunyi menghentikan aktivitas Zahra. Ia membuka  tirai jendela yang menghubungkan langsung ke pintu depan. Betapa terkejutnya melihat wanita yang beberapa waktu lalu ia temui di toko baju. 


"Ngapain dia ke sini?" gumam Zahra sembari mematikan kompor. Menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat, dan meyakini bahwa Aidin sedang mandi. 


Terpaksa Zahra yang membukanya. ''Mau apa kau ke sini?'' Ia membuka pintu selebar tubuhnya. Menatap penampilan Amera dari atas hingga bawah. 


''Aku mau ketemu  Aidin, di mana dia?'' tanya Amera ketus. 


Amera tersenyum sinis. ''Aku rasa kamu sudah tahu tujuanku datang ke sini.'' 


Zahra teringat dengan lipstik yang ada di bibir Aidin, kemudian ikut tersenyum. 


''Memangnya aku wartawan yang harus tahu urusan orang lain. Lagipula ada urusan yang lebih penting daripada ngurusin perempuan macam kamu.'' 


Amera menghentak-hentakan kakinya, kesal. Lalu berteriak memanggil nama sang kekasih. 


Aidin yang baru dari kamar mandi bergegas keluar saat mendengar suara teriakan dari arah depan. Ia berjalan menghampiri Zahra yang masih berdiri di ambang pintu. 


"Ada apa ini?" Membuka pintu lebih lebar lagi. 


Amera berhamburan memeluk Aidin, namun segera dihalangi oleh Zahra. 

__ADS_1


"Amera! Ngapain kamu datang ke sini?" tanya Aidin bingung. Menggeser tubuh Zahra yang berdiri di depannya. 


"Aku kangen kamu." Merentangkan kedua tangannya, namun tak langsung diterima baik oleh Aidin. Telinganya masih terngiang-ngiang ucapan pak Herman dan Bu Lilian. 


Zahra memilih kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya. Membiarkan Aidin berbincang dengan wanita itu. 


Aku harap kamu bijak dalam memilih. Hidup tanpa kedua orang tua yang lengkap itu sakit, dan aku tidak mau terjadi pada anak kita. Cukup aku yang merasakan pahitnya di tiri kan. Jangan anak kita. 


Zahra mengusap perutnya dengan pelan. menatap Aidin dan Amera yang duduk di ruang tamu. Mereka terlihat bahagia seolah-olah tempat itu adalah miliknya. 


Suara tawa renyah tercipta. Sesekali Aidin memperhatikan Zahra yang menyusun makanan di ruang makan. 


"Sebaiknya kamu pulang, aku gak mau kedatanganmu menambah masalah," pinta Aidin yang membuat Amera merengut.  


''Apa ini karena Zahra?'' tanya Amera lantang. 


"Tidak, kamu tahu sendiri kan, papa tidak pernah main-main dengan ucapannya, dan aku takut dia kambuh lagi kalau mendengar kamu datang.'' 


"Baiklah, tapi kamu janji akan menemuiku."


Aidin mengangguk tanpa suara lalu mengantarkan Amera ke depan. Setelah itu menghampiri Zahra yang masih sibuk di ruang makan. 


Tak seperti biasanya yang langsung bertanya saat dirinya datang, kali ini Zahra membisu, bahkan seperti tak mengindahkan kehadirannya yang sudah duduk di kursi ruang makan. 


"Masak apa?" Aidin membuka suara. Mengabsen menu makanan yang tersaji di meja makan. 


Tidak ada jawaban, Zahra sibuk menuang jus ke dalam gelas lalu kembali ke dapur, dan itu sukses membuat jantung Aidin berdenyut nyeri. 


Seperti biasa, ruang makan itu terasa hening, hanya suara dentuman sendok dan piring yang saling beriringan. Tak sengaja Aidin melihat ada sebutir nasi yang tertinggal di sudut bibir Zahra. 


"Sejak kapan kau ceroboh saat makan." Mengusap bibir Zahra dengan tisu, namun tetap tak ditanggapi oleh wanita itu dan memilih untuk menghabiskan makanannya dengan cepat. 


''Apa aku boleh bicara?'' Setelah sekian menit, akhirnya Zahra angkat bicara. 

__ADS_1


''Boleh.'' Aidin bersiap mendengarkan ucapan Zahra. 


"Aku tidak akan melarangmu untuk bertemu Amera. Bagaimanapun juga dia adalah cinta pertamamu. Tapi tolong hargai aku sebagai istri kamu, Mas. Setidaknya jangan bawa dia ke rumah ini. Kecuali, aku sudah pergi dari hidupmu. Kamu bebas memasukkan perempuan manapun yang kamu mau."


__ADS_2