Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Hampir saja


__ADS_3

Aidin menceritakan pada keluarganya tentang apa yang diucapkan dokter Alfa. Hatinya kini gelisah memikirkan Zahra yang memiliki riwayat penyakit lambung. Sudah cukup perpisahan ini membuatnya tersiksa dan tak ingin kehilangan untuk selama-lamanya. 


"Seandainya terjadi sesuatu dengan Zahra, tidak mungkin Nyonya Delia diam saja."


Pak Herman berpikir positif. Ia tidak menceritakan apa yang dikatakan Delia malam itu, takut putranya semakin kacau. Biarlah tahu dengan sendirinya. 


Aidin membisu. Otaknya tak bisa berpikir jernih lagi. Saat ini ia hanya bisa melihat wajah Zahra dari layar ponsel. Sebab, itu yang mampu membuatnya tegar. 


Kembalilah, setidaknya aku bisa melihat wajahmu walau hanya sekali. 


"Apa kau sudah memberikan sampel pada dokter Fikri?" tanya Darren yang teringat tujuan sang adik untuk segera tes DNA.


Aidin hanya menjawab dengan anggukan kepala. 


"Papa sendiri bagaimana? Kapan kita ke Australia?" Mengusap punggung tangan pak Herman. 


"Tiga hari lagi, kamu temani papa ya," pintanya penuh harap. Entah kenapa ingin Aidin yang ada di dekatnya saat menjalani operasi itu. 


"Pasti. Sekarang kita pulang, papa harus istirahat sebelum perjalanan."


Aidin menarik tangan Darren dari belakang. "Kakak antar papa pulang, aku mau ke rumah mama Delia."


"Baiklah, hati-hati! Jangan sampai kamu melawan, kalau tidak diizinkan masuk lebih baik pergi, kakak gak mau kamu harus dirawat lagi."


Aidin mengangkat jempol, menenangkan keluarganya untuk tidak khawatir padanya yang pasti akan melawan bodyguard mertuanya. Lalu, menghubungi Richard, sepertinya kali ini butuh pria itu untuk menemaninya. 


Jika melihat pengawal yang berjaga di halaman rumah Delia, sudah dipastikan ia akan kalah, namun sedikitpun tak ada rasa takut. Keinginannya bertemu dengan Zahra terlalu besar sehingga mengalahkan semuanya. 


"Apa Tuan yakin akan masuk?" Richard membukakan pintu mobil. 


"Kalau aku hanya menunggu di sini, itu artinya gak akan bertemu dengan mama Delia," jawabnya ketus. Ia mendekati gerbang yang tertutup rapat dengan penjagaan yang ketat. 


"Buka gerbangnya! Aku ingin bertemu dengan mama Delia," teriak Aidin. 


Salah satu pengawal menghampirinya tanpa membuka gerbang. 


"Apa kau tidak ingat dengan pesan Nyonya. Kau dilarang masuk ke rumah ini, jadi pergilah atau akan pulang menjadi  mayat."

__ADS_1


Perkataan itu sudah menjadi hiasan bagi Aidin. Sedikitpun tak ada rasa takut jika ia harus pulang tak bernyawa, asalkan bisa bertemu dengan Zahra. 


"Bukan manusia yang membuat manusia mati, tapi Allah yang menentukan, jadi buka atau aku akan naik." 


Richard terkekeh. Semakin hari nada bicara Tuannya itu mirip-mirip Ustadz yang sedang trending di tv. 


Para pengawal saling tatap. Salah satu dari mereka masuk, karena Aidin tak akan pulang begitu saja sebelum babak belur. 


Delia memerintahkan penjaganya membuka gerbang. Wanita itu hanya melihat dari dalam jendela. Tahu bahwa Aidin bersungguh-sungguh ingin bertemu dengannya. 


Kali ini tak ada adu jotos. Mereka tampak berdamai. Mengantarkan Aidin ke dalam seperti layaknya tamu terhormat.


"Mau apa kamu datang ke sini?" seru Delia dari ujung tangga. Kakinya mulai mengayun menapaki setiap anak tangga yang tersusun. Menemui Aidin yang sudah duduk di ruang tamu. 


"Aku ingin bertemu dengan Zahra, Ma." 


Itu bukan pertama kali Aidin ucapkan, namun berulang kali di saat dirinya datang ke rumah itu. 


"Apa kau tuli. Sudah berapa kali aku bilang. Zahra tidak tinggal di sini, jadi percuma saja kau hanya akan buang-buang waktu."


Meskipun sangat meyakinkan, Aidin tetap tak percaya dengan ucapan Delia, bahkan kali ini matanya langsung mengabsen setiap ruangan yang nampak. Berharap usahanya tidak sia-sia.


"Kamu di mana, Za?" teriak Aidin sembari membuka setiap pintu ruangan yang tidak terkunci. 


Tidak ada sahutan, beberapa pelayan yang menjalankan aktivitasnya memilih pergi, takut ada perkelahian lagi seperti sebelumnya. 


Memeriksa setiap tempat yang ada di lantai satu. Tak menyisakan dapur dan taman belakang juga kolam renang. 


Apa mungkin ada di atas?


Berlari kecil menuju tangga, sejenak menatap Delia yang masih berada di ruang tamu kemudian melanjutkan langkahnya. Seperti yang dilakukan di bawah, Aidin pun membuka pintu ruangan yang ada di lantai dua. Menyisir setiap tempat yang ada di sana. Namun nihil, ia pun tak menemukan Zahra. Sedikitpun tak ada tanda-tanda tentang keberadaan istrinya. 


"Sebenarnya kamu ada dimana, Za?" Aidin mulai lelah. Menyandarkan punggungnya di dinding dan memejamkan matanya. 


Tak menyangka, kepergian Zahra membuatnya kacau tanpa arah. 


Hampir saja turun, Aidin berhenti saat melihat sebuah ruangan yang sepertinya belum ia periksa. Berjalan menghampiri ruangan itu, tangannya mengulur menyentuh knop lalu memutarnya. Ternyata pintu itu terkunci dan tidak bisa di buka yang membuat Aidin berbalik. Mungkin kamar rahasia, pikirnya.

__ADS_1


Baru beberapa langkah, suara gelak tawa dari arah dalam membuat Aidin menghentikan langkahnya. Sayup-sayup juga mendengar percakapan. 


Seperti suara perempuan?


Aidin kembali mendekat, kemudian mengetuk pintu dengan pelan. 


"Buka pintunya!" Ia mulai tak sabar dan terus mengetuk. Hatinya bergemuruh ingin segera melihat gerangan yang ada di balik ruangan tersebut. 


Tak berselang lama pintu terbuka, nampak gadis cantik berdiri di depan Aidin. Hidungnya mancung seperti Zahra, namun pipi, mata dan penampilannya jelas berbeda.


"Kak Aidin, 'kan?" tebak gadis itu sambil mengulurkan tangan. 


Aidin membalas dengan menangkupkan kedua tangan, teringat ucapan Zahra. Bahwa tidak boleh menyentuh wanita yang bukan mahram. Meskipun ia sudah terlanjur kotor, tapi hatinya benar-benar ingin berubah menjadi orang yang baik luar dalam. 


"Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Aidin. Beberapa kali datang ke rumah sang mertua, sekalipun tak pernah melihat gadis di depannya, namun tiba-tiba saja memanggilnya dengan sebutan, 'kak'. 


"Namaku Cherly, aku tahu nama kakak dari kak Zahra," ceplos gadis itu yang membuat Aidin terbelalak. 


Zahra, itu artinya dia ada di sini.


Aidin tersenyum, seperti mendapat sebuah petunjuk yang membuat hatinya berdebar-debar. Matanya mencoba untuk melihat dalam kamar itu, akan tetapi tidak ada siapapun.


"Kak Zahra, kau tahu di mana dia?"


Belum sempat menjawab, Delia datang menghampiri Cherly dan menyuruhnya masuk. 


"Ma, aku mohon, izinkan aku bicara dengan Cherly." 


Delia menggeleng. Mendorong tubuh kekar Aidin ke tangga. 


"Sudah cukup apa yang kamu lakukan selama ini, aku tidak mau putriku tersiksa  karena kelakuan bejatmu. Tidak ada ibu yang lebih menderita selain melihat putrinya tersakiti."


Mungkin aku bisa bertemu dengan Cherly lain kali. 


Aidin memilih pergi tanpa membantah. Mengerti perasaan Delia, tidak ada ibu yang tega melihat anaknya di duakan, dicampakkan demi wanita lain dan diabaikan hanya demi menyenangkan orang lain.


Promo novel baru, bagi kalian yang suka laki-laki tangguh dan setia hanya di sini👇👇👇 jangan dilihat judulnya, tetap romantis yang bikin geregetan 😊😊😊

__ADS_1



__ADS_2