
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membelah kegelapan malam yang kian dingin mencekam. Tidak ada pembicaraan, Aidin maupun Zahra saling diam, hanya ocehan Zea yang sesekali memecahkan keheningan.
Gak enak banget, kayak orang bisu.
Aidin menggerutu dalam hati, sesekali melirik ke arah Zahra yang menatap ke luar kaca.
Ehem… Aidin berdehem pelan.
Satu tngannya merambat menyentuh kaki Zea yang terus menendang-nendang. Ingin sekali menyentuh tangan ibunya juga, namun diurungkan saat mobil sudah mendekati taman.
Aidin memarkirkan mobilnya di dekat taman yang nampak dihiasi dengan berbagai pemandangan indah.
Kenapa berhenti di sini? Bukankah dia marah padaku.
Zahra masih membuang muka. Tak peduli dengan Aidin yang melepas seatbelt nya. Kesal karena beberapa menit diabaikan hanya gara-gara Azka.
Aidin turun dari mobil lalu membuka pintu bagian samping. Nampak kekesalan itu menghiasi wajah cantik sang istri.
"Katanya mau ke taman, hemmm?" Mengusap kepala Zahra, kemudian mengambil Zea dari pangkuan wanita itu.
Zahra pun turun tanpa bertanya atau protes. Mengikuti langkah Aidin menuju ke taman.
Lampu berkelip terlihat dengan jelas hingga membuat Zea terpana. Bocah yang ada di gendongan papanya itu mengulurkan tangan seakan ingin mengambil lampu yang tak jauh darinya.
"Nanti kita beli sendiri ya, Sayang." Mundur satu langkah sedikit menjauh.
Sudah sekian menit mereka ada di taman kota, tapi Aidin belum bicara dengan Zahra, ia hanya fokus pada Zea yang kegirangan melihat pemandangan di sekitarnya.
Zahra memilih duduk sendiri sambil melihat beberapa orang yang berduaan dengan pasangan masing-masing. Cemburu dengan mereka yang terlihat romantis, sedangkan dirinya malah marahan hanya karena masalah kecil.
"Kayak abg aja, cemburu," gumamnya kecil.
Meremas ujung jilbabnya, ingin sekali menjambak Aidin, tapi itu tak mungkin dilakukan.
Puas bermain dengan Zea, Aidin menghampiri Zahra dan duduk di samping wanita itu, karena kursinya yang lumayan pendek hingga ia hampir jatuh.
"Wah, kayaknya badan mama semakin besar nih," goda Aidin berpura-pura jatuh. Padahal, ia masih bisa duduk meskipun sempit.
Zea hanya bisa melongo melihat kedua orang tuanya bergantian. Di bawah lampu penerang yang warna-warni wajah merona yang menahan tawa itu terlihat.
Zahra yang tak tahan ikut duduk di bawah. Mereka bersimpuh di atas rerumputan dan saling berhadapan.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Aidin tiba-tiba mengusap pipi mulus Zahra.
"Untuk apa?" Masih bernada ketus.
"Untuk semuanya yang pernah aku lakukan padamu. Kejahatan kecil maupun besar. Aku tahu kalau Azka itu mantanmu."
Zahra membulatkan matanya. "Darimana Mas tahu?" Pasalnya ia tak pernah bercerita pada siapapun tentang Azka, tapi kenapa Aidin bisa tahu, bahkan Zahra tak menyimpan apapun tentang pria itu setelah putus.
"Saat kamu bicara dengan mama di rumah sakit, aku mendengarkan semua nya. Hubungan kamu dan dia tidak mendapat restu karena pekerjaan mama, kan?"
Zahra menundukkan kepalanya, tak menyangka Aidin mendengar pembicaraannya kala itu.
"Mungkin, jika aku tidak hadir di tengah-tengah kamu dan dia, hubungan kalian masih bisa diselamatkan dan bisa menikah." Mengutarakan isi hatinya yang dari tadi menjanggal.
Zahra menggenggam tangan Aidin. "Bukan karena kamu, Mas. Itu karena aku dan mas Azka tidak berjodoh. Jangan membahas itu lagi, belikan itu." Menunjuk penjual arum manis keliling. Jajanan jadul yang tetap eksis hingga kini dan disukai kebanyakan anak-anak. Termasuk Zahra.
Aidin memanggil penjual itu dengan cara melambaikan tangan hingga beberapa menit pria itu menghampirinya.
"Boleh membuat sendiri gak, Pak?" Zahra berdiri dari duduknya. Mendekati penjual yang baru saja menyendok gula.
"Boleh, Ning. Silahkan!" Pria paruh baya itu mempersilahkan Zahra untuk membuat sendiri, sedangkan Aidin hanya menjadi penonton sang istri yang nampak sok pintar.
"Penghasilannya sehari semalam berapa, Pak?" tanya Zahra iseng, kasihan melihat pria itu, dari segi pakaiannya dan sepeda butut yang dipakai, sudah dipastikan orang tak mampu.
Aidin mulai menikmati karya pertama istrinya. Mendengarkan wanita itu yang mulai bercanda pada sang penjual.
"Tergantung, Ning. Kalau lagi ramai, tiga ratus ribu, tapi kalau lagi sepi seratus lima puluh, itu masih kotor. Setelah dibelanjakan masih sisa seratus ribuan untuk menyicil hutang di bank."
Sedikit amat.
Aidin mengucap dalam hati. Jiwanya tergugah mendengar cerita pria itu.
"Gak pingin kerja lain, Pak?" tanya Aidin memastikan.
Sebenarnya, ia punya banyak lowongan pekerjaan untuk mereka yang tak memiliki profesi dan berpendidikan rendah. Akan tetapi Aidin tak pernah mengurus itu sendiri dan menyerahkan pada bawahan yang dipercaya.
"Pingin sih, Mas. Tapi saya gak punya keahlian apa-apa selain jualan ini."
Zahra kembali duduk di samping Aidin. Mencicipi milik suaminya yang hampir mengecil karena terkena angin.
"Mau jadi tukang kebun di rumah saya?" tanya Aidin.
__ADS_1
Zahra tersenyum, sebenarnya tak butuh pekerja lagi di rumah, tapi demi membantu penghasilan pria itu, ia menerima. Apalagi Zahra juga sempat mendengar gaji yang diberikan pada Mbak Lela dan Bibi sangat besar, dan yakin jika suaminya itu akan memberi gaji yang besar pula pada pria itu.
"Boleh, Mas. Kapan saya mulai bekerja?" Mengusap wajahnya dengan handuk yang tersampir di pundak.
"Terserah Bapak maunya kapan? Besok juga bisa." Aidin mengambil kartu namanya dan memberikan pada pria itu sekalian membayar jajannya.
Pria itu menghitung beberapa lembar uang ratusan yang diberikan Aidin.
Mereka hanya memakan dua? Kenapa bayarnya lebih.
Begitulah yang ingin ditanyakan, namun karena terlalu kelu bibirnya tak mampu mengucap.
"Ini lebih, Mas." Setelah sekian menit, pria itu mengucap dengan tangan gemetar.
"Ambil saja, Pak. Anggap itu rezeki untuk Bapak," Zahra yang menjawab.
Pria itu ambruk di depan Aidin. Sujud syukur karena mendapatkan rezeki berlimpah, bahkan itu setara dengan pekerjaannya tiga hari.
"Sekarang pulanglah! Bapak istirahat saja, besok bisa datang ke rumah?" lanjut Aidin menerima uluran tangan pria itu.
"Nama saya pak Agus, Mas,"
Aidin mengangguk, mungkin sekarang masih ingat namanya. Tapi, tidak yakin besok masih mengingatnya.
"Besok bawain dua arum manis ya, Pak?"
Agus yang sudah beberapa langkah itu menoleh dan mengangguk.
Dari kecil ia memang suka jajanan itu dan sekarang kembali menikmatinya seperti anak kecil.
"Kemarin Mama nelpon aku." Zahra mengucap dengan ragu.
"Apa katanya?" Aidin mengusap jarinya yang lengket karena gula.
"Kak Keysa hamil, masa kita kalah dengan dia." Zahra menirukan ucapan bu Lilian, dan itu membuat Aidin bergelak tawa.
"Jangan peduliin mama, dia itu cuma pamer kalau sebentar lagi akan mempunyai cucu lagi."
Sebuah tangan menarik telinga Aidin dari arah belakang. Sontak ia menoleh sambil menebak, karena hanya satu orang yang berani menjewernya.
"Mama," pekiknya, terkejut setengah mati melihat Bu Lilian berdiri di belakangnya.
__ADS_1