Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Pesta 3


__ADS_3

Senyum Zahra mengembang saat melihat orang yang dicari itu berjalan dari arah pintu. 


Meskipun sangat terlambat, yang penting gadis itu memenuhi permintaannya. 


"Zahra…" teriak Kirana saat melihat lambaian tangan sang sahabat dari jauh. 


Sama seperti Zahra yang dipenuhi dengan kebahagiaan, Kirana pun bahagia bisa bertemu lagi dengan wanita itu. Saking antusiasnya ingin segera memeluk sang sahabat, Kirana lupa jika jilbabnya terikat dengan ujung baju Iqbal hingga beberapa langkah ia terjatuh menabrak beberapa tamu yang ada di sekitarnya. 


Iqbal yang tak siap pun ikut terhuyung dan jatuh bertumpu di atas gadis itu. 


Awwwww


Kirana meringis sembari mengusap keningnya yang terasa nyeri akibat hantaman benda keras. 


"Ya ampun, Ki. Kenapa bisa jatuh begini?" Zahra berjongkok dan membantu Kirana bangun. Begitu juga dengan Aidin yang menarik tangan Iqbal hingga pria itu berdiri. 


"Ini semua gara-gara dia, Ra." Menunjuk Iqbal yang melepas ikatan baju bajunya. 


Aidin menahan tawa melihat kening Iqbal yang memerah. 


"Kok aku yang salah? Kamu yang lari duluan." Iqbal membela diri, seandainya Kirana tak lari mungkin kejadiannya tidak akan se dramatis itu. 


"Siapa lagi kalau bukan kamu?" Kirana tak mau kalah. Jelas-jelas Iqbal penyebabnya, tapi dia yang disalahkan di depan umum, memalukan.


"Di mana-mana perempuan itu harus menang," bisik Aidin mengambil jalan tengah. 


Daripada berdebat dan disaksikan hampir ribuan orang. Bukanlah lebih baik mengalah, begitu Aidin berpendapat. 


"Baiklah, aku minta maaf," ucap Iqbal kemudian. 


Kirana merapikan hijabnya lagi dan memeluk Zahra dengan erat. 


"Kok kamu baru datang sih?" gerutu Zahra mengusap punggung Kirana. 


Iqbal tertawa, entah menertawakan siapa, Kirana tersinggung dan melepas pelukannya. Menatap tajam ke arah pria yang beberapa menit lalu membuatnya jatuh. 


"Dia berjemur di depan, Ra," kata Iqbal masih diiringi dengan tawa. 


Ingin sekali Kirana membungkam mulut ember itu, namun ia tak bisa melakukannya karena banyak orang yang menyaksikan. 


"Berjemur di depan? Maksud kamu apa, Bal?" Aidin memastikan. 


"Jangan bilang kalau Kirana gak berani masuk?" tebak Zahra sebelum Iqbal menjelaskan. 


Iqbal menjentikkan jarinya, "Betul sekali. Sebenarnya dia sudah datang dari tadi, tapi tidak berani masuk, akhirnya berjemur di halaman." Tanpa aling-aling Iqbal membeberkan apa yang ia lihat tadi. 

__ADS_1


Kirana meremas ujung bajunya. Wajahnya merona karena malu. Andaikan ia dan Iqbal hanya berdua, pasti pria itu sudah habis di tangannya. 


Zahra menarik tangan Kirana dan mengajaknya pergi. Mungkin dengan begitu akan terhindar dari penghinaan yang terus meluncur dari bibir Iqbal. 


"Kenapa kamu gak menelponku, sih?" Zahra mengambil segelas minuman dingin dan memberikannya pada Kirana. 


"Gak enak sama keluargamu, Ra." Kirana meneguk minumannya hingga kandas. Mengabsen tamu yang terlihat glamour. 


"Gak ada yang miskin ya, Za? Apa di sini khusus untuk orang kaya?" imbuhnya lagi. 


Zahra mengambil dua piring nasi. Meletakkan di depan Kirana. 


Sudah lama mereka berpisah dan Zahra ingin kembali mengulang kebersamaan yang sempat terjeda karena masalah yang membelitnya. 


"Pesta ini dibuka untuk umum, semua karyawan mas Aidin juga diundang. Itu artinya tidak ada bedanya antara yang kaya dan miskin."


Kirana mulai menyantap makanannya. Kelamaan di luar dan berada di bawah terik membuatnya lapar. 


Disaat Zahra sibuk dengan Kirana, Hanif menghampiri James dan Delia. Ia memperkenalkan Evana pada mereka. 


"Berapa lama kalian kenal?" tanya Delia basa-basi. 


Hanif mengelus tengkuk lehernya. "Sebenarnya sudah lama sih, Ma. Tapi aku baru berani membawanya sekarang," ungkap Hanif melirik Evana yang masih malu-malu. 


Selama ini putranya itu sangat tertutup dan tidak pernah bercerita tentang masalah pribadinya, namun tiba-tiba membawa seorang gadis cantik di depannya dan memperkenalkannya sebagai calon istri. 


"Siap, Pa," jawab Hanif yakin. 


Umurnya yang menginjak dua puluh tujuh sudah benar-benar siap membina rumah tangga bersama orang yang dicintai. 


Acara demi acara berjalan dengan lancar. Hampir semua tamu undangan pamit pulang, kini tinggal keluarga terdekat dan sahabat Aidin yang masih memenuhi tempat itu. 


"Jangan pulang sekarang, aku masih pengen ngobrol sama kamu," bisik Zahra sebelum meninggalkan Kirana. 


Kirana menyetujuinya. Sebab, dia pun juga masih rindu dengan wanita itu. 


Tak berselang lama Zahra pergi, Iqbal datang dengan sejuta pesonanya. Tanpa meminta izin pria itu duduk di depan Kirana. 


"Belum punya pacar?" tanya Iqbal tanpa menatap. Seakan wajah cantik Kirana tak dianggap. 


Kirana tak menjawab, karena ia merasa Iqbal terlalu tak sopan saat bertanya. 


"Kamu gak dengar?" imbuhnya. 


Kirana tetap membisu dan memalingkan pandangannya ke arah lain. 

__ADS_1


"Kirana…" Terpaksa Iqbal menyebut nama wanita itu dengan suara lembut. 


"Iya, Tuan." Kirana membalas dengan lembut pula, tersenyum manis dengan mata berkedip cepat. 


"Apa kamu sudah punya pacar?" Iqbal mengulangi pertanyaannya. 


Kirana mengetuk-ngetuk dagunya seperti memikirkan sesuatu. 


"Kalau belum kenapa? Kalau sudah kenapa?" Kirana balik tanya. Ia masih kesal terhadap Iqbal yang sudah mempermalukannya. 


Iqbal mencondongkan kepalanya ke depan. Menatap wajah Kirana yang lumayan cantik. 


"Kalau belum, kamu mau gak jadi pacarku?"


Deg 


Kirana jadi salah tingkah sendiri. Ia pindah di kursi yang sedikit jauh setelah mendengar penuturan iqbal yang nampak serius. 


Aku gak boleh terlalu percaya diri. Begitulah hatinya menyuarakan. 


"Kalau sudah kenapa?" Kirana menahan dadanya yang bergemuruh. Berusaha tetap tenang layaknya berbicara dengan Zahra. 


"Kalau sudah putusin saja." 


"Kok gitu?" sergah Kirana tak terima. 


"Karena dia itu gak setia. Buktinya kamu datang ke pesta ini saja sendirian. Mana tanggung jawabnya sebagai seorang pacar. Seharusnya dia selalu berada disisimu kemanapun pergi, bukan membiarkanmu sendiri seperti ini." Panjang lebar Iqbal menjelaskan. 


Kirana terdiam. Sejak kapan ada yang memperdulikan nya seperti ini. Bahkan Iqbal menunjukkan sebuah perhatian yang tak pernah Kirana dapatkan dari orang lain. 


"Sebenarnya aku __" Kirana memotong ucapannya, ia tak berani mengaku di depan Iqbal, takut pria itu hanya memancing dan menghinanya seperti tadi. 


"Aku gak suka datang dengan pacar. Lagipula ngapain kamu ngurusin aku? Mendingan urus pacarmu sendiri," ucap Kirana ketus lalu berdiri. 


"Mau ke mana?" Iqbal menarik jilbab Kirana dari belakang hingga menghentikan langkah wanita itu. 


"Aku mau mencari Zahra?" jawab Kirana asal. 


"Zahra di sana." Menunjuk ke arah pintu depan, "ngapain kamu berjalan ke arah toilet?"


Kirana semakin salah tingkah saja. Ia benar-benar mati kutu berada di pesta kali ini. 


Mimpi apa aku semalam. Semoga ini pertama dan terakhir aku bertemu dengan Iqbal. Kenapa di jaman canggih tidak menciptakan alat yang bisa memberantas makhluk seperti dia.


Kirana berbalik arah, berjalan pelan menghampiri Zahra yang masih sibuk dengan beberapa tamu. 

__ADS_1


__ADS_2