
"Semalam kamu pulang jam berapa, Mas?" tanya Zahra saat melihat Aidin memasuki ruang makan.
Aidin duduk dan menyeruput kopi panas yang tersaji diatas meja. Menatap Zahra yang berpenampilan sedikit berbeda. Wanita itu terlihat lebih cantik dan berseri dengan baju gamis berwarna kuning keemasan.
"Jam dua, mobil Agha mogok, jadi aku menemani dia."
Tidak ada tanggapan lagi, Zahra mengambilkan nasi untuk Aidin, sementara dirinya duduk di samping pria itu sembari menikmati susu putih hangat.
"Kamu gak makan?" tanya Aidin pada Zahra.
Zahra menggeleng tanpa suara, entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa mual jika melihat nasi atau sejenisnya. Bahkan terkadang sempat muntah jika dipaksakan.
"Lalu kenapa masak sebanyak ini?" protes Aidin melihat beberapa menu yang tersaji.
"Apa papa dan mama tidak memberitahumu kalau dia dalam perjalanan, dan rencananya mereka akan tinggal di sini untuk beberapa hari."
Aidin mengernyitkan dahi lalu menggeleng pelan. Seperti tak percaya dengan ucapan Zahra.
Mereka akan tinggal di sini, itu artinya mereka akan melihat keseharianku dan Zahra.
Benar saja, tak berselang lama terdengar mobil berhenti di depan rumah. Zahra beranjak dari duduknya.
"Itu pasti mobil papa. Kita sambut mereka." Meraih tangan Aidin dan menggenggamnya. Bibirnya mengulas senyum manis saat Aidin membalas genggaman itu.
Zahra menghampiri bu Lilian yang sibuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Sementara Aidin membantu Darren membopong pak Herman untuk duduk di kursi roda yang sudah disiapkan.
"Rumah sebesar ini, tapi kalian tidak memakai jasa pembantu, apa kamu tidak capek, Za?" tanya Bu Lilian pada Zahra.
"Tidak, Ma. Tugas di rumah sudah menjadi kewajibanku, jadi mama gak perlu khawatir. Lagipula mas Aidin sering membantuku."
Mata Aidin membulat sempurna. Ia terkejut mendengar pernyataan Zahra yang bertolak belakang dengan dirinya.
"Beneran, Din?" tanya bu Lilian bangga.
Zahra mengedipkan matanya ke arah Aidin yang berarti memberi kode pada pria itu untuk mengangguk.
"I—iya, Ma." Aidin menjawab dengan gugup.
"Tapi mulai sekarang kalian harus pakai jasa pemnbantu, kasihan Zahra. Mungkin karena terlalu capek, dia belum bisa hamil," timpal Darren.
Hamil. Mendengar kata itu, tenggorokan Aidin mendadak kering dan terbatuk.
__ADS_1
Sebaliknya, Zahra justru bertanya-tanya, mengingat sudah satu bulan lebih dirinya tidak datang bulan. Ia mengelus perut nya yang masih rata.
Apa aku hamil?
Mengingat tanda-tanda yang sering dialami kebanyakan wanita hamil membuatnya makin yakin dan berharap penuh dengan hadirnya janin dalam rahimnya.
"Tapi aku beneran gak papa, Kak. Dan masih bisa mengurus rumah, nanti kalau aku merasa gak kuat, baru memakai jasa pembantu," tolak Zahra. Ia tak mau Aidin merasa tertekan karena harus melakukan sesuatu yang tak disukainya.
Suasana rumah yang biasanya sepi kini sangat ramai. Pak Herman dan Bu Lilian sedang menikmati masakan Zahra di meja makan, sedangkan Aidin dan Darren ada di ruang tamu. Berbincang tentang bisnis baru yang akan dirancang Aidin selanjutnya.
"Papa bangga sama kamu, Din," ujar pak Herman sembari mengangkat jempolnya. Menyanjung putranya yang selama ini ia anggap remeh. Namun, bisa mengambil keputusan yang tepat.
"Papa yakin kamu bisa lebih sukses," imbuhnya.
Aidin hanya tersenyum kecil.
Semalam, Pak Herman mendapat telepon dari salah satu klien. Mereka membicarakan tentang proyek yang akan dibangun oleh Aidin. Dan pak Herman yakin itu adalah langkah awal Aidin menuju kesuksesan.
"Aku ke kamar dulu, Ma," pamit Zahra yang dari tadi merasa mual.
Kali ini ia sudah tak tahan dan memilih menghindar dari mereka.
Sesampainya, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang terasa naik.
Aidin melangkah lebar dan membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk.
"Kamu kenapa?" tanya Aidin menghampiri Zahra yang nampak pucat.
Zahra menggeleng tanpa suara, namun tubuhnya yang lemah memaksa untuk bersandar di dada Aidin.
"Bantu aku ke kamar, Mas," ucapnya lirih.
Aidin merengkuh bahu Zahra dan menuntunnya ke ranjang. Membantu wanita itu berbaring lalu menyelimutinya.
"Apa perlu aku panggil dokter?"
Sekelebat ada rasa kasihan melihat Zahra yang nampak lemah. Namun, ia terus berusaha cuek.
"Tidak usah, aku hanya butuh istirahat saja."
Zahra memejamkan matanya. Berusaha mengurai rasa mual yang kembali menyeruak.
__ADS_1
Aidin keluar dari kamar menemui mamanya. Kebetulan sekali mereka pulang saat weekend sehingga bisa berkumpul seperti keinginan pak Herman.
"Zahra di mana, Din?" tanya pak Herman menatap pintu kamar Aidin.
"Dia istirahat, Pa. Katanya ngantuk," jawab Aidin santai, ia kembali duduk di samping Darren.
Bu Lilian ikut bergabung. "Sebaiknya kamu ikuti saran papa, pakai jasa pembantu supaya Zahra itu tidak terlalu kelelahan. Banyak luangkan waktu untuk dia. Mama sudah gak sabar punya cucu dari kalian."
Lagi-lagi Aidin hanya tersenyum kecut. Dalam benaknya tidak ada niatan ingin memiliki anak dengan Zahra, bahkan ia ingin segera menuntaskan ikatan itu dan bisa menikahi Amera.
Ponsel yang ada di nakas berdering membuat Zahra terpaksa membuka mata. Ia mengambil dan menatap nama yang berkedip di layar.
"Ayah!" pekik Zahra. Ia sangat terkejut melihat nama ayahnya berkedip di layar. Hampir satu tahun lamanya meninggalkan rumah, ini kali pertama pria itu menghubungi nya.
Zahra menggeser lencana hijau tanda menerima.
"Assalamualaikum," sapa Zahra datar.
Pak Adinata menjawab salam Zahra, lalu menanyakan kabar wanita itu.
"Aku lebih baik, ada apa ayah menelponku?" tanya Zahra tanpa basa-basi.
"Ayah butuh modal untuk perusahaan yang sedang mengalami penurunan."
Meskipun hanya lewat telepon, Zahra bisa merasakan beban yang dipikul sang ayah. Memiliki tiga anak yang masih duduk di bangku sekolah dan menjadi tulang punggung keluarga, pasti tidak mudah. Ditambah Ibu tirinya yang terbiasa hidup glamour dan terus menuntut pak Adinata untuk memenuhi semua keinginannya.
"Aku gak ada uang, Yah."
"Kamu kan bisa minta bantuan Aidin. Ayah dengar kemarin dia naik pangkat."
Hening, Zahra mencoba berpikir keras. Mencari cara untuk membantu pak Adinata yang pasti saat ini kesusahan.
"Berapa uang yang ayah butuhkan?"
"Hanya lima ratus juta."
Zahra mengerutkan alis. Uang lima ratus juga jumlah yang sangat besar, namun ayah Adinata memakai embel-embel hanya, dan itu membuat Zahra geleng kepala.
"Aku akan coba, tapi aku gak janji akan berhasil."
Mengingat dirinya yang selama ini tak diberi nafkah, membuatnya ragu untuk meminta bantuan pada sang suami.
__ADS_1
Semua orang akan menghubungiku disaat susah, tapi mereka tidak peduli padaku disaat bahagia. Ya Allah, berikan aku kesabaran seluas samudera untuk bisa bangkit dari semua ini.