Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Kepergian Zahra


__ADS_3

"Pergi kau dari sini!" Amera mendorong tubuh kekar Aidin hingga ke ambang pintu. Tak peduli lagi dengan kata maaf yang meluncur dari bibir pria itu. Muak dengan keputusannya yang hanya sepihak. 


Hari yang seharusnya bahagia berujung duka. Demi apapun Amera belum rela dengan keputusan Aidin yang seolah-olah menghempaskannya begitu saja. 


Aidin memutar badan. Berjalan pelan menuju mobil. Sesekali menoleh ke arah Amera yang masih mematung di belakang pintu. 


Aku harus tega, demi masa depanku aku harus melepaskanmu, Me. Terus meyakinkan hatinya untuk tidak goyah.


''Kalau kau tidak kembali, aku tidak akan tinggal diam,  Zahra harus merasakan apa yang aku rasakan.'' 


Aidin sedikit lega, akhirnya dia bisa mengambil keputusan juga, kini hanya ada satu wanita yang wajib di bahagiakan. Yaitu Zahra, wanita yang berstatus istrinya. 


"Aku harus pulang, pasti Zahra menunggu." Menatap sebuah kotak kado yang ada di sisi nya. 


"Aku tidak tahu apa yang kamu sukai, tapi aku akan memberikan yang terbaik untuk kamu." Menilik jam yang melingkar di tangannya sebelum melajukan mobilnya.


Hampir empat puluh menit, Aidin sudah tiba di depan rumahnya.  Senyum mengembang dari sudut bibirnya saat melihat lampu depan masih menyala terang. 


"Aku pulang, Za. Hari ini dan selamanya aku hanya milikmu." Aidin berlari kecil, ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan sang istri untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang pertama.


Aidin membuka pintu tanpa mengetuk. Kakinya terus melangkah menghampiri kue yang tertata diatas meja. Terharu melihat pemandangan apik yang menghiasi rumahnya.


"Aku pulang, Za." Aidin mulai tersadar bahwa Zahra tidak ada di tempat itu. Matanya menyusuri setiap ruangan, termasuk ruang makan dan dapur. 


"Apa dia masih menyiapkan makanan?" Melepaskan sepatunya. Berjalan mengendap-endap ke arah ruang makan, berniat akan memberi kejutan pada wanita itu. 


Tidak ada suara apapun, juga tidak ada tanda-tanda Zahra disana, bahkan beberapa menu spesial sudah tersaji di meja makan. 


"Ternyata dia sudah selesai masak." Hanya membuka tudung saji. Kini matanya fokus pada pintu kamar yang tertutup rapat. 


"Jangan-jangan dia masih dandan?" 


Aidin kembali mengayunkan kakinya menuju ke arah kamar. Menempelkan  telinganya tepat di pintu. 

__ADS_1


Sama, tidak ada suara apapun yang membuat nya segera membuka pintu. 


"Kamu di mana, Za? Aku sudah pulang." Jantungnya mulai berdegup kencang. Tak biasanya Zahra main petak umpet seperti saat ini,  bahkan setiap dirinya pulang pasti wanita itu selalu menyambutnya dengan hangat. 


"Zahra," panggil Aidin untuk yang kesekian kali. Membuka pintu kamar mandi lalu beralih ke balkon. 


"Di mana dia?" Aidin mulai panik. Lalu, keluar dari kamarnya dan memeriksa beberapa ruangan. Namun nihil, Zahra tidak ada di mana-mana.


Mulai dipenuhi rasa cemas mengingat sikap Zahra yang akhir-akhir ini nampak dingin. 


Aidin kembali ke kamar. Satu tujuannya,  yaitu lemari baju. Benar saja, apa yang ditakutkan sejak tadi itu terjadi. Hampir semua baju Zahra tidak ada di sana yang membuat air mata Aidin seketika luruh. 


''Zahra tidak mungkin pergi dari sini, aku yakin dia hanya __" Aidin tak sanggup melanjutkan ucapannya. Otaknya buntu dan tak bisa berpikir jernih. Kakinya terasa lentur sehingga tak bisa menopang tubuhnya dan ambruk. 


"Aku harus menelponnya." Merogoh ponsel yang ada di saku celana. Bergegas mencari kontak milik Zahra. Mencoba berpikir jernih, mencari cara untuk menemukan wanita itu.


Berkali-kali Aidin menghubungi Zahra, namun wanita itu tak mengangkat teleponnya. Pada panggilan yang terakhir, Zahra justru menolaknya. Aidin tak menyerah, ia kembali melakukan panggilan,  dan kali ini kecewa karena ponselnya sudah tak aktif. 


"Maafkan aku, Za. Maafkan aku," ucap Aidin dengan bibir bergetar. Ada rasa takut yang menyeruak menyayat hati yang terdalam. 


Tak sengaja matanya melihat selembar  kertas yang ada di nakas. Dengan sekuat tenaga Aidin bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia mengambil kertas itu lalu membukanya. 


Assalamualaikum mas Aidin 


Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi jauh. Terima kasih karena sudah pernah hadir dalam hidupku. 


Aku tidak pernah menyesal menjadi istrimu. Tapi aku menyayangkan karena tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku. 


Hanya satu doaku, semoga kau bahagia dengan Amera. Setelah satu tahun aku baru menyadari bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Aku bodoh, aku terlalu berharap supaya kamu mencintaiku. 


Tapi sekarang aku sadar, kalau bukan aku sumber kebahagiaanmu, aku ikhlas melepasmu, Mas. Aku rela menjadi janda.


Jika suatu hari nanti kita dipertemukan lagi, jangan membenciku. Kalau kau memang tidak ingin melihatku, anggap saja aku patung. 

__ADS_1


Menahan dadanya yang terasa sesak Aidin terus membaca isi surat itu. 


Satu pesanku,  jangan lupa Sholat. Meskipun tidak bersama lagi, aku tetap ingin kita menjalin hubungan baik. 


Aku akan segera mengurus surat perceraian kita. Terima kasih atas waktu satu tahun yang kau berikan padaku, Mas. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membencimu.


Lolos sudah buliran bening membasahi pipi Aidin. Pria gagah itu nampak rapuh. Ia tak sanggup lagi untuk membaca lanjutan  tulisan tangan Zahra. Rasa marah kecewa mengimpit dadanya hingga terasa nyeri. 


"Aku tidak akan menceraikanmu, Za. Sampai kapanpun kita tidak akan bercerai. Aku harus mencarinya." 


Aidin beranjak dari duduknya. Merapikan rambut lalu keluar. Baru beberapa langkah suara mobil berhenti depan rumah, sontak membuat Aidin bertanya-tanya. "Jangan-jangan itu Zahra." 


Tak berselang lama, nampak wanita hamil besar masuk ke dalam rumahnya. 


"Kak Keysa," pekik Aidin. Lebih terkejut lagi saat melihat bu Lilian yang menyusul dari belakang. Juga Darren yang membawa kue serta pak Herman. 


"Aidin, kok kamu bengong di situ sih? Cepat ambil kado yang ada di mobil," pinta bu Lilian. 


Aidin terpaku. Apa yang harus dikatakan pada keluarganya tentang kepergian Zahra. Pasti Pak Herman akan kembali syok.


"Mama," panggil Aidin lirih. Ia tak bisa berkata apa-apa selain maaf karena tak bisa menjaga Zahra dengan baik. 


"Ada apa, Din?" Bu Lilian kaget melihat Aidin yang berhamburan memeluknya. 


"Zahra mana?" tanya bu Lilian. 


"Maafkan aku, Ma," ucap Aidin penuh penyesalan. 


"Maaf untuk apa?" sahut Pak Herman yang mulai menangkap keganjilan di wajah putranya. 


"Maaf karena tidak bisa memberi tempat yang nyaman untuk Zahra, Pa. Dia pergi dari rumah ini." 


Pak Herman memegang dadanya yang terasa nyeri, tak sanggup mendengar kabar itu. 

__ADS_1


Darren meletakkan kuenya demi bisa menahan punggung sang papa yang hampir ambruk, sedangkan Bu Lilian menangis histeris melepas pelukannya lalu berjongkok menggoyang-goyangkan sang suami yang sudah tak sadarkan diri. 


__ADS_2