
Kedatangan pak Herman bukan untuk bekerja, melainkan melihat perkembangan perusahaan. Usianya yang semakin tua sudah saatnya melepas beban dan menyerahkannya pada Aidin. Sebab, hanya pria itu satu-satunya harapan setelah Darren memutuskan untuk membuka usaha sendiri.
"Papa mau lihat-lihat?" tawar Aidin.
"Boleh, sepertinya menarik juga.'' Pak Herman menyetujuinya.
Memeluk Zea yang masih terlelap. Menciumi pipi gembulnya lalu keluar dari ruangan itu.
Ditemani Aidin dan Richard, pak Herman terus mengayunkan kakinya menyusuri lorong kantor, banyak karyawan yang bertanya dan juga sekedar berbincang menanyakan kabar.
"Tidak ingin bekerja lagi, Tuan?" Salah satu karyawan menggoda pak Herman yang nampak masih bersemangat.
Pak Herman menanggapinya dengan tertawa kecil. "Sudah saatnya yang muda, aku terlalu tua." Bergelak tawa, sadar diri kalau ia juga butuh istirahat penuh demi menjaga kesehatan.
Kembali melanjutkan langkahnya. Melihat para pegawai yang nampak sibuk dengan aktivitas masing-masing. Seperti dulu, mereka selalu serius dan tak pernah main-main.
"Oh iya, kapan kamu menikah?" Tiba-tiba pertanyaan pak Herman membuat Richard pucat.
Menikah, bahkan kata itu belum pernah terselip di otak sang sekretaris. Selama ini yang ia pikirkan hanya pekerjaan, bukan wanita.
"Mungkin tahun depan, Tuan," jawab Richard ragu. Aidin tersenyum kecil mengingat ucapan Zahra, dan akan mengatakan dengan jelas pada Cherly tentang ucapan Richard yang baru saja didengar.
Ternyata Richard sudah punya calon istri, begitulah pikirnya.
"Semoga aku masih bisa datang."
Richard mengangguk, meskipun belum memiliki calon istri tetap terlihat tenang sudah membohongi Pak Herman.
Baru saja tiba di lantai dasar, ponsel yang ada di saku celana Aidin berdering. Ia segera merogoh dan mengangkat teleponnya setelah melihat nama sang istri.
"Ada apa, Sayang?" Sedikit menjauh dari Richard dan pak Herman, takut itu pembicaraan pribadi.
"Mama telpon, katanya Cherly disuruh pulang." Zahra mengatakan apa yang dikatakan mamanya.
Aidin melihat jam yang melingkar di tangannya. Masih ada beberapa pekerjaan juga yang belum selesai. Menatap ke arah Richard yang berbincang dengan sang papa.
"Bagaimana kalau aku nyuruh Richard yang mengantarkan, papa masih butuh teman," jawabnya kemudian.
''Gak papa, Mas. Biar aku yang bicara dengan mama. Pokoknya Cherly harus pulang." Zahra menutup ponselnya dan kembali menghubungi Delia.
Setelah mendapat persetujuan dari Delia, Zahra menghubungi Aidin lagi menyampaikan kabar tersebut.
__ADS_1
Aidin memanggil Richard yang berdiri di samping pak Herman.
"Ada apa, Tuan?" Richard menghampiri Aidin.
"Kamu anterin Cherly pulang, nanti kalau mama tanya, bilang saja aku sibuk."
Keringat dingin bercucuran menembus pori-pori. Richard tak lupa dengan pengawal Delia yang bertubuh kekar. Ia juga masih ingat saat Aidin keluar dari rumah itu dalam keadaan sekarat.
Bagaimana ini, kalau aku menolak pasti Tuan Aidin marah, tapi kalau aku anterin. Ah bodo amat, hidup mati di tangan Allah.
Richard pasrah, apapun yang terjadi ia tetap patuh pada Aidin selaku atasannya.
Ia kembali ke lantai atas, menjemput Cherly yang sudah siap menunggunya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Richard memastikan.
Cherly mengangguk, ia pun tak ingin terkena marah mamanya karena terlalu lama pergi, sedangkan masih ada beberapa tugas yang belum dikerjakan.
Richard berjalan di belakang gadis belia itu, bagaikan bawahan dan atasan. Menjaga jarak supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
Seperti tadi pagi, Cherly memilih duduk di jok depan. Mengabaikan Richard yang sudah membuka pintu bagian belakang.
"Aku suka di depan, kenapa sih nggak boleh?" protes Cherly.
Boleh sih, tapi jika tante Delia lihat bagaimana? Gak ngerti banget dibilangin.
Hanya menggerutu dalam hati, mana mungkin berani membantah ucapan Tuan putri Cherly.
Richard terdiam, ia hanya akan bicara saat ditanya, selebihnya fokus pada setir yang ada di depannya.
"Kakak pakai parfum apa?" Mengendus-enduskan hidungnya di lengan sang sekretaris.
Aduh bocil, kenapa tanya parfum segala sih? Apa dia mencium bau keringat ku, aku kan belum mandi.
Richard semakin salah tingkah saja. Sebagai pria dewasa dan jarang bergaul dengan wanita, ia masih canggung dengan sikap Cherly.
Terpaksa Richard menyebut merk parfum yang selama ini menjadi kesukaannya.
"Mau gak, aku beliin?"
Andaikan gak ada dosa, Richard sudah menangkup kedua pipi gadis itu dan mencium bibirnya. Sayang sekali itu hanya angan-angan yang tak akan pernah terwujud.
__ADS_1
Bagaimana cara mengatasi bibir yang cerewet dan banyak tanya? Jika ada yang tahu, tolong bisikin aku.
"Gak usah, aku punya stok banyak, kok. Mendingan uangnya buat kamu jajan saja." Richard menghembuskan napas dengan pelan. Menahan detak jantungnya yang lari maraton. Sungguh, berduaan dengan Cherly membuatnya panas dingin.
Setelah hampir tiga puluh menit, akhirnya mobil Richard tiba di depan rumah Delia.
Ia segera turun dan membukakan pintu untuk Cherly sebelum gadis itu turun.
"Makasih, Kak. Masuk yuk!"
Tanpa meminta izin, Cherly menarik tangan Richard dan mengajaknya masuk, bahkan pria itu belum sempat menutup pintu mobilnya dan terpaksa harus menyerahkan pada pengawal Delia.
"Mama…" teriak Cherly dari ruang depan. Mendudukkan Richard di ruang tamu. Lalu memanggil mamanya yang tak ada di sana.
"Ma, aku pulang," teriaknya lagi sambil mengetuk pintu kamar.
Tak berselang lama Delia keluar menatap punggung Richard. "Dianterin siapa?" tanya Delia menyelidik.
"Kak Richard, tadi ada papanya kak Aidin di kantor, jadi dia gak bisa nganterin aku."
Delia manggut-manggut mengerti. Sebab, Zahra sudah memberi tahu, hanya saja tidak mengatakan kalau Richard lah yang mengantarkan pulang.
Menghampiri Richard lalu duduk di depan pria itu.
"So–sore, Tante," sapa Richard dengan sedikit gugup. Beberapa kali ia pernah bertemu dengan Delia, tapi ini pertama kali berhadapan dengan wanita itu secara langsung.
"Sore, terimakasih karena kamu sudah mengantarkan Cherly sampai rumah." Membalas ucapan dengan ramah, dan itu tak pernah terselip di benak Richard.
Eh, tante Delia berterima kasih padaku.
Sedikit tak percaya, yang ia tahu wanita di depannya itu ketus dan tak berinteraksi dengan sembarang orang, tapi ia salah. Ternyata ada sisi keramahan di balik itu semua.
Cherly yang duduk di samping Delia hanya bisa tersenyum manis melihat ketampanan wajah Richard dari dekat. Hatinya terus memuji hidung mancung yang tak jauh beda dengan Aidin.
"Gak papa, Tante." Saya pulang dulu," pamit Richard.
Hampir saja berdiri, seorang pelayan datang membawa minuman hingga pria itu mengurungkan niatnya.
"Minum dulu, Kak. Pasti kamu haus!" suruh Cherly menggeser jus mangga itu ke depan Richard.
Delia membisu. Ia menangkap ada sesuatu yang terjadi pada mereka berdua. Jika Richard terlihat kaku, justru putrinya nampak berseri-seri
__ADS_1