Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Insya Allah amanah


__ADS_3

Suara tangis tawa dan juga omelan-omelan ringan sudah menjadi hiasan di kediaman Aidin. Sebagai kepala keluarga ia tak mampu untuk menghentikan ibu negara saat sedang emosi. 


Seperti saat ini, Zahra melampiaskan amarahnya pada mbak Lela. Bukan karena kesalahan wanita itu, akan tetapi menyindir Aidin yang melakukan kesalahan. 


"Lain kali gak boleh seperti itu." Wajahnya masih menghadap mbak Lela, namun teguran itu dilontarkan untuk sang suami yang ada di sampingnya. 


"Gak lagi, Sayang." Aidin menarik tubuh ramping itu dan membawa ke pangkuannya. Meminta maaf berulang kali. Tidak akan berhenti jika Zahra belum memaafkannya. 


"Kali ini aku maafin, tapi kalau terulang lagi, entahlah mungkin kamu akan tidur di sofa berbulan-bulan." Zahra bangkit dari duduknya. Meninggalkan Aidin yang hanya bisa menatap punggungnya. 


"Memangnya kamu melakukan apa?" tanya Bu Lilian berbisik. 


Ini pertama kali ia melihat sang menantu sangat marah, bahkan senyum saja seakan lenyap dari sudut bibir wanita itu. 


"Tadi aku menciumnya, Ma." Aidin mengucap dengan pelan. "Eh, bukan itu, tepatnya aku menggigit __" Menghentikan ucapannya, terdengar tak sopan jika bu Lilian tahu apa yang ia perbuat di dalam kamar tadi. 


"Awas ya, Din! Kalau kamu macam-macam mama gak ikut-ikutan." Bu Lilian ikut pergi membawa Zea yang masih mengunyah makanannya.


"Kok jadi serba salah? Bukankah mencium istri sendiri itu ibadah?" Aidin menggaruk  kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi bingung dan harus memperdalam ilmunya lagi untuk bisa menghadapi istrinya yang sangat sensitif. 


Aidin yang baru tiba di depan kamar menghentikan langkahnya saat mendengar sapaan salam dari arah depan. Ia melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu. 


Dari wajahnya yang familiar Aidin tak lupa, namun ia bingung dengan penampilan pria itu yang lumayan religius. 


"Silahkan masuk!" jawab Aidin ragu, otaknya masih berkelana mengingat-ingat gerangan yang berjalan ke arahnya dengan kedua tangan saling merentang ke kiri dan kanan. 


Seperti Agha? Menebak dalam hati, takut salah. 


"Apa kamu melupakanku, Din?" tanya pria itu. 


Aidin ikut mendekat. Mencium aroma  minyak kasturi yang membuatnya mual. 


"Kamu Agha?" Menunjuk hidung mancung pria yang berdiri tak jauh darinya. 


"Ternyata ingatanmu masih tajam. Benar sekali, aku Agha Syahputra sahabat sekaligus teman nongkrong Aidin Adijaya saat di klub." Agha tak malu membeberkan keburukan mereka berdua itu dengan jelas hingga mbak Lela yang ada di ruang makan bisa mendengarnya. 


Mereka berpelukan. Berputar-putar seperti anak kecil yang mempunyai teman baru. 


Zahra yang baru saja membuka pintu hanya mematung di depan kamar. Kedua tangannya dilipat sambil menyaksikan pemandangan apik di depan matanya. 


Ehem

__ADS_1


Zahra berdehem yang membuat Aidin melepaskan pelukannya, mengibas-ngibaskan bajunya yang sempat bersentuhan dengan baju Agha. 


Agha berdecak. Melirik Zea yang berjalan dari arah belakang. 


"Itu anakmu, Din?" tanya nya. Matanya berbinar melihat makhluk lucu dan menggemaskan itu. 


"Iya." Aidin menghampiri Zahra. Kembali merayunya dengan lembut. 


"Aku janji tidak akan mengulangi lagi." Mengangkat dua jari ke atas pertanda bahwa ia sangat serius dengan ucapannya. 


Zahra menarik nafas dalam. Mencoba melupakan rasa sakit bercampur geli yang diciptakan Aidin.


"Baiklah, hari ini aku memaafkan kamu, tapi lain kali jangan harap kamu bisa tidur dengan ku." 


Aidin mengangguk tanpa suara. Ia memperkenalkan Zahra pada Agha. 


Mereka duduk di ruang tamu. Kopi hitam panas menemani percakapan yang terdengar renyah. Jika Agha menceritakan perjalanan hidupnya saat berhijrah, Aidin menceritakan saat ia berjuang mendapatkan Zahra. 


Diselingi gelak tawa yang memenuhi ruangan.


"Kamu beneran belum menikah?" tanya Aidin, sedikit tak percaya mendengar ungkapan Agha yang mengatakan belum memiliki istri. 


"Mau sampai kapan?" Aidin menepuk pundak Agha, kasihan dengan nasib pria itu. Berhijrah memang membuatnya lupa sejenak akan duniawi, namun ia beruntung diberi kesempatan untuk bertaubat. 


"Sampai jodohnya ditunjukkan oleh Allah." 


"Assalamualaikum," sapa suara ramah membuat Aidin maupun Agha menoleh. Mereka menatap gadis cantik yang baru saja masuk dari pintu depan. 


Saking terpesona hingga menjawab salam hanya dalam hati. 


Rima langsung ke ruang makan memberikan makanan pesanan Zahra pada pembantu. 


"Bukannya tadi kak Zahra sudah bilang mau diambil sama pak Agus? Kenapa kamu yang anterin?" 


Rima tersenyum tipis. "Aku memang mau ke sini, Kak. Sekalian lihat Zea dan Zada." 


Agha terdiam, matanya tak berkedip melihat keanggunan gadis itu. Seumur-umur ini kedua kalinya melihat gadis anggun dan ramah setelah Zahra. 


Menjawil kaki Aidin lalu bertanya, "Siapa?" Menyungutkan kepalanya ke arah Rima yang berjalan menghampiri Zea. 


"Adiknya istriku, anaknya ayah Adinata. Kenapa? Kamu suka?" tanya Aidin tanpa basa-basi. 

__ADS_1


Agha tertawa terbahak-bahak. Lalu menyeruput kopi untuk meredakan dadanya yang  bergemuruh. 


"Kalau iya, aku akan bicarakan ini dengan Ayah," imbuh Aidin. 


"Gak usah, aku bisa sendiri. Lagipula belum tentu dia mau sama aku." Agha sedikit tak percaya diri.


"Zea, ikut onty sini." Suara Rima dari arah ruang tengah kembali membuyarkan konsentrasi Agha. Pria itu menoleh ke arah Rima yang sedang bermain dengan Zea. 


"Umurnya dua puluh tahun. Sebentar lagi semester tiga. Anaknya baik, cerdas, gak jauh beda dari kakaknya."


Aidin membongkar data diri sang adik. Bukan karena ingin Agha segera menikahi gadis itu, namun setidaknya tahu seluk beluknya sebelum mereka terjebak dalam hubungan yang lebih serius. 


Agha mengangkat kedua bahunya. Ia tidak terlalu berharap, takut jatuh dan tak bisa bangun lagi. Sebab, menurutnya mencintai tanpa dicintai itu berat, dan ia belum sanggup untuk itu. 


Suara tangis menggema memenuhi ruangan. Agha terkejut saat melihat Zahra menggendong bayi, sedangkan Zea berlarian. 


"Anakmu dua?" tanya Agha menatap Zada dan Zea bergantian. 


Aidin mengangguk. "Iya, sekarang aku memiliki tiga bidadari cantik. Mereka yang menjadi penyemangatku saat lelah." 


Agha geleng-geleng kepala dengan penuturan Aidin, salut. Ternyata pria itu banyak berubah dan benar-benar menjadi suami dan ayah yang siaga. 


"Aku mau pulang, Kak," pamit Rima buru-buru. Menangkupkan tangannya di depan Aidin dan Agha. 


"Hati hati, jangan ngebut," pesan Aidin menatap punggung sang adik yang semakin menjauh. 


Rima mengangkat jempolnya tanda setuju. 


Cantik juga, kalau aku serius apa dia mau padaku? 


Lagi-lagi keraguannya lebih besar daripada keberaniannya. 


Tak lama berselang, Rima kembali masuk dengan wajahnya yang nampak merengut. 


"Kenapa?" tanya Aidin antusias. 


"Bannya kempes, dipompa gak bisa. Kayaknya bocor deh, Kak." 


Zahra ikut mendekati Rima. Begitupula dengan Agha dan Aidin. Mereka keluar melihat kondisi ban motor sang adik. 


"Tenang, biar aku yang anterin dia. Insya Allah amanah."

__ADS_1


__ADS_2