Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Kehamilan simpatik


__ADS_3

"Udah, Din. Nanti kamu sakit perut." Bu Lilian merebut potongan mangga yang ada di tangan Aidin. Giginya mengerat ikut merasakan masamnya buah yang masih berwarna hijau tersebut. 


"Tapi itu enak, Ma." 


Darren ikut bergidik. Dulu saat Keysa masih ngidam saja ia sering menghindar, dan sekarang harus menyaksikan adiknya sendiri yang mengalami. 


Keysa yang dari tadi mengawasi dari sofa semakin curiga dengan sikap Aidin yang sedikit tak biasa. Pasalnya, ia sering mendengar kehamilan yang simpatik, dan ada kemungkinan besar Aidin memang ngidam. 


"Apa Zahra hamil?" tanya nya tanpa mendekat. 


Aidin menoleh sambil menggeleng. Yang ia tahu memang tidak ada janin di rahim istrinya. Bahkan, semenjak menikah pun mereka hanya melakukan hubungan intim dalam hitungan jari. 


Bu Lilian duduk di samping sang putra yang masih menikmati sisa potongan mangga. "Kamu yakin Zahra gak hamil?"


Menggeleng lagi. Jangankan mengetahui istrinya hamil, selama ini ia tak pernah peduli apapun yang ada pada diri wanita itu, termasuk kesehatannya. 


"Bagaimana, apa kau sudah menemukan Zahra?"


Lagi-lagi Aidin hanya menggeleng tanpa suara. Satu telapak tangannya menutup mulut saat merasakan sesuatu yang aneh akan keluar. 


Hoeeekkk hoeeekk… Berlari ke kamar mandi, diikuti bu Lilian dari belakang. 


"Apa mama bilang, mangga muda itu gak baik untuk perut," tuturnya. Memijat tengkuk leher Aidin yang terus memuntahkan isi perutnya. 


Setelah terkuras habis, Aidin membasuh bibirnya dengan air bersih. Bingung dengan dirinya yang akhir-akhir ini merasakan gejala  aneh. 


Bersandar di bahu sang mama, merasa lemah fisik dan juga batinnya. Ini pertama kali merasa kacau. Hidupnya tanpa arah dan tujuan, seakan hampa dan kelabu. 


"Apa jangan-jangan aku sakit keras ya, Ma." Detak jantung semakin cepat tak beraturan, ada rasa takut yang menyeruak saat ingat mati. 


Seburuk-buruknya umat itu saat mati dalam keadaan penuh dosa dan belum taubat. 


Lagi, kajian yang sering ia dengar itu melintas di otaknya seolah-olah menghantui. Mengingatkan di setiap akan melakukan sesuatu yang salah. 


"Jangan ngomong gitu, mama jadi takut. Papa mu belum sembuh, masa kamu nyusul sakit sih?" Menepuk pundak lebar Aidin. 


"Mungkin cuma masuk angin biasa karena kebanyakan beraktivitas di luar," imbuhnya. Mencoba menenangkan Aidin yang sedikit lemah. 


Meskipun bu Lilian terus menenangkannya, Aidin sedikit cemas. Belum lagi saat kepalanya terasa pusing seakan ajal nya memang sudah dekat. 


"Tapi aku akan tetap periksa, siapa tahu memang ada penyakit."

__ADS_1


Bu Lilian menangkup kedua pipi kokoh sang putra. 


"Mama yakin kamu gak papa. Tapi, kalau mau memastikan, periksa saja." 


Ditemani  Richard, Aidin keluar dari ruangan pak Herman. Tak sengaja ia menabrak dokter wanita yang juga memegang knop pintu hingga beberapa dokumen di tangan wanita itu jatuh bertebaran. 


"Maaf, saya tidak sengaja." Aidin berjongkok. Memungut beberapa kertas yang teronggok di lantai. Tanpa disengaja matanya menangkap nama yang tak asing itu ada di sebuah lembaran kertas. 


Zahra Aulia. 


Hanya membaca dalam hati. Menatap dokter yang nampak menunggunya. Membaca gelar yang disandang sang dokter. 


Dia dokter kandungan, lanjutnya. Memberikan setumpuk kertas itu tanpa ingin bertanya. 


"Terima kasih, Tuan." Wanita itu berlalu setelah Aidin mengangguk, namun ia masih menatap  punggung sang dokter yang masuk ke sebuah ruangan. 


"Ada apa, Tuan?" tanya Richard membuyarkan lamunan Aidin. 


"Tidak ada apa-apa." Melanjutkan langkahnya menuju ruangan dokter Surya. Dokter yang di rekomendasi bu Lilian untuk memeriksa dirinya. 


Jika itu benar nama Zahra, memangnya dia sakit apa? Apa itu data saat dia sakit lambung waktu itu, tapi kenapa ada pada dokter kandungan. 


Langkahnya mulai pelan, seakan ingin berbalik arah dan meminta penjelasan, namun diurungkan mengingat rasa mual yang kembali menyerang. 


Aidin meremas perutnya, rasa itu sangat menyiksanya bak penyakit ganas. 


Beberapa orang yang melintas menatapnya aneh, ada yang menertawakannya pula saat terus mencengkeram lengan Richard. 


"Apa Tuan mau ke kamar mandi?" tawar Richard membantu menopang punggung sang bos. 


Aidin menggeleng. Sejenak bersandar di dinding sebelum melanjutkan langkahnya. 


"Kalau aku didiagnosa sakit parah dan umurku pendek, tolong bantu doakan aku,"  pinta Aidin memelas. Seolah-olah sudah berada di ujung maut. 


Richard terkekeh, terdengar lucu juga menyedihkan bagi dirinya. 


"Baik, Tuan," jawab Richard yang tak mau memperpanjang masalah. 


Aku harus segera menemukan Zahra.  Aku akan minta maaf padanya. 


Setibanya di ruangan dokter Surya, Aidin langsung berbaring seperti perintah dokter itu. Ia harus menjalani beberapa tahap pemeriksaan dari bagian kepala dan perut yang katanya mual. 

__ADS_1


"Apa Anda yakin sering mual dan pusing?" tanya dokter Surya memastikan. 


Aidin berdecak. Dari awal ia sudah mengatakan bahwa keluhannya memang itu, tapi kenapa harus dipertanyakan. 


"Apa untungnya aku berbohong, Dokter. Akhir-akhir ini aku sering pusing, perutku juga mual, dan aku suka makanan yang asam."


Suster yang ada di belakang Dokter Surya tertawa kecil. 


"Keluhan Tuan tidak aneh sih, seperti tetangga saya. Setiap pagi juga mual, muntah, pusing dan pengen nya makan ini itu, tapi karena istrinya hamil."


Dokter Surya menjentikkan jarinya membetulkan ucapan suster. 


"Itu yang mau saya katakan. Anda tidak mengidap penyakit apapun, dan mungkin saja istri Anda hamil."


Apa mungkin itu benar? Kenapa Zahra tidak pernah mengatakannya padaku? 


Aidin turun dari ranjang. Seandainya wanita itu ada di depannya pasti akan dipeluk dan didekap erat. Ditanya tentang kebenarannya,  tapi nyatanya hanya angan-angan yang entah sampai kapan akan menjadi kenyataan. 


Kalau dia beneran hamil, artinya aku akan memiliki anak. Lalu ke mana dia membawa pergi bayiku. 


Kirana 


Tiba-tiba nama gadis yang sering bersama Zahra terlintas di otak Aidin. Ia  bergegas keluar dari ruangan dokter Surya. Richard menyusul dari belakang. Mengikuti langkah Aidin menuju mobil. 


"Kita ke mana, Tuan?"  tanya Richard yang terus berusaha mengejar Aidin. 


"Ke rumah Kirana. Hanya dia kunci dari semua ini."


Dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan apapun. Mereka bergelut dengan otak masing-masing.


Meskipun dari hasil penyelidikan bahwa Zahra tidak ada bersama Kirana, Aidin yakin gadis itu tahu tentang apa yang terjadi.


Mobil berhenti di depan rumah ber cat putih. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Seseorang yang ia cari keluar dari rumah itu.


''Kirana," teriak Aidin dari arah mobil.


Kirana yang hampir naik motor terpaksa turun lagi. Menghampiri Aidin yang hanya berdiri di depan pagar.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Kirana pura-pura. Padahal, ia yakin kalau pria itu mencari Zahra.


"Apa kau tahu di mana Zahra?"

__ADS_1


Kirana menggeleng, karena Zahra memang tidak mengatakan tempat tinggalnya. Hanya pamit membawa separuh raga suaminya.


"Apa kau tahu kalau Zahra hamil?"


__ADS_2