Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Ide baru


__ADS_3

Terlihat sangat aneh saat Aidin menduduki kursi milik pak Herman. Semua staf yang hadir di ruang rapat saling tatap. Mereka tak berani untuk bertanya, namun bingung dengan Aidin yang tiba-tiba menjadi pemimpin tanpa ada klarifikasi lebih dulu. Seharusnya bukan hal yang sulit, mengingat Aidin adalah putra dari pemilik perusahaan itu. Akan tetapi, kinerjanya yang sedikit buruk membuat mereka ragu pada pria itu. 


Bagaimana perusahaan akan berkembang jika pemimpinnya adalah seseorang yang sering lalai dan mengabaikan pekerjaan?


Bukankah itu hanya akan menjatuhkan nama baik perusahaan yang sudah lama berada di puncak?


Begitu mereka berpikir tentang ke depannya. 


Suasana menjadi hening. Seolah-olah ruangan itu tak berpenghuni dan menjadi sunyi. Aidin mulai membuka laptop yang ada di depannya tanpa menghiraukan mereka yang menatap nya sinis. 


"Pasti kalian bingung kenapa saya ada di sini?" celetuk Aidin mengabsen satu persatu semua orang yang ada di tempat itu. 


Sebagian menunduk, sebagian menggeleng. Meskipun dalam hati berharap jawaban dari pertanyaan Aidin sendiri. Mereka memilih bungkam. 


"Mulai sekarang dan seterusnya, saya yang akan mengganti papa. Beliau menyerahkan kuasanya pada saya." 


Cukup jelas bagi mereka yang kini harus menerima Aidin sebagai atasan baru nya.


Setelah sekian lama tidak terlalu serius saat bekerja, kali ini Aidin tampak fokus dengan rapat itu. Ia memimpinnya dengan baik dan profesional layaknya pak Herman. 


Rapat berjalan lancar. Hampir dua jam akhirnya semua selesai dengan baik dan sesuai kesepakatan. Dalam waktu dekat, Aidin akan membangun proyek besar. Dan ini adalah proyek pertamanya menjadi presdir. 


Satu gedung kini menjadi heboh dengan pemimpin baru. Banyak dari mereka bahkan tak percaya bahwa pak Herman menyerahkan kursinya pada Aidin. Terasa mustahil jika perusahaan itu akan lebih maju dari sebelumnya. 


"Aku harus memberitahu Amera." 


Aidin yang duduk di kursi kebesarannya itu meraih ponsel yang ada di meja lalu menghubungi Amera. 


"Ada apa, Sayang?" tanya Amera mengawali pembicaraan. 


"Aku punya hadiah untuk kamu, dan aku yakin kamu pasti suka." 


"Apa?" tanya Amera dengan penasaran yang tinggi. 


"Sekarang aku yang memimpin perusahaan papa. Dia menyerahkan seluruh kekuasaannya padaku dan membatalkan pencabutan nama Adijaya." 


Amera yang mendengar itu langsung melompat kegirangan. Ia tak bisa membendung kebahagiaannya lagi. Berasa ketiban durian di siang hari. 


"Kamu gak bohong, kan?" tanya Amera lagi memastikan, bahwa Aidin tak hanya menghiburnya. 


"Untuk apa berbohong, tapi __" 

__ADS_1


Aidin mengucap dengan sedikit berat. Ia teringat ucapan pak Herman yang melarangnya berhubungan dengan Amea. 


"Tapi apa?" tanya Amera dengan suara pelan. Dadanya mulai bergemuruh, meskipun hanya bicara lewat ponsel, ia bisa membaca jika Aidin memendam sesuatu. 


"Papa melarangku berhubungan denganmu, jadi kita tidak bisa bertemu sembarangan."


"It's okay, nggak masalah. Yang penting kita nikmati kemenangan ini. Khusus malam ini kita harus bertemu," pinta Amera mengiba. 


"Tidak masalah, nanti aku hubungi kamu lagi."


Hari yang cukup melelahkan. Ternyata menjadi seorang pemimpin tak serumit yang Aidin kira. Hari ini ia bisa mengendalikan pekerjaan dengan baik. Ia pun ingin membuktikan pada mereka tentang jati dirinya yang sebenarnya lihai dan mampu untuk menjadi atasan mereka. 


"Selamat sore, Pak," sapa seorang wanita sambil mengetuk pintu yang sedikit terbuka. 


"Sore, silahkan masuk!" 


Wanita yang berparas cantik dan berpakaian seksi itu duduk di depan Aidin. Wajahnya tak asing lagi, dia adalah Prasasti, sekretaris pak Herman yang sudah bertahun-tahun bekerja di kantor itu. 


"Ini laporan hari ini." Menyodorkan map di depan Aidin. Menjelaskan secara rinci isi dari dokumen itu. Sebab, beberapa jam yang lalu wanita itu mendapat telpon dari pak Herman untuk membimbing Aidin supaya lebih serius lagi. 


"Semoga sukses," ucap Prasasti sebelum meninggalkan ruangan Aidin. 


Aidin menatap punggung Prasasti hingga menghilang di balik pintu. Otaknya berkelana mencari cara supaya malam ini  bisa bertemu dengan Amera. 


Aidin menyambar jas dan memakainya. Ia meninggalkan ruangan karena sudah waktunya pulang. 


Sementara di rumah sakit 


"Kamu gak pulang, Za?" tanya pak Herman sembari menatap Zahra yang nampak asyik membaca buku novel untuk menghilangkan jenuh. 


"Nungguin mas Aidin, Pa. Katanya mau menjemputku," terang Zahra setelah tadi membaca pesan dari Aidin. 


Pak Herman tersenyum. Berharap penuh Aidin bisa berubah dan mau menerima Zahra sebagai istri yang sesungguhnya. 


Tak berselang lama, Aidin datang dengan wajah lelahnya. 


Layaknya seorang istri pada umumnya, Zahra segera menutup buku dan menyongsong kedatangan sang suami. 


"Mama di mana, Pa?" tanya Aidin menghampiri pak Herman. 


"Mama dan kakak kamu pergi ke  supermarket sebentar," pungkas pak Herman. 

__ADS_1


"Bagaimana keadaan papa hari ini?" tanya Aidin memastikan. 


"Alhamdulilah papa jauh lebih baik. Besok papa mau pulang." 


"Kenapa buru-buru? Bukanlah papa masih butuh perawatan?" tanya Aidin antusias. 


"Ada perawat yang akan membantu papa cepat sembuh." Menyungutkan kepala ke arah Zahra yang sedang membereskan baju-bajunya ke dalam tas. 


Mata Aidin mengikuti ke mana pak Herman memandang. 


Aku gak tahu kelebihan apa yang dia punya sampai papa sangat menyukainya.


Aidin tersenyum paksa. Ia tak mau membuat hati pak Herman itu menjadi buruk. Lebih baik mengikuti alur yang ada sampai waktunya tiba. 


Suara gemuruh dari arah pintu membuat Aidin dan Zahra menoleh. Ternyata bu Lilian dan Darren yang baru datang. 


"Kamu sudah pulang, Din?" Bu Lilian meletakkan beberapa barang belanjaan di meja lalu menghampiri Aidin. 


"Iya, Ma. Sekalian mau menjemput Zahra." 


Terdengar sedikit tabu, namun itulah kenyataannya. 


"Ya sudah, sekarang kalian pulang saja. Mama dan kakak kamu yang akan tidur di sini." Menarik tangan Zahra hingga wanita itu berada di samping Aidin. 


Zahra terlihat canggung, ia harus senang atau tetap cuek. Hatinya belum sepenuhnya percaya dengan sikap Aidin yang tampak lembut. 


Setelah mereka berdua di parkiran pun sikap Aidin membuat Zahra tercengang. di mana pria itu membukakan pintu mobil untuknya. 


"Kenapa bengong, masuk!" titah Aidin saat Zahra tak juga masuk ke dalam. 


"Gak usah, Mas. Aku duduk di belakang saja." Membuka pintu belakang lalu duduk di sana. 


Aidin menutup pintunya lagi. Pasti dia tidak mau duduk karena bekas Amera. 


Aidin berlari masuk meninggalkan Zahra yang sudah berada di mobil.


Lima belas menit kemudian, pria itu kembali dan membuka pintu bagian belakang. 


"Kita pakai mobil kak Darren. Besok aku akan menjual mobil ini dan akan membeli mobil baru," ucapnya. 


Eh, ada apa dengan mas Aidin, apa dia kesurupan jin baik. Sampai rela menjual mobil kesayangannya hanya demi aku yang tidak mau duduk di depan. 

__ADS_1


Zahra mengikuti langkah Aidin menuju mobil Darren. Akhirnya ia mau duduk di depan seperti keinginan pria itu. 


__ADS_2