Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Permintaan pak Herman 2


__ADS_3

Aidin memilih menginap di apartemen Amera. Ia tak mungkin datang ke rumah Agha, yang ada bukan mendapat dukungan melainkan omelan. Hanya wanita itu satu-satunya orang yang mengerti dirinya di saat terpuruk seperti ini. 


"Kenapa wajahmu sampai kayak gini sih? Memangnya kamu berantem sama siapa?"


Dengan hati-hati Amera membersihkan luka di bagian pipi Aidin. Mengelap nya dengan air hangat lalu memberinya salep. 


Aidin menatap Amera sekilas. Sejak datang, ia memang belum cerita tentang apa yang terjadi sebelumnya. 


"Ini ulah Kak Darren," jawab Aidin singkat. Menyandarkan kepalanya di bantal sofa. 


Amera menghentikan aktivitasnya. Mengingat saat Darren menghubungi Aidin berkali-kali. 


Oh, mungkin karena ini Darren menghubungi nya. Sorry, bagaimanapun juga malam ini aku tidak akan membiarkan Aidin pergi. Dia akan menjadi milikku. 


Amera membawa air ke belakang. Lalu kembali dengan beberapa menu makanan di tangannya, dan meletakkannya di atas meja. 


"Kamu makan dulu, nanti baru tidur." 


Amera membantu menyuapi Aidin. Kasihan melihat wajah pria itu yang tampak lebam, bahkan matanya terlihat menghitam akibat hantaman. 


"Me, aku mau bicara sama kamu." Aidin menahan tangan Amera yang menyodorkan sendok ke mulutnya. 


"Tentang apa?" Amera ikut menanggapinya dengan serius. 


"Sekarang aku sudah tidak bekerja di kantor papa. Dia sudah mengeluarkan aku dari keluarga Adijaya," ungkap Aidin dengan berat, namun ia harus mengatakan itu sekarang daripada terlambat. 


Awalnya Amera tercengang, namun kemudian tertawa lepas dan kembali menyuapi Aidin. 


"Jadi itu yang ingin kamu bicarakan?"


Aidin mengangguk tanpa suara. Mengunyah makanannya dengan susah payah akibat menahan sakit di bagian pipi. Harap-harap cemas dengan Amera. Apakah masih menerimanya atau justru akan meninggalkannya? 


"Aku tahu caranya supaya kamu bisa mendapatkan hak kamu lagi."


"Bagaimana?"


Amera mendekatkan bibirnya di telinga Aidin. Dalam hitungan menit, ia kembali duduk dengan tegak sembari tersenyum puas. 


"Kamu yakin ini akan berhasil?"


Amera mengangkat jempolnya. Ia yakin ide yang diberikan itu akan berhasil, entah apa yang diucapkan hanya mereka dan Allah yang tahu. 

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hampir satu jam Aidin merenungi rencana yang diusulkan Amera, dan ia rasa itu memang jalan yang tepat supaya dirinya bisa melepaskan Zahra. Namun, masih tetap menyandang nama Adijaya. 


Amera yang dari tadi ada di kamar, kini keluar berhamburan memeluk Aidin. 


"Aku rindu kamu," ucapnya manja. Mendaratkan bibirnya di pipi pria itu. 


"Aku kira kamu sudah tidur." 


Aidin mengubah posisinya. Menarik ceruk leher Amera dan menyatukan bibirnya. Tak seperti biasanya yang akan melanjutkan sampai puas, kali ini dalam hitungan detik ia melepaskannya lagi. Seakan suara Zahra kala itu terngiang-ngiang di telinganya. 


Nikahi Amera, setelah itu kamu bebas melakukan apapun padanya. 


Tak hanya ucapan itu, bayangan wanita cantik yang sering memakai hijab berwarna hitam gelap itu pun seakan berjalan di depannya, seperti terus mengingatkan pada Aidin untuk tidak berbuat dosa. 


"Me, kita bisa melanjutkan ini setelah menikah."


Aidin menutup dada Amera yang terekspos. Ia memalingkan pandangannya ke arah dinding. 


"Kamu kenapa?" tanya Amera masih bergelayut manja. Bahkan, tangan wanita itu terus merayap mencari titik sensitif dari tubuh Aidin. 


"Aku ngantuk," jawab Aidin singkat. Berusaha penuh untuk tidak tergoda dengan tubuh seksi Amera. Padahal, tinggal selangkah lagi mereka sudah saling melepas hasrat. Namun, hati kecil yang terdalam Aidin merasakan ada sesuatu yang terus mendorongnya untuk tidak melakukan itu. 


"Baiklah, kalau begitu aku akan sabar sampai kita menikah." 


Terdengar suara pintu yang tertutup. Sudah dipastikan Amera masuk ke kamar. 


Aidin menyalakan ponselnya yang beberapa jam mati. 


Betapa terkejutnya saat melihat sepuluh pesan dari Darren. 


Din, kamu dimana? Cepat pulang. Papa sakit.


Sekarang papa dibawa ke rumah sakit, dia ingin bertemu dengan kamu. 


Cukup dua pesan sudah membuat dada Aidin bergemuruh. Meskipun ia sempat sakit hati pada pak Herman yang sudah mencabut namanya dari keluarga Adijaya. Ia tak akan pernah melupakan sang papa yang sudah membesarkan namanya menjadi direktur. 


Aidin menyambar jaketnya lalu pergi tanpa pamit pada Amera. 


Setibanya di depan rumah sakit, Ia langsung turun. Tak sengaja mata Aidin  menangkap seorang wanita yang baru saja turun dari ojek.


"Apa Zahra juga akan menjenguk papa?" Melihat jam yang melingkar di tangannya. Lalu melanjutkan langkahnya lagi. 

__ADS_1


Zahra yang melihat Aidin masuk lebih dulu itu pun mengikuti dari belakang. Sebab, ia yakin bahwa pria itu akan menjenguk pak Herman seperti dirinya. 


Aidin menghampiri Bu Lilian dan Darren yang duduk di kursi besi. Dinginnya malam mampu menusuk tulang seakan terkalahkan oleh rasa kesedihan yang mendalam. 


"Bagaimana keadaan papa, Ma?"


Bu Lilian menoleh ke arah Aidin. Matanya berkaca-kaca lalu mengelus pipi sang putra yang masih sedikit memerah. Kemudian menengok di belakang Aidin tanpa menjawab pertanyaan pria itu. 


"Papa ingin bertemu kamu dan Zahra. Menghampiri Zahra yang baru tiba."Kalian masuk, papa sudah menunggu." Menggandeng Zahra dan membawanya masuk. 


Bunyi monitor terdengar stabil. Pak Herman tersenyum melihat Aidin dan Zahra yang saling beriringan mendekatinya.


Bu Lilian dan Darren pun berdiri di sisi ranjang bagian kiri. Malam ini Keysa pulang mengingat ia yang sedang hamil besar dan harus istirahat. 


Ruangan terasa menyempit hingga Zahra tak bisa jauh dari Aidin. Ia menundukkan kepala saat pak Herman memanggil namanya. 


"Maafkan papa sudah mengganggumu," ucap pak Herman dengan suara berat. 


"Gak papa, Pa. Cepat sembuh. Aku bisa ke sini kapanpun."


Tangan pak Herman mengulur. Meraih tangan Zahra dan meletakkannya di atas perut. Setelah itu meraih tangan Aidin dan lagi menumpuk di atas punggung tangan Zahra. 


Aidin menatap Zahra yang terus mengusap air matanya. Wanita itu pun nampak sedih seperti bu Lilian. 


"Za, Din. Apa kalian mau memenuhi permintaan papa?"


Aidin dan Zahra saling tatap. Mereka saling membisu dengan pikiran masing-masing. 


Zahra menunggu Aidin, karena ia tidak berhak untuk memberi jawaban, takut salah kata. 


Aidin menatap mamanya, tak mungkin menyakiti wanita itu lagi untuk yang kedua kali nya. 


"Aku akan memenuhi permintaan papa. Sekarang papa cepat sembuh," ucap Aidin setelah beberapa saat terdiam. 


Pak Herman tersenyum dan menyatukan tangan Aidin dan Zahra. 


"Pertahankan pernikahan kalian, karena hanya itu yang akan membuat papa mempunyai semangat untuk sembuh," pinta pak Herman menekankan. 


Maafkan aku, Me. Kali ini aku tidak bisa menolak permintaan papa. Aku janji akan segera melepas Zahra setelah papa benar-benar sembuh. 


"Baik, Pa. Aku dan Zahra akan kembali seperti yang papa mau." 

__ADS_1


Meskipun Aidin terlihat bersungguh-sungguh, Zahra tidak percaya begitu saja, dan yakin itu hanya sandiwara Aidin saja. 


__ADS_2