
"Zea masih bayi, ngapain beli baju sebanyak ini, Mas?" tegur Zahra sembari melihat beberapa baju yang dibeli Aidin.
Darren hanya menanggapinya dengan senyum. Padahal, yang dilihat Zahra itu hanya sebagian, belum tahu saja kalau di rumah baru mereka sudah penuh dengan barang-barang mewah.
"Jangan iri, Sayang. Aku juga sudah membelikanmu banyak baju, kok. Malah langsung pesan dari desainer ternama."
Bukan lagi hal yang istimewa bagi Zahra, untuk saat ini ia hanya mengharapkan kesetiaan pria itu, bukan barang mahal atau uang banyak.
"Memangnya hari ini ada syukuran apa, rumah baru atau untuk Zea?"
Zahra merapikan hijab dengan bantuan Aidin. Hari ini mereka memutuskan untuk pulang. Mengingat kondisi Zahra yang sudah membaik, juga sudah diperbolehkan pulang oleh tim medis.
Sedangkan untuk pak Herman, harus menginap beberapa hari lagi di rumah sakit karena masih dalam proses pemulihan, namun karena acara itu tak bisa diundur lagi, Aidin tetap pulang lebih dulu.
"Acara syukuran ini khusus untuk kamu."
"Untukku?" Menunjuk dadanya yang tertutup hijab.
Aidin mengangguk kemudian menyuruh supir untuk membawa barang-barang yang sudah dirapikan.
Darren keluar lebih dulu bersama dengan Keysa dan Delia.
Sebenarnya masih ada pertanyaan lagi, namun karena Aidin sudah siap juga, Zahra mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Rumah baru yang dibeli Aidin berjarak cukup dekat dari rumah sakit, hingga mereka hanya menghabiskan waktu beberapa menit untuk tiba di tempat tujuan.
Aidin membuka kaca mobilnya, menunjukkan pada Zahra, rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya.
"Apa kamu suka?" Bisa-bisanya Aidin masih bertanya seperti itu pada Zahra yang selalu menerima apapun pemberiannya. Sebab, selama ini ia tidak pernah memandang dari kemewahan, akan tetapi keikhlasan hatinya.
Zahra hanya mengangguk kecil tanpa suara. Dari depan matanya sudah dimanjakan dengan sebuah taman luas yang berwarna hijau. Ada beberapa pohon yang berjejer sisi kiri kanan jalan masuk. Rumah yang berdinding kaca itu terlihat begitu mewah dan elegan. Ornamen-ornamen mempercantik bagian depan dan samping.
"Kenapa rumahnya mewah? Bukankah kita tinggal di sini hanya untuk beberapa hari?"
Zahra turun dari mobil. Kini bangunan itu terlihat lebih jelas, bahkan terlihat lebih mewah dari rumah yang dulu ditinggali bersama Aidin.
__ADS_1
"Kita memang hanya beberapa hari, tapi aku ingin memberikan tempat yang nyaman untuk kamu dan Zea."
Aidin menuntun Zahra. Menunjukkan beberapa tempat yang di desain sebagus mungkin untuk mereka bersantai.
Setelah puas berkeliling. Mereka membuka pintu depan. Tiba-tiba saja suara riuh menggema dari arah ruang tengah. Tepuk tangan meriah diiringi lagu ucapan selamat ulang tahun membuat Zahra kaget.
"Siapa yang ulang tahun, Mas?" tanya Zahra antusias, ia benar-benar tidak tahu acara itu.
"Gak mungkin Zea, dia baru berumur tiga hari." Aidin menjawab penuh dengan teka-teki, memancing Zahra yang terlihat kebingungan.
"Lalu?"
"Kamu benar-benar gak ingat kalau hari ini ulang tahun kamu yang ke dua puluh satu?"
Zahra terharu sekaligus terkejut. Matanya berkaca-kaca melihat Darren dan Keysa membawa kue ke arahnya. Diikuti Mama Delia dan Cherly serta yang lain dari belakang. Tangannya memeluk Aidin dan menumpahkan air matanya di pelukan pria itu.
Semua itu diluar dugaan, perjalanan hidup yang penuh dengan duri ia lalui seorang diri. Tak pernah membayangkan akan mendapatkan kejutan dari suami, dan ini adalah pertama kali ulang tahunnya dirayakan begitu meriah.
"Selamat ulang tahun, Istriku. Barakallah fii umrik." Aidin mengucap dengan nada lirih. Mengecup pucuk kepala Zahra dengan lembut. Mengusap punggungnya yang masih bergetar hebat, bahkan tak memperdulikan mereka yang segera ingin mengucapkan selamat.
Sisa isakan mengiringi senyum bahagianya.
Aidin mengeluarkan dompet yang kala itu didapatkan di hotel. Benda yang secara tidak langsung menjadi petunjuk keberadaan Zahra.
"Maaf, aku terlambat. Sebenarnya semalam aku sudah pesan kue, tapi karena tidur kamu terlalu nyenyak, aku gak tega bangunin."
Zahra jadi malu, entah kenapa semalam memang tidak bangun sama sekali, bahkan Zea harus minum asi yang sudah dipompa sebelum tidur.
"Maka nya, kalau bangunin aku yang keras, Zahra ada maling." Menirukan gaya orang berteriak, "pasti aku bangun."
Semua tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan itu.
Setelah puas dengan Aidin, Zahra memeluk Delia dan keluarga yang lain bergantian.
Ucapan selamat dan doa bertubi-tubi diterima. Bu Lilian juga ikut mengucapkan lewat telepon. Sayang sekali di momen yang bahagia ini sang mertua tak bisa hadir karena masih ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Cepat pulang ya, Pa. Nanti aku bikinin kue spesial untuk Papa dan Mama."
Pak Herman mengangkat kedua jempolnya. Melihat kedua anaknya yang rukun bersama istri masing-masing membuatnya lega. Bebannya lenyap seketika bersama penyakit yang kini sudah diangkat.
Zahra mempersembahkan potongan kue pertamanya untuk Delia. Bukan tanpa alasan, itu adalah perintah dari Aidin.
"Aku kangen ayah." Tiba-tiba ucapan itu meluncur saat Delia menerima suapannya. Sejahat apapun Adinata, Zahra tak bisa melupakan pria itu yang sudah membesarkannya.
Aidin mengusap lengan Zahra dengan lembut. "Nanti kalau pulang, kita langsung ke rumah ayah."
"Apa aku gak bisa bicara lewat telepon seperti dengan mama? Apa ayah terlalu sibuk sampai tak ada waktu untukku?"
Aidin merogoh ponselnya. Kemudian menghubungi Adinata seperti permintaan sang istri.
Tak menunggu waktu lama, dalam hitungan detik ponsel sudah tersambung. Adinata menyapa Aidin yang nampak di layar.
"Ada apa, Din?" tanya Adinata tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Ada yang ingin bicara dengan, Ayah." Menggeser ponselnya tepat di depan Zahra, hingga keduanya bertatap muka.
"Z—Zahra, kamu bersama Aidin?" Adinata tersenyum lebar. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat wajah ayu putrinya.
"Hari ini aku ulang tahun yang ke 21. Akhirnya aku bisa merayakan ulang tahunku, Yah. Mimpiku terkabul. Allah mendengar doaku."
Adinata mengalihkan pandangannya. Tak merespon apapun tentang ucapan Zahra.
"Apa ayah tidak ingin mengucapkan selamat dan mendo'akanku?"
Akhirnya Zahra mengungkap isi hatinya, tidak ada kado terindah selain doa. Dan ia ingin mendapatkan itu dari semua orang, termasuk ayah kandungnya.
"Selamat ya, Nak. Semoga kamu bahagia dan apa yang kamu inginkan bisa terkabul semuanya."
Belum juga menjawab, ponsel sudah dimatikan oleh Adinata. Tidak apa, yang penting sudah bisa bicara dengan ayahnya meskipun singkat. Meskipun wajahnya sedikit meredup, tetap hari ini ingin bahagia.
Sampai kapan ayah cuek padaku, apa aku ini benar-benar tak diinginkan. Apa tidak ada tempat untukku walaupun sedikit.
__ADS_1
Adinata yang ada di seberang sana hanya bisa meratapi nasib seraya menatap foto Zahra yang ada di depannya.
"Jangan panggil aku ayah, Nak. Aku tidak pantas disebut ayah olehmu."