
Amera membuka pintu setelah beberapa kali diketuk dari luar. Ia terperanjat kaget ketika melihat seseorang yang datang. Kakinya mengayun ke belakang saat pria itu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Tu–Tuan Aksen," sapanya gagu. Sekujur tubuhnya gemetar saat menghadapi pria itu. Menyandarkan punggungnya di dinding demi bisa berdiri tegak.
Bukankah ini hari minggu, apa dia mau menagih hutangnya padaku?
Otak Amera terus berputar mengingat-ingat batas waktu dirinya membayar denda di perusahaan pria itu.
"Kamu pasti tahu tujuanku datang ke sini?" Pria yang dipanggil Aksen itu masuk tanpa dipersilahkan. Duduk di ruang tamu. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang mewah. Ada beberapa perabot yang mahal. Namun, bukan merampas barang-barang itu tujuannya, melainkan ada hal lain.
Amera menundukkan kepala. Kedua tangannya saling terpaut, wajahnya pucat pasi.
"Maaf, Tuan. Saya memang tidak tahu tujuan Anda datang ke sini, karena hari ini belum jatuh tempo."
Aksen memanggil salah satu anak buahnya yang berdiri di depan pintu. Kemudian membuka map yang beberapa detik pindah di tangannya.
"Kata siapa? Ada perubahan yang kamu tidak tahu."
Menyodorkan selembar kertas itu di depan Amera.
Seketika itu Amera mengambilnya dan membaca dengan teliti.
Benar saja, tulisan yang ada di kertas itu jauh berbeda dengan perjanjian awal. Jika sebelumnya Amera diberi waktu seminggu, akan tetapi di dalam tulisan itu hari ini adalah batas yang ditentukan oleh perusahaan.
"Ini namanya curang." Amera tak terima, ia meletakkan kertas itu kembali di atas meja. Kemudian menggeleng cepat.
"Curang bagaimana? Jelas-jelas di sini tertulis bahwa perusahaan berhak mengubah isi dari perjanjian itu, apa Anda tidak melihatnya?" Menunjuk tulisan yang ada di bagian paling bawah.
Tanpa membaca Amera juga ingat tulisan itu, tapi ia tetap tak terima dengan keputusan baru yang seolah menjepit keadaannya.
"Kalau Anda gak mau membayarnya, maka kami akan melaporkan kasus ini ke polisi."
"Ba…baik, aku akan segera membayarnya, tapi beri waktu malam ini saja. Besok aku akan datang ke kantor."
Amera meyakinkan Aksen. Setidaknya dalam kurun waktu yang singkat itu ia bisa mencari bantuan.
Aksen mengambil mapnya lalu berdiri dari duduknya. "Oke, aku tunggu di kantor, kalau kamu tidak datang, maka polisi yang akan datang ke sini untuk menangkapmu."
Tuan Aksen pergi meninggalkan apartemen milik Amera yang membuat wanita itu sedikit lega.
__ADS_1
Sial, kenapa bisa seperti ini?
Amera mengunci pintunya lalu berlari ke kamar. Mengambil ponselnya yang ada di nakas.
Menghubungi Aidin, karena hanya pria itu satu-satunya harapan Amera bisa selamat dari jeratan jeruji besi.
Tersambung
Amera mengabsen lantai kamarnya. Satu tangannya menekan benda pipih di telinga, sedangkan yang satunya berkacak pinggang. Semakin panik saat Aidin tak juga mengangkat telepon darinya.
Zahra yang merasa terusik dengan dering ponsel itu terbangun. Mengikat rambut panjangnya lalu mencari Aidin yang tak ada di sampingnya.
Usai menceritakan apa yang terjadi di kantor, pria itu memang keluar dari kamar, dan mungkin belum kembali sampai saat ini.
"Apa aku angkat saja ya, barangkali penting." Meraih ponsel milik suaminya. Menatap nomor yang tak tersimpan di benda pipih tersebut.
"Siapa ini?" gumamnya kecil.
Zahra menggeser lencana warna hijau tanda menerima. Mendekatkan ponsel itu di telinganya.
"Halo, Din. Ini aku."
Suara familiar menyapa dengan lugas. Meskipun jarang sekali bertemu, Zahra tak pernah lupa dengan wanita yang sudah menyelusup ke dalam rumah tangganya. Menghancurkan pernikahannya hingga hampir kandas.
"Kamu kirimkan uang sebesar 2M sekarang, atau malam ini juga aku akan menyebar foto perselingkuhan kita di sosmed."
Deg deg deg
Jantung Zahra berirama lebih kencang. Takut dengan ancaman Amera. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Pasti tak hanya Aidin yang malu, tapi juga keluarga Adijaya, termasuk Darren.
Zahra masih membisu. Otaknya berkelana mencari cara untuk menghadapi masalah itu.
Apa yang harus aku lakukan, aku gak mau mas Aidin tertipu lagi. Tapi aku __"
Zahra bingung. Ia harus melakukan sesuatu untuk mencegah ulah Amera. Tapi dengan cara apa?
Tidak ada cara lain, Zahra memutus sambungannya lalu mengetik sesuatu dan mengirim ke nomor Amera.
Ceklek
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Aidin masuk dan menghampirinya.
"Sejak kapan kamu bangun?" Aidin melihat ada guratan ketakutan di wajah Zahra, kemudian mengambil ponselnya dari tangan wanita itu.
Tanpa bertanya, Aidin meraih ponselnya dan memeriksa. Sebab, tidak mungkin Zahra memegang barang miliknya jika tidak ada sesuatu yang penting.
Alisnya mengernyit melihat nomor yang tak dikenalnya itu bertengger paling atas.
"Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu. Maksudnya ini apa, Sayang?" tanya Aidin memperjelas. Ia merasa tak menulis pesan itu.
"Tadi, Amera menelponmu. Dia meminta uang dua miliar," kalau sampai kamu tidak memberinya, maka dia akan menyebarkan perselingkuhan kamu dan dia," jawab Zahra terputus-putus.
Mati-matian ia menjaga supaya aib suaminya itu tertutup rapat, dan tidak mungkin karena satu kesalahan akan terbongkar, begitulah Zahra berpikir.
"Aku takut kalau itu sampai terjadi pasti papa dan mama akan syok."
Aidin meraih tubuh ramping yang ada di depannya. Mendekapnya di bawah pencahayaaan yang temaram. Menciumnya berulang kali tanpa henti.
"Kalau Mas gak punya uang, aku bisa pinjam mama, kok. Yang penting Amera tutup mulut." Dengan keluguannya, Zahra terus berucap dan itu membuat Aidin gemes.
"Sekarang lebih baik kamu tidur. Jangan pikirkan apapun, karena Richard sudah punya cara untuk mengatasi ini semua."
Zahra mendongak, menatap suaminya yang sedikitpun tak khawatir dengan ancaman Amera.
"Ini serius, Mas."
Aidin hanya mengangguk, menggiring Zahra menuju ranjang. Membaringkan wanita itu dan menyelimutinya.
Hampir satu jam menunggu, Amera tak kunjung mendapat notif dari bank, ia semakin geram dengan Aidin yang sudah membohonginya.
Terpaksa ia melakukan panggilan lagi pada pria itu.
Beberapa detik kemudian, Aidin mengangkat teleponnya, tanpa basa-basi menyapa sang mantan dengan ucapan selamat malam.
"Aku rasa kamu tidak lupa dengan ucapanmu tadi, Din?"
Aidin menatap Zahra yang ada di sampingnya. Wanita itu nampak bersalah karena sudah memberi jawaban yang salah."
"Ucapan yang mana? Aku merasa tidak berkata apapun," jawab Aidin dengan santai. Ancaman-amcaman apapun sudah tak membuatnya takut karena sudah ada rencana yang lebih jitu untuk menjatuhkan wanita itu.
__ADS_1
Amera memaki-maki Aidin yang pura-pura bodoh, dan itu didengar langsung oleh Zahra.
"Siapkan saja dirimu untuk menikmati enaknya hidup dipenjara, karena aku yakin besok pagi akan ada polisi yang datang," ucap Aidin penuh kemenangan.