
Richard dan Aidin saling diam. Mereka hanya akan bicara tentang pekerjaan. Selebihnya membisu dengan pikiran masing-masing. Pembalasan belum berujung. Aidin masih kesal dengan ulah sekretarisnya itu. Begitu juga sebaliknya. Mereka tidak ada yang mengalah.
Malam ini adalah malam yang spesial, dimana Delia mengundang Richard untuk makanan malam bersama keluarga besar lainnya. Tak lupa, Adinata pun datang memenuhi undangan mantan istrinya.
Delia sengaja menggelar acara itu di restoran, takut Adinata dan istrinya tak mau datang.
Adinata duduk bersama keluarganya. Zahra berada di tengah keluarga Aidin. Darren dan Keysa juga datang karena desakan dari mamanya. James pun bersama dengan Hanif dan yang lainnya. Kirana dan Iqbal pun ikut hadir.
"Ini untuk merayakan apa, Ma?" tanya Zahra di tengah ramainya percakapan mereka.
"Untuk merayakan bersatunya kita. Keluarga kita pecah belah karena berbagi masalah yang menampar, dan sekarang mama bersyukur kita semua bisa berkumpul lagi."
Zahra memeluk sang mama, ia terharu dengan niat baik itu.
"Mulai hari ini, kita adalah keluarga. Saling bergandengan tangan. menghadapi masalah bersama-sama. Tidak boleh ada yang egois dan menang sendiri." Melirik ke arah Richard dan Aidin. Sebab, Zahra tahu mereka masih saling bermusuhan.
Aidin yang merasa tersindir bukan meminta maaf atau memperbaiki hubungannya dengan Richard, justru pria itu pura-pura sibuk dengan makanannya, bahkan mengabaikan Zea yang ada di pangkuan bu Lilian.
"Ada yang merasa musuhan?" sahut James.
Richard menundukkan kepalanya. Tak berani mengakui bahwa ia dan Aidin sedang bermasalah.
"Kalau gak ada yang ngaku. Malam ini bakalan ada yang tidur __"
"Aku dan Richard." Aidin memotong ucapan Sang istri yang terdengar seperti sebuah ancaman. Ia sudah tahu lanjutan dari ucapan itu, jadi sudah cukup dan tidak usah diteruskan lagi.
Ucapan Zahra lebih menakutkan dari apapun hingga Aidin mengesampingkan ego. Ia mengalah dan mengakui di depan semua orang.
Meskipun begitu, Richard yang lebih dulu menghampiri Bosnya dan meminta maaf. Keduanya berpelukan di depan semua keluarga.
"Jangan diulangi lagi. Kalau sampai itu terjadi, aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan," bisik Aidin serius.
"Baik, Tuan," Richard menjawab dengan ramah.
Suasana kembali hangat. Mereka tampak menikmati makanan yang tersaji di depan masing-masing.
"Bulan depan Hanif dan Evana sudah menikah, setelah itu disusul Iqbal dan Kirana. Kamu kapan, Chard?" tanya Delia mencairkan suasana. Sebab, di antara tamu undangan hanya pria itu yang belum memiliki pasangan.
Richard tersedak makanan yang hampir masuk ke kerongkongan. Pertanyaan itu seperti sebuah jebakan betmen yang tak bisa dijawab.
Ia terdiam, antara malu dan ragu dengan jawaban yang akan dilayangkan.
"Saya __" Richard menggantung ucapannya, seolah-olah ada sesuatu yang menahan suaranya supaya tidak meluncur.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku jodohkan dengan Rima?" sahut Adinata.
Richard mengabsen setiap wanita yang ada di tempat itu. Sepertinya ia masih kebingungan dengan gadis yang disebut ayahnya Zahra.
Seorang gadis cantik yang duduk disamping Zahra tersipu malu. Gadis yang baru semester tiga itu juga tampak tenang dengan ucapan ayahnya.
Delia tersenyum. Ia menatap putri dari mantan suaminya itu.
Cantik, bahkan mata nya mirip dengan mata Zahra.
"Ini yang namanya Rima." Aidin menunjuk adik iparnya dari arah samping.
Pyar
Tiba-tiba saja gelas yang ada di tangan Cherly jatuh mengejutkan semuanya termasuk Richard yang duduk di samping nya.
"Kamu gak papa?" tanya Richard khawatir.
Cherly membungkuk menyembunyikan matanya yang sudah dipenuhi cairan bening. Tangannya mengulur memungut pecahan gelas itu.
Lagi-lagi ringisan itu membuat semua orang panik.
Ia segera berjongkok dan mencecap darah yang keluar dari jari Cherly.
"Gak pap, Pa." Cherly menjawab dengan bibir bergetar.
Richard yang berada di dekat wajah Cherly bisa mendengar suara isakan kecil yang tertahan. Ia mendongak, menatap pipi gadis itu yang dipenuhi dengan air mata.
"Gak papa, ini cuma luka kecil, kok," ucap Richard menenangkan.
Cherly kembali duduk seperti semula. Begitu juga yang lainnya.
"Cherly memang cengeng. Dia itu gak tahan sakit," pungkas Delia. Membantu Richard membalut luka Cherly dengan plester.
"Bagaimana, Chard? Apa kamu setuju aku jodohkan dengan Rima?" Adinata kembali membahas perihal perjodohannya tadi.
Richard tersenyum ramah. Sebagai pria dewasa, ia pun tidak mau bermain-main lagi dan ingin segera melabuhkan hatinya pada wanita yang benar-benar mencintainya.
Sepertinya ada yang aneh dengan Cherly?
Hanya Aidin yang bisa menangkap kekacauan di wajah adiknya tersebut. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, karena Rima pun adiknya, dan ia tak mau mereka tersakiti.
"Aku gak memaksamu untuk mencintai Rima sekarang, tapi aku mengizinkan kalian untuk lebih dekat. Siapa tahu jodoh."
__ADS_1
Pintu terbuka lebar. Adinata pun bukan orang sembarangan, dia adalah orang tua Zahra dan juga mertua dari bos nya. Mana mungkin ia menolak sebelum memulai.
"Terima kasih atas izin, Om. Saya akan pikirkan lagi tentang ini."
Cherly meraih tas dan beranjak. Ia tak selera lagi untuk makan. Merasa risih mendengarkan obrolan mereka yang membuat dadanya sesak.
"Aku mau pulang, Ma," ucap Cherly lirih.
Delia mengangguk setuju lalu pamit pada semuanya. Mencium Zea sebelum pergi.
Aidin melambaikan tangannya ke arah Richard. "Kamu antar mama pulang, biar nanti papa James sama kak Hanif."
Richard bergegas menyusul Delia dan Cherly.
Di dalam mobil
Tak seperti biasanya yang banyak tanya, kali ini Cherly cenderung diam dan menatap ke arah luar. Sementara Delia sibuk dengan ponsel di tangannya. Sesekali Richard curi pandang lewat kaca spion. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
Sebenarnya dia kenapa, tanya Richard dalam hati.
"Bagaimana, Chard? Apa kamu suka dengan Rima?" Delia memecahkan keheningan.
Richard menghela nafas panjang.
"Belum tahu, Tante. Tapi saya akan mencoba, semoga saja jodoh," jawab Richard.
Kembali melirik Cherly yang menyembunyikan wajahnya.
"Kalau menurut tante, sepertinya Rima itu baik, anaknya kalem. Gak jauh beda sama Zahra."
"Iya, Tante." Richard menjawab singkat.
Setibanya, Richard menarik jilbab Cherly dari belakang yang membuat sang empu menoleh.
Delia masuk lebih dulu meninggalkan mereka berdua. Ia tak begitu khawatir karena di luar ada penjaga yang memantau pergerakan mereka.
"Kamu kenapa sih? Tumben diam saja," tanya Richard serius.
"Aku capek, Kak." Cherly mengucap dengan malas. "Aku mau masuk," pamit nya lagi lalu meninggalkan Richard yang masih berharap dengan jawabannya.
Ada apa dengan dia, gak mungkin hanya karena luka kecil itu dia jadi diam seperti ini?
__ADS_1
Richard kembali masuk mobil. Sebenarnya masih ada yang ingin ditanyakan pada Cherly, namun sepertinya suasana hati gadis itu sedang buruk dan tak mau diganggu.