Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Mengambil alih


__ADS_3

Aidin menemui Richard. Menyuruh pria itu mencari orang yang membeli perusahan ayah Adinata, juga memintanya untuk mencari tempat tinggal keluarga dari istri nya  tersebut. 


"Ternyata perusahaan pak Adinata dibeli pak Condro." Richard menunjukkan data-data sang pembeli melalui komputer. Semua sudah jelas bahwa saat ini perusahaan milik mertuanya sudah berpindah tangan. 


"Aku akan membelinya lagi.''


Richard mengerutkan alisnya.  Pastinya tak semudah membalikkan telapak tangan untuk itu. Pasalnya, banyak prosedur yang harus dilalui. 


"Apa pak Herman sudah tahu tentang ini? Itu artinya kita akan mengeluarkan uang yang sangat besar."


"Aku akan menggunakan uang pribadi. Ayah tidak boleh kehilangan pekerjaannya."


"Baiklah, kalau begitu saya akan mengatur pertemuan Anda dengan pak Condro sekarang juga." Richard beralih duduk di sofa untuk mengurus semuanya.


Aidin menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran. Berharap satu persatu masalah akan teratasi dan menemui titik terang tentang keberadaan istrinya. 


Sampai ke ujung dunia pun aku akan tetap mencarimu, Za. Aku tidak akan melepasmu. Meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. 


"Halo, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang dari balik telepon. 


"Cari Zahra sampai ketemu,  aku tidak mau ada kegagalan. Cukup kasih tahu aku dimana keberadaannya." 


"Baik, Tuan. Saya akan segera mencari nona Zahra."


Aidin memutus sambungan teleponnya beralih menatap Richard yang juga sibuk berbicara dengan benda pipihnya. 


"Pak Condro sudah menyetujuinya, Tuan. Tapi dia meminta untung lima persen dari harga perusahaannya."


"Tidak masalah, yang penting perusahaan itu kembali." Sedikitpun tak ada kata ragu,  Aidin bahkan rela menghabiskan uangnya demi bisa mendapatkan perusahaan ayah Adinata. 


Di Sebuah cafe ternama, seorang pria gendut dan berjenggot itu tersenyum saat melihat Aidin berjalan menghampirinya. 


"Selamat datang, Tuan. Silahkan!" Mempersilahkan Aidin duduk. Kemudian  memesankan minuman untuk sang tamu terhormat. 


Tak banyak basa-basi, Richard langsung membicarakan pokok permasalahan. Seperti yang dibicarakan lewat telepon bahwa sang sekretaris menyetujui harga yang ditawarkan pak Condro dengan keuntungan lima persen karena sudah merombak nama. 


 


Keduanya saling tanda tangan dan bersalaman sebagai bukti kalau semua sudah beres. 


"Silahkan diminum, Tuan!" Pak Condro menyodorkan secangkir kopi hitam di depan Aidin, namun pria itu menggeleng, karena tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. Seperti malam itu, sekujur tubuhnya mulai dipenuhi dengan keringat dingin yang membuat Aidin gemetar. 


"Chard, sepertinya aku harus balik,"  mengucap sedikit berbisik. 

__ADS_1


"Baik, Tuan." 


Richard merapikan dokumen yang ada di depannya lalu memasukkan ke dalam tas.  Setelah itu mereka pamit pada pak Condro. 


"Kok buru-buru, Tuan?" 


"Maaf, Tuan. Masih banyak pekerjaan yang harus diurus," ucap Aidin sembari tersenyum paksa. Menahan kepalanya yang terasa mau pecah. 


Beberapa langkah kemudian, Aidin menarik bahu sang sekretaris dengan kuat hingga membuat pria di depannya itu meringis. 


"Kepalaku sakit, Chard," keluh Aidin yang merasa tak kuat dan bersandar di tubuh kekar sang sekretaris. 


"Saya akan bawa tuan ke rumah sakit," 


"Jangan!" sergah Aidin segera, ia tak ingin periksa. "Nanti sembuh sendiri, bantu aku ke mobil."


Richard memapah Aidin dan membawa ke mobil seperti perintahnya. 


Aidin berbaring sambil memejamkan mata. Mengurai rasa sakit yang akhir-akhir ini sering menyerang.


Sebenarnya aku sakit apa? 


Mulai bertanya-tanya pada diri sendiri,  meskipun sering mengabaikan, tak dipungkiri jika rasa itu sering membuatnya takut. 


Tak banyak bicara,  Richard langsung melajukan mobilnya kerah rumah mertua Aidin. 


Setibanya,  Aidin hanya bisa mengawasi rumah yang penuh penjagaan itu dari dalam mobil. Ia tak mau membuat masalah dengan mama Delia. Pasti akan babak belur jika berani melawan mereka. 


Tidak ada tanda-tanda Zahra di sana. Hanya ada pengawal yang berlalu lalang di depan rumah. Apalagi yang Aidin tahu, hubungan Zahra dan mamanya itu kurang baik hingga ia sedikit tak yakin jika wanita itu ada di sana. 


Sepertinya Zahra memang tidak tinggal di sini,  apa mungkin dia ikut pindah dengan ayah Adinata. 


Nampak mama Delia dan seorang pria keluar dari rumah itu. Mereka memasuki mobil mewah yang terparkir di halaman. Tak lama, mobil itu pergi ke arah berlawanan. 


Ponsel yang dari tadi di genggamnya itu berdering. Nama salah satu anak buahnya berkelip di layar. 


"Halo, ada kabar apa?" tanya Aidin antusias. 


"Nona Zahra tidak tinggal dengan nyonya Delia, Tuan. Tim kami sudah menemukan rumah Tuan Adinata,  tapi di sana juga tidak ada Nona Zahra." 


"Apa?" Aidin memekik, hatinya terpukul mendengar penuturan itu. Meskipun begitu, setidaknya ayah Adinata sudah ditemukan. 


"Cari lagi sampai ketemu, aku gak mau ada kegagalan. Sekarang kamu ikuti mobil mama. Aku akan ke rumah ayah Adinata."

__ADS_1


Aidin menutup ponselnya. Lantas,  menyuruh Richard untuk segera melajukan mobilnya menuju alamat yang ditunjukkan anak buahnya. 


Sebuah rumah sederhana dengan nomor yang sama terpampang jelas di depannya. Seakan tak percaya bahwa Adinata tinggal di sana, namun bukti semakin jelas saat Aidin melihat salah satu adik tiri istrinya keluar. 


"Itu kan Rima." Gadis remaja yang memakai seragam putih abu-abu nampak cemberut, langkahnya pelan dengan wajah yang redup tanpa skincare. 


Aidin bergegas turun dan berlari menghampiri gadis itu. 


"Kak Aidin." Terkejut melihat kakak iparnya itu menghentikan motornya. 


"Ngapain kakak ke sini?" tanya nya lagi. 


"Aku ingin bertemu Zahra." 


Kedua alis Rima berkerut lalu mengangkat bahu. 


"Kak Zahra tidak tinggal di rumah ini. Sejak menikah dia gak pernah pulang. Sepertinya dia juga gak tahu kalau Ayah sudah bangkrut. Lihatlah, Kak! Rumah kami sekarang jelek." Menunjuk rumahnya. 


Sebenarnya Rima tak nyaman tinggal di sana. Tapi bagaimana lagi, hanya tempat itu satu-satunya yang dimiliki ayahnya. 


"Apa ayah ada di rumah?"


"Ada, tadi bertengkar dengan ibu, tapi sekarang gak tahu."


Aidin mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya pada Rima. 


"Ini untukku?" tanya Rima memastikan. 


Aidin mengangguk tanpa suara. 


Rima bersorak kegirangan, tak menyangka pagi-pagi mendapat rezeki nomplok. 


Aidin mengetuk pintu yang sedikit lapuk. Kondisi dinding pun sudah mengelupas. Seperti kata Rima, terdengar suara saling bentak dari arah dalam. Terdengar dengan jelas mereka saling menyalahkan satu sama lain. 


Ceklek 


Pintu terbuka lebar, ayah Adinata dengan kekesalannya menyongsong kedatangan Aidin. Akan tetapi, Senyumnya mengembang saat tersadar bahwa yang datang adalah menantunya. 


"Aidin, kamu tahu rumah ini dari siapa?" tanya Adinata lembut. 


"Itu tidak penting,  aku ke sini ingin mencari Zahra." 


"Zahra, memangnya dia ke mana?" tanya Adinata balik. 

__ADS_1


"Dia pergi dari rumah," ucap Aidin terbata yang membuat hati seorang ayah pilu. 


__ADS_2