
Nampak gadis cantik dengan baju gamis yang serba hitam memasuki sebuah restoran. Wajahnya sangat cantik walaupun dengan makeup tipis.
Aidin yang duduk di pojokan itu hanya bisa mengawasinya dari jauh. Dilihat dari orangnya dan foto profil sepertinya dia.
Begitulah hatinya berbicara. Ia kembali membuka ponsel dan melihat foto yang terpajang di akun sosmed gadis beberapa minggu lalu dikenalnya.
Benar sekali, ternyata dia, bahkan hijabnya sama.
Aidin tersenyum lalu melambaikan tangannya ke arah gadis yang mungkin kebingungan mencarinya.
Tak berselang lama, gadis itu menghampirinya dan mengucap salam.
Itu adalah momen di mana Aidin akan mengingatnya di sepanjang hidup. Bertemu dengan seseorang yang jauh dari kriterianya, namun akan diajaknya menikah.
"Silahkan duduk!" Aidin menunjuk kursi kosong yang ada di depannya. Tak luput dari pergerakan gadis itu.
Memanggil waitress untuk memesan makanan.
"Tidak perlu berkenalan lagi." Nama kamu Zahra, kan?" Aidin kembali mengawali pembicaraan.
"Zahra Aulia Adinata," ulang Aidin dengan lancar.
Zahra mengangguk kecil. Terlihat dengan jelas kalau gadis itu gugup saat Aidin terus menatapnya.
"Apa ini pertama kali kamu bertemu dengan laki-laki?"
Zahra menggeleng. "Tidak, Kak. Tapi aku gak enak saja sama keluarga, Kakak." Dilihat dari penampilannya, Zahra tahu bahwa pria yang ada di depannya itu adalah anak dari orang tersohor. Ia takut kejadian yang sama akan terulang lagi.
"Jangan panggil aku kakak, aku gak suka." Aidin menyodorkan minuman yang baru datang.
"Lalu, aku harus panggil apa?" tanya Zahra malu-malu dengan tangan yang saling terpaut.
"Terserah, pokoknya jangan kakak," ulang Aidin menegaskan.
Zahra mengerti. Demi mengusir kegugupannya ia meneguk minuman yang ada di depannya.
Ternyata mas Aidin lebih tampan daripada fotonya.
Diam-diam Zahra memuji ketampanan pria itu.
Zahra menghembuskan napas dengan pelan. Hampir lima belas menit pertemuan, belum ada yang mereka bahas. Keduanya masih saling tenggelam dengan pemikiran masing-masing.
"Aku orang nya serius dan tidak pernah main-main dengan ucapan ku."
Aidin mulai berbicara ke inti. Mengingatkan tentang tujuan mereka bertemu.
Zahra mengangguk mengerti, ia pun bukan orang yang suka bertemu dengan pria asing jika tidak ada tujuan tertentu.
"Kalau Mas memang serius. Mas harus datang ke rumahku."
__ADS_1
Aidin langsung menyetujuinya.
"Makan dulu, sudah dipesan."
Zahra menyantap makanannya, namun Aidin malah sebaliknya, pria itu hanya mengaduk-ngaduk tanpa sekalipun memakannya. Matanya tak teralihkan dari wajah gadis yang sebentar lagi akan dinikahinya.
Seperti permintaan Zahra, setelah dari restoran mereka langsung ke rumah Adinata untuk meminta restu.
Setibanya di depan rumah Adinata, Aidin sedikit terkejut saat Zahra memarkirkan motornya.
"Ini rumah kamu?" Aidin menunjuk rumah mewah yang ada di depannya.
Zahra melepas helm dari kepalanya.
"Rumah ayah," jelasnya pada Aidin.
"Masuk, yuk! Ayah ada di dalam."
Ternyata dia anak orang kaya.
Aidin mengikuti langkah Zahra. Ia tak menyangka gadis yang ia anggap dari orang biasa itu ternyata memiliki rumah mewah.
"Itu ayahku." Menunjuk Adinata yang ada di ruang tengah. Zahra mempersilahkan Aidin duduk kemudian memanggil Adinata. Menjelaskan pada pria itu tentang tujuan mereka.
Senyum merekah di sudut bibir Adinata saat bersalaman dengan Aidin.
Hati Zahra terasa sakit mendengar itu. Seorang ayah bahkan melempar putrinya sendiri pada orang lain. Padahal, Zahra masih butuh waktu mengenal Aidin lebih dekat, namun dengan pernyataan itu ia tak memiliki harapan lagi untuk mundur.
"Jadi Ayah merestui hubungan kami?" tanya Aidin memastikan.
Adinata mengangguk senang.
Zahra tak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan hubungannya, ia meyakinkan hatinya sendiri untuk menerima Aidin apa adanya, dan berharap besar pria itu baik dan mau menerimanya apa adanya juga.
Percakapan itu berlanjut, meskipun Zahra belum bertemu dengan kedua orang tua Aidin, pria itu sudah mampu mengucap banyak hal, dan itu yang membuat Zahra semakin yakin akan memilihnya.
"Itu artinya aku boleh mengajak Zahra ke rumah mama, Om?" tanya Aidin melirik Zahra yang dari tadi berdiri di belakang lemari.
"Boleh, bawa saja. Kalau perlu percepat pernikahan kalian."
Apa ayah tidak memikirkan perasaanku, kenapa dia tidak mempertimbangkan dulu.
Adinata memanggil Zahra dan menyuruhnya untuk ikut ke rumah Aidin.
"Tapi, Yah __"
"Gak ada tapi-tapian, sekarang kamu ikut dia atau ayah akan mengantarkanmu ke rumah mama mu," ancam Adinata yang membuat Zahra takut.
Terpaksa ia setuju, daripada harus hidup bersama mama nya.
__ADS_1
"Ternyata ayah kamu tidak menyukaimu, kenapa?" Aidin mulai melajukan mobilnya ke arah jalan raya.
Zahra menceritakan keadaan keluarga nya. Sedikitpun tak ingin menutupi apa yang terjadi selama ini. Bukan membuka aib orang tuanya, namun ia harus jujur pada Aidin sebelum pria itu kecewa karena sesuatu yang disembunyikan.
"Aku tidak mempermasalahkan itu, yang penting kita menikah."
Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku menemukan laki-laki yang mau menerima keluargaku apa adanya.
"Ma…"
Suara Aidin menggema memenuhi ruangan.
Bu Lilian berdecak kesal menatap Pak Herman yang sibuk dengan map di depannya.
"Temui saja, Ma. Siapa tahu dia membawa calon istri yang sholehah?" cetus pak Herman. Mendorong istrinya untuk segera keluar.
"Tapi kalau dia membawa perempuan yang suka pamer pahanya, mama gak setuju," ucap Bu Lilian ketus.
"Nanti mama bilang sama Aidin, papa juga gak setuju," timpal pak Herman.
Bu Lilian membuka pintu ruangan. Betapa terkejutnya saat melihat gadis cantik yang berdiri di samping putranya. Tak menyangka Aidin pulang membawa gadis yang berbeda.
Berjalan pelan menghampiri Aidin yang mematung di ruang tamu. Menggeser tubuhnya untuk lebih bisa mendekati gadis itu.
"Ini siapa, Din?" tanya Bu Lilian sambil memeluk gadis yang membuatnya jatuh cinta.
"Namanya Zahra, Ma. Dia calon istriku."
Ini bukan hanya kejutan baginya, namun hadiah spesial yang tak ada bandingannya.
Bu Lilian menangkup kedua pipi Zahra dan menatap manik mata indah gadis itu.
"Beneran, Nak? Kamu calon istri Aidin?" tanya Bu Lilian memastikan sendiri.
Zahra tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Seketika itu Bu Lilian memeluk tubuh ramping Zahra. "Mama merestui kalian."
Zahra membalas pelukan hangat itu, seperti menemukan sosok seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan dari Delia.
Pak Herman ikut keluar dan menghampiri Bu Lilian yang masih memeluk Zahra.
"Siapa, Ma?" tanya pak Herman sembari melepas kacamata.
"Ini calon mantu kita, Pa." Bu Lilian terlihat bahagia saat Zahra bersalaman dengan pak Herman.
"Akhirnya Allah mengabulkan doa Mama. Aidin mendapatkan istri yang sholehah," ungkapnya.
Aidin hanya bisa tersenyum puas melihat kebahagiaan orang tuanya.
__ADS_1