Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Ujian lagi


__ADS_3

Masih di ruang bersalin 


Zahra menarik tangannya yang hendak disentuh oleh Aidin. Mengalihkan pandangannya ke arah putrinya yang ada di gendongan suster. 


"Mau dibawa ke mana putriku?" tanya Zahra saat suster itu berjalan ke arah pintu. 


"Nyonya Delia ingin melihatnya, Nyonya." 


Zahra mengangguk kecil tanda mengizinkan. Kini di tempat itu hanya ada Zahra dan Aidin. Dokter sengaja memberi ruang pada mereka atas permintaan Aidin. Mengatakan Pada Delia bahwa Zahra belum bisa dijenguk dan akan segera dipindahkan ke ruang rawat. 


"Dari mana kau tahu aku ada di sini?" tanya Zahra ketus. Ia tahu itu tidak sopan, tapi jika mengingat rasa sakit yang ditorehkan Aidin, hatinya masih belum menerima kehadiran pria itu. 


"Dari Allah, bukankah Allah akan menunjukkan jalan bagi orang yang mau bersungguh-sungguh."


Zahra tercengang, kagum dengan jawaban itu, tapi ia tak ingin terlena. Perlakuan Aidin selama ini sudah cukup memberikan pelajaran yang berharga hingga ia tak boleh secepatnya tergiur dengan ucapan lembut itu. 


"Sekarang pergi dari sini, aku tidak mau melihatmu lagi." 


Aidin yang merasa diusir tidak pergi begitu saja, justru menarik kursi dan duduk di sisi ranjang. Ingin sekali menyentuh tangan Zahra, tapi takut wanita itu akan marah padanya.


Mengambil segelas teh hangat yang ada di nakas. Lalu, menempelkan di tangan Zahra hingga membuat sang empu terkejut. 


"Apaan sih, Mas?" Mengusap jemarinya yang terkena sentuhan tangan Aidin. 


"Apa kau jijik padaku? Apa kau tidak mau memberi kesempatan untukku. Aku memang tidak pantas bersanding denganmu, tapi izinkan aku merawatmu dan anak kita."


"Sejak kapan kita punya anak? Dia putriku, ingat Mas! Kamu sendiri yang bilang tidak ingin memiliki anak dari rahimku. Tapi kenapa sekarang mengakuinya."


Setiap ucapan Zahra membuat hati Aidin tercabik-cabik. Benar, ia memang pernah berkata seperti itu, tapi tetap saja itu seperti pembalasan. 


Maafkan aku, Mas. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja, aku takut kecewa lagi seperti dulu. 


Mengusap air matanya yang tiba-tiba lolos. 


Aidin tersenyum kecil, benar apa kata Zahra, bahkan ia tak pantas dipanggil papa mengingat selama ini tak pernah berperan sedikitpun saat Zahra hamil. 


"Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Aku hanya ingin dekat dengan kamu dan anak kita, berikan kesempatan sekali saja untuk bersama kalian. Aku tidak ingin dicintai, tapi izinkan aku mencintai kamu dan anak kita. Aku akan memperbaiki semuanya," ucap Aidin memelas. 


Zahra menatap sorot mata yang penuh dengan kejujuran, ketulusan pun terlihat jelas dari sana. Tapi, ia tidak boleh termakan bujuk rayu Aidin begitu saja.

__ADS_1


Aku tidak mau tersakiti untuk yang kedua kali, jika mas Aidin benar-benar serius dengan ucapannya, pasti dia akan berusaha mendapatkanku. 


Zahra tak peduli dengan ucapan itu malah menekan tombol darurat. Beberapa saat kemudian suster dan dokter berdatangan. 


"Apa Nyonya butuh sesuatu?" Dokter Vellin menghampiri Zahra. 


"Aku ingin pindah ke ruang rawat sekarang," pinta Zahra seraya melirik ke arah Aidin yang berdiri di sampingnya. 


Setelah mendapatkan kode kedipan mata dari Aidin, Dokter Vellin menyetujui permintaan Zahra. "Baiklah, kami akan memindahkan, Anda." 


Aidin menggeser tubuhnya. Memberi jalan pada mereka yang mendorong brankar. Ia hanya bisa berdiam diri di ruangan itu, takut Delia melihat dan akan memisahkannya dari Zahra lagi. 


Dokter Vellin menghampiri Aidin yang masih mematung di tempat. 


"Sabar, Tuan. Saya yakin Nyonya Zahra hanya menguji kesetiaan, Anda."


Mendengar itu, sekujur tubuh Aidin terasa sejuk, mungkin ia masih butuh berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Zahra yang terlanjur terluka.


"Terima kasih, saya tahu ini sulit bagi dia, tapi saya akan terus berusaha untuk mendapatkan hatinya."


Dokter Vellin membuka pintu. Memberitahu Aidin bahwa Delia sudah tidak ada di sana. Setelah itu, ia keluar menuju ruangan pak Herman yang sudah menunggunya. 


Aidin tersenyum menandakan semua baik-baik saja. 


"Alhamdulillah, Zahra dan putriku selamat. Mereka sehat dan sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat." Mendekati pak Herman yang masih terbaring di atas brankar. 


"Anak kamu perempuan?" sahut pak Herman kemudian. Ikut bahagia dengan kabar itu. 


Aidin menjawab dengan anggukan kepala. Bergantian, menanyakan kabar pak Herman selama dirinya menemani Zahra. 


Di sisi lain


Kebahagiaan pun dirasakan Delia. Kehadiran cucu pertama memberi warna tersendiri dalam hidupnya. Sedikit pun tak ingin melepas bayi mungil dari dekapannya. 


"Untung mama dan papa sudah tiba di sini sejak semalam. Kalau belum, pasti mama sudah menangis di perjalanan." Delia mencium kedua pipi gembul sang cucu bergantian. 


Tak henti-hentinya membelai setiap jengkal wajahnya yang mirip dengan kedua orang tuanya. Paduan antara hidung Zahra dan mata lebar Aidin membuat wajah bocah itu cantik jelita. 


"Kamu kasih nama dia siapa, Za?"

__ADS_1


"Na… nama?" tanya Zahra ragu. 


Selama ini tidak pernah berpikir nama untuk anaknya, dan ia pikir Aidin lah yang lebih berhak. 


"Nanti kita pikirin lagi."


Delia duduk di samping James, terus menatap Zahra yang nampak kebingungan. 


Sepertinya ada yang disembunyikan Zahra. Tapi apa? 


Apa mama tahu kalau mas Aidin tadi menemaniku melahirkan? Bukankah dia mati-matian memintaku untuk bercerai, tapi kenapa mengizinkan mas Aidin masuk. 


Zahra memejamkan mata untuk mengurai rasa lelahnya.


Hanif masuk menghampiri Delia. Melirik Zahra yang tertidur. 


"Apa kamu sudah tahu ke mana Aidin?" tanya Delia lirih, namun masih bisa didengar oleh Zahra yang belum sepenuhnya terlelap. 


Hanif mengangguk cepat. "Ternyata Aidin ke sini menemani papa nya yang akan menjalani operasi."


Seketika itu Zahra menoleh ke arah Hanif yang memunggunginya. 


"Papa mau operasi?" pekiknya. 


Hanif segera menghampiri Zahra dan membantunya bangun. Begitu juga dengan Delia dan James. 


"Iya, pak Herman akan menjalani operasi besok pagi, dan sekarang mereka ada di lantai lima." Terpaksa Hanif jujur, karena Zahra bukan orang bodoh yang gampang dibohongi.


Kasihan mas Aidin, pasti dia cemas dengan kondisi papa. Tapi aku malah memarahinya.


Zahra merasa bersalah karena sudah bicara kasar pada Aidin. Meskipun tidak dari hati, tetap saja sikapnya keterlaluan. 


"Aku mau bertemu dengan papa," pinta Zahra memohon. 


"Jangan!" tolak Delia seketika. Sedikitpun tak rela Zahra bertemu dengan Aidin dan keluarganya. 


"Kenapa, Ma? Bagaimanapun juga papa itu adalah papaku, bahkan disaat semua orang tidak menginginkanku, papa yang menyayangiku, dia selalu ada untukku." 


Jika sudah seperti ini, Delia pun tak bisa melarang, karena apa yang diucapkan Zahra benar adanya. Sekuat tenaga melarang Aidin bertemu dengan Zahra, tetap saja ada pak Herman dan Bu Lilian yang sudah dianggap Zahra keluarga.

__ADS_1


__ADS_2