Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Rencana Cherly


__ADS_3

Waktu terus bergulir. Usia kandungan Zahra sudah menginjak sembilan bulan, kini ia dan Aidin hanya tinggal menghitung hari untuk menantikan kelahiran anak keduanya. Jauh berbeda dari kehamilan yang pertama, kali ini Aidin merasa menjadi suami sekaligus ayah yang berguna. Bisa menggantikan Zahra untuk mengurus Zea, juga bisa memenuhi semua permintaannya. 


"Kamu gak kerja, Mas?" Zahra mengusap punggung Aidin dari belakang, lalu duduk di samping pria itu. 


"Gak, aku mau jagain kamu." Tangan Aidin mengulur mengelus bayinya yang terus bergerak dengan lincah. Tak pernah bosan mengajaknya berbicara. 


"Nanti namanya siapa?" tanya Zahra sambil tertawa geli. Mendorong kepala Aidin yang terus menempel di perutnya. 


"Rahasia." 


Seperti dulu, saat ini pun ia belum menyiapkan nama, dan ia ingin nama itu terlahir bersama dengan anaknya nanti.


"Kata mama, kak Evana juga hamil," ucap Zahra yang kemarin baru mendapat kabar itu. 


"Wih…gercep juga kak Hanif, baru berapa bulan menikah istrinya sudah hamil aja?" 


Cih 


Zahra berdecih, suaminya itu memang selalu saja melihat orang lain dan tak pernah mengoreksi dirinya sendiri. 


"Gercepan mana sama kamu?" cibir Zahra tak terima. 


Aidin hanya bisa menahan tawa, jika ada perlombaan membuat anak, mungkin ia yang menang.


"Ma—ma…" Suara Zea yang terdengar merdu mengejutkan Zahra dan Aidin. Bocah yang baru bisa berjalan itu semakin lucu dan menggemaskan. Kehadirannya adalah salah satu alasan Aidin tak bisa meninggalkan rumah.  


Naik ke atas sofa, duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Mengikuti Aidin yang terus mengelus perut sang mama. 


"Makan apa, Sayang?" tanya Aidin menggoda. 


Zea menunjuk biskuit yang ada di tangannya. 


"Papa mau dong." Aidin membuka mulutnya lebar-lebar. 


Zea yang paham akan hal itu langsung memasukkan biskuitnya ke dalam mulut sang papa. Namun, merasa ada sesuatu yang hilang membuatnya menangis seketika. 


Zahra tertawa terpingkal-pingkal dengan  tingkah lucu Zea. Sadar, ternyata putrinya kini sudah merasakan sakit saat kehilangan. 


Aidin kaget bukan kepalang tak bisa mengembalikan makanan yang sudah dikunyah habis. Ia memanggil mbak Lela untuk membawakan makanan seperti yang dibawa Zea, kemudian memberikannya pada bocah itu lagi. 


Tak seperti yang dipikirkan akan diam begitu mendapat makanan baru, ternyata Zea malah membuang biskuit itu dan menunjuk mulut Aidin yang masih mengunyah. 


Tak terima miliknya diambil orang lain, begitulah orang dewasa mengartikannya. 

__ADS_1


Otaknya yang cerdas mampu menangkap apa yang diinginkan putrinya. Aidin menggigit biskuit secara diam-diam lalu mendekatkan wajahnya di wajah Zea. 


Seketika, tangan mungil itu mengambil sesuatu yang ada di bibir sang ayah, dan itu mengundang gelak tawa bagi yang melihatnya. 


"Pinter banget sih anak papa." Mengusap lembut pucuk kepala Zea.


"Besok Cherly mau berangkat ke Swiss. Mama meminta kamu untuk mengantarnya." 


Berat bagi Aidin meninggalkan Zahra, namun lagi-lagi keadaan memaksanya untuk melakukan itu. Ia tidak mau mengecewakan Delia yang berharap penuh padanya. 


"Dia jadi sekolah di sana?" tanya Aidin memastikan. 


Zahra mengangguk. "Iya, dan mama gak bisa melarangnya. Mungkin setelah ini kita yang akan sering menginap di rumah mama."


Apa ini ada hubungannya dengan Richard?


Aidin masih kepikiran dengan peristiwa malam itu. Meskipun tidak ada kepastian dari dua belah pihak, ia yakin kepergian Cherly ada hubungannya dengan itu. 


Panjang umur. Disaat mereka membicarakan tentang Cherly, gadis itu datang. Zahra tersenyum lebar melihat sang adik yang nampak bahagia. 


Mereka berpelukan erat.


"Katanya besok kamu berangkat?"


"Kakak mau anterin aku juga? Barangkali dedeknya pengen lahiran di sana." Mengecup perut Zahra kemudian menggendong Zea yang tebar pesona di depannya. 


"Boleh juga," jawab Aidin cepat. Secara tidak langsung ucapan Cherly adalah sebuah ide supaya ia dan Zahra tak jadi berpisah dan akan tetap bersama dimanapun dan kapanpun. 


"Mama setuju saja sih, tapi tergantung Zahra nya."


Kini keputusan ada di tangan Zahra. Melahirkan di mana pun tidak masalah baginya, namun ia merasa ini tidak adil untuk ayahnya. 


"Gimana, Sayang? Apa kamu mau ikut ke Swiss?"


Zahra tersenyum kecil. "Aku harus izin ayah dulu, ucapnya kemudian. 


Richard yang baru saja turun dari mobil  itu menatap mobil yang tak asing di matanya. 


Ada Cherly. 


Berat kakinya melangkah, namun ia harus tetap masuk untuk menyerahkan laporan hari ini. 


Sejak kejadian malam itu, Richard dan Cherly semakin menjauh, mereka tak saling sapa. Bahkan tak mengirim pesan satu sama lain. Mereka kembali seperti orang asing yang tak mengenal. 

__ADS_1


"Kamu gak pamit sama kak Richard, Cher? Minta doa sama dia juga, semakin banyak yang mendoakan kamu akan semakin betah di sana," suruh Delia. 


Cherly menatap Richard dari arah yang lumayan jauh, begitu juga sebaliknya. Mereka saling bergulat dengan pikiran masing-masing. 


"Nanti saja, Ma." Cherly membuang muka, masih enggan untuk menyapa pria itu. Bahkan dalam hati malas untuk bertanya. Apalagi berdekatan. 


"Besok aku dan Zahra mau ke Swiss, kamu tolong urus semuanya. Kalau perlu minta bantuan Kak Darren, mungkin aku akan menunggu bayi kami lahir."


"Baik, Tuan," jawab Richard lugas, sedikitpun tidak keberatan dengan tugas itu. Sudah terbiasa sibuk, dan dipastikan kali ini akan lebih sibuk lagi. 


"Sebelum ke kantor sarapan dulu, Chard, kamu pasti belum makan."


Richard tak bisa menolak permintaan Delia yang terdengar mendesak. Ia segera ke meja makan dan duduk di samping Cherly. Sebab, hanya tempat itu yang tersisa. 


Hanya dentuman sendok dan piring yang  terdengar. Dari sekian banyak lauk yang tersaji, Richard hanya mengambil ayam goreng, karena makanan itu yang ada di dekatnya. 


Cherly pun menikmati makanannya, mereka terlihat canggung dan membisu. 


Kenapa dia hanya makan sama ayam goreng. Apa dia gak suka lauk di sini? 


Jiwa centilnya meronta-ronta. Cherly memang tak bisa diam dengan sesuatu yang menjanggal di hati. Entah, pada siapapun itu, pasti bibirnya sudah gatal ingin menegur. 


Bodo amat, itu kan urusan dia. 


Meletakan sendok nya dengan kasar yang membuat semua orang menatapnya. 


"Kenapa, Cher?" Zahra membersihkan tangan Cherly yang terkena nasi. 


"Kebiasaan, Za. Pasti ada yang dipikirin," sahut Delia yang sudah hafal watak putrinya.  


Berbeda dengan mereka bertiga, Aidin dan Richard saling pandang. 


"Apa benar kata mama?" Zahra kembali memastikan. 


Cherly mengangguk berat sambil melirik piring Richard.


"Apa?" tanya Aidin singkat. 


"Kenapa kak Richard makannya sama ayam goreng doang, apa gak suka yang lainnya?" 


Aidin menepuk keningnya mendengar pertanyaan itu. Ia baru sadar bahwa Richard hanya makan dengan ayam saja. 


Ternyata dari tadi dia memperhatikanku. 

__ADS_1


Richard langsung mengambil beberapa lauk dan meletakkan di piringnya. 


__ADS_2