Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Kabar kehamilan


__ADS_3

Kirana tak menanggapi pernyataan Aidin. Sudah saatnya Zahra bahagia tanpa pria itu. Tak ingin lagi mengusik hidup nya yang sekarang entah di mana. Meskipun sedikit kasihan, ia harus menjaga hati sang sahabat yang sudah menitipkan amanah. 


"Ayolah, Ki! Aku mohon katakan sejujurnya." Untuk yang kesekian kali Aidin mengiba pada gadis itu. 


Richard hanya bisa menyaksikan dari belakang. Ia tak tahu harus melakukan apa. Urusan ini lebih rumit dibanding masalah kantor. 


"Maaf, aku tidak bisa memberi tahu kamu. Biarkan Zahra bahagia. Sudah cukup  pengorbanannya selama ini."


Aidin tertunduk lesu. Ia tahu pasti Kirana menyimpan sejuta rahasia. Tapi apa daya, untuk saat ini ia harus bersusah payah mencari kenyataan itu tanpa bantuan orang lain. 


"Aku harus pergi."


Kirana mengambil helm dan memakainya. Tak peduli dengan Aidin yang terus memanggil nama nya. 


"Aku harus ke rumah sakit, mungkin dokter Alfa bisa menjelaskan tentang nama itu." Kembali ke mobil, mengatakan pada Ricard untuk kembali ke rumah sakit.


"Apa gak sebaiknya kita cari di luar kota, Tuan." Richard mencoba mencari celah untuk membantu temannya. 


"Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mencarinya ke berbagai kota, tapi tidak ada kabar tentangnya." Menyandarkan punggung dan memejamkan matanya. 


Kembalilah, hukum aku sepuasmu. Asalkan kau ada di dekatku, aku rela. 


Setibanya di rumah sakit, Aidin langsung berjalan menuju ruangan dokter Alfa setelah bertanya pada resepsionis yang bertugas. Berharap akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya. 


"Permisi, Dok," sapa Aidin seraya mengetuk pintu. 


Dokter Alfa yang terlihat santai mempersilahkan Aidin masuk. 


"Ada perlu apa, Tuan?" tanya nya ke inti. 


Nampak ada keraguan untuk bertanya, namun itu harus dilakukan demi misinya. 


"Saya mau bertanya pasien atas nama Zahra Aulia."


"Maksud Tuan data ibu hamil?" Dokter Alfa memastikan. 


Aidin mengangguk cepat. Itulah yang ia maksud dari tadi, hanya saja sedikit gugup hingga salah kaprah. 


Setelah memeriksa beberapa data yang masuk, dokter Alfa menemukan nama yang disebutkan Aidin. 


"Nyonya Zahra Aulia Adinata. Suaminya bernama Aidin Adijaya."


Air mata Aidin lolos begitu saja. Meskipun dokter Alfa belum membacakan tentang isi dari data itu. Hatinya sudah terasa sejuk mendengar nama istrinya ada di sana. 

__ADS_1


"Beberapa minggu yang lalu dia periksa ke sini. Usia kandungannya sampai saat ini menginjak sepuluh minggu," ungkap sang Dokter. Membolak-balikkan kertas yang ada di tangannya. 


Alhamdulillah, ternyata Zahra hamil. Sebentar lagi aku akan memiliki anak. Tapi kenapa dia harus menutupinya dariku. 


Dokter Alfa hanya bisa menyaksikan tangisan Aidin tanpa ingin bertanya.  Entah masalah apa yang membelitnya, dari sorot mata pria itu penuh dengan penyesalan. 


"Apa saya boleh membacanya, Dokter?" pinta Aidin dengan suara terputus-putus. Dalam hitungan detik, kertas itu sudah berada di tangannya. 


Tulisan itu sudah cukup memberi bukti. Bukti bahwa saat ini Zahra sedang mengandung  anaknya. 


Betapa bodohnya aku tak menyadari bahwa kau hamil. Selama ini aku dibutakan oleh nafsu. Sampai aku melupakan permata yang sudah ada di sampingku.


Menyesal pun percuma. Aidin akan mencari Zahra lebih keras lagi. Setelah mengucapkan terima kasih, ia menghampiri Richard yang dari tadi menunggu nya diluar. 


"Bagaimana, Tuan?" 


Menghela napas panjang. "Zahra beneran hamil. Dia mengandung anakku. Bantu aku mencarinya."


"Baik, Tuan."


Aidin kembali ke ruangan pak Herman. Ia harus mengatakan kabar gembira itu pada keluarga yang lainnya.


"Kamu darimana saja, Din? Mama khawatir dengan kondisimu." Menyambut kedatangan sang putra yang nampak lelah. 


"Kamu gak bohong?" 


Aidin menggeleng.


Pak Herman ikut bersyukur. Apapun hasil akhirnya, ia beruntung bisa memiliki keturunan dari seorang wanita sholehah seperti Zahra.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Zahra sudah pergi, bahkan kita tidak tahu dia tinggal di mana." Dari atas sofa Darren ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa sang adik.


"Aku akan tetap mencarinya, Kak. Dia tidak boleh pergi dariku."


Terdengar egois, namun itulah isi hati Aidin saat ini, sedikitpun tak ingin memberi celah pada wanita itu untuk lepas. 


Tok tok tok 


Pintu diketuk dari arah luar. Semua orang menoleh, sedangkan Darren beranjak dan membuka pintu. 


Seorang wanita cantik berdiri di depan pintu membuat kening Aidin mengernyit. 


Amera,  ngapain dia ke sini? 

__ADS_1


Aidin menatap seluruh keluarganya yang terpaku. Kemudian menatap wanita itu lagi. "Mau apa kau ke sini? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."


Wanita itu masuk tanpa disuruh, mendekati Aidin yang nampak kebingungan. 


Ruangan yang tadinya dipenuhi kebahagiaan dengan kabar kehamilan Zahra, kini menjadi tegang saat wanita itu mengelus perutnya. 


"Kita memang sudah putus, tapi kamu harus bertanggung jawab dengan anak yang kukandung."


"Apa maksudmu?" Bu Lilian geram, menarik bahu Amera kasar. Ucapan wanita itu menciptakan emosi bagi seluruh keluarga Aidin termasuk Darren. 


"Jangan berani-berani kau bicara seperti itu. Aku yakin ini hanya akal-akalan saja," imbuh Darren tak percaya. 


Sedangkan Aidin sendiri, ia hanya bisa menunduk tanpa ingin mengelak. Bisa saja itu terjadi karena perlakuannya selama ini. 


"Kalau kakak gak percaya,  tanya sama Aidin, dia yang lebih tahu semuanya." 


Darren mencengkram kedua lengan Aidin kuat-kuat. Wajahnya mendadak pias melihat ketidak berdayaaan pria itu. Selama ini yang ia tahu mereka hanya sebatas selingkuhan tanpa berhubungan intim.


"Sekarang katakan kalau apa yang dikatakan Amera itu bohong. Katakan pada kakak kalau kamu tidak pernah menidurinya."


"Aku __" Suara Aidin tertahan. Ia tak sanggup melanjutkan ucapannya yang pasti akan membuat semua orang kecewa, termasuk wanita yang melahirkannya. 


Pak Herman mencoba untuk kuat. Ia tak boleh rapuh, dibalik masalah yang menimpa keluarganya pasti ada madu yang menanti. 


"Kalau sudah seperti ini aku gak yakin Zahra mau kembali sama kamu."


Darren ikut kesal, namun semua sudah terlanjur. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain mencari fakta yang sesungguhnya. 


Bu Lilian hanya bisa menangis di pelukan Keysa. Entah sampai kapan masalah yang membelit keluarganya itu usai. Hanya kesabaran yang mampu mengikis semuanya. 


"Sekarang aku mau kamu tanggung jawab, nikahi aku."


"Mana buktinya kalau kamu hamil?" Darren masih sedikit tak percaya. 


Amera merogoh amplop dari dalam tas lalu memberikannya pada Darren. 


Pria itu menatap Amera dengan tatapan selidik, membuka amplop lalu membacanya. Ternyata benar itu adalah lampiran kehamilan Amera. 


"Apa kau yakin tidak pernah tidur dengan laki-laki lain?" Darren melayangkan pertanyaan yang dari tadi menjanggal. 


"Yakin." Jawaban tanpa ragu yang meluncur dari bibir Amera seolah adalah fakta. 


"Tapi sayang sekali, karena aku tidak yakin kalau itu anak dari adikku."

__ADS_1


Sedikitpun Darren tak percaya.


__ADS_2