
Semalaman penuh Aidin hanya bisa tertidur dengan posisi duduk. Sedetikpun Zahra tak melepaskan tangannya hingga ia tak berani untuk pergi, sedangkan Zea dipindahkan ke kamar bayi untuk sementara waktu.
Mentari belum sepenuhnya terbit. Usai menjalankan kewajibannya, Aidin menghampiri Zahra yang masih terlelap. Mengusap pelan tangannya hingga sang empu terusik dan melenguh.
Pemandangan yang sangat indah nampak saat pertama kali membuka mata. Ternyata Aidin sudah terlihat rapi dan tampan.
"Hari ini papa operasi, aku harus menemani mama. Kamu mau mandi sekarang apa nanti?"
"Sekarang," jawab Zahra dengan suara serak.
Aidin membantunya bangun. Tanpa aba-aba mengangkat tubuh ramping itu, karena sebelumnya sudah menyiapkan air hangat.
"Mau dimandiin?" goda Aidin saat Zahra mulai melepas satu persatu baju yang melekat di tubuhnya.
Zahra menggeleng. "Keluar, aku bisa sendiri," ucapnya malu-malu.
Tak ingin mengulur waktu, Aidin memilih keluar dan menunggu Zahra di ruangan. Tak lupa memesan makanan, ingin memastikan bahwa istrinya tidak merepotkan orang lain sebelum dirinya pergi. Ia juga menghubungi bu Lilian mengatakan bahwa sebentar lagi akan segera datang. Takut sang mama khawatir.
Hampir tiga puluh menit, akhirnya Zahra keluar dari kamar mandi. Wanita itu nampak cantik dengan gamis berwarna pastel dengan hijab yang senada, baju yang baru semalam dibelikan Aidin itu melekat pas di tubuh sang istri.
"Kok sudah banyak makanan?" Zahra menghentikan langkahnya. Mengabsen setiap menu yang tersusun rapi di meja.
"Ibu menyusui tidak boleh telat makan, aku akan suapi kamu."
Mendudukkan Zahra di sofa. Seperti semalam, Aidin sangat telaten saat menyuapi Zahra yang penuh dengan protes.
__ADS_1
Zahra menatap keseriusan Aidin. Entah, kebaikan itu hanya untuk mendapatkanya semata atau memang tulus, ia sudah yakin ingin kembali. Merintis lagi keluarga kecil bersama putri tercinta.
"Nanti kalau butuh sesuatu panggil aku saja, jangan suster atau mama."
"Kenapa?" tanya Zahra singkat. Matanya tak teralihkan dari wajah tampan itu.
"Gak papa, kalau ada aku kenapa harus orang lain."
Aidin sengaja mengusir setiap suster yang akan menjalankan tugasnya. Selama masih bisa melakukannya, ia melarang orang lain menyentuh istrinya.
Zahra mengangguk tanda setuju. Menghabiskan makanannya cepat-cepat.
Aidin menilik jam yang melingkar di tangannya, lalu mencium kening Zahra.
"Aku pergi dulu, jangan ke mana-mana. Karena aku tidak sanggup lagi kehilangan kamu dan Zea."
Bertepatan saat Aidin membuka pintu, Mama Delia datang. Mereka berpapasan. Hanya Aidin yang menyapa tanpa ada balasan.
Delia duduk di samping Zahra. Menatap piring kotor dan juga sisa makanan yang ada di meja, tanpa bertanya sudah yakin jika Zahra sudah makan.
"Tadi Aidin yang mengambil makanan untuk kamu?"
Zahra mengangguk cepat. "Kenapa?"
Delia tersenyum sinis.
__ADS_1
"Apa sih yang kamu harapkan dari dia? Kamu sudah tahu Aidin tukang selingkuh. Tapi kenapa kamu masih bertahan sampai sekarang. Banyak kesempatan untuk pergi dan menikah dengan orang yang lebih baik. Sudah saatnya kamu bahagia, bukan terus menderita."
"Stop, Ma," sentak zahra. Pertanyaan itu membuatnya kesal dan ingin mencurahkan semua isi hatinya yang selama ini terpendam.
"Dari kecil aku tidak mendapat kasih sayang yang lengkap. Sejak saat itu aku mulai belajar menjadi perempuan yang kuat. Menghadapi kenyataan pahit yang terus bergilir. Aku tersisihkan, ayah lebih menyayangi anak-anak yang lain daripada aku yang terlahir dari rahim Mama. Dia mementingkan mereka, siang malam aku hanya merasa iri dan bertanya-tanya. Sebenarnya aku ini dilahirkan untuk siapa? Kenapa tidak ada yang menyayangiku?"
Mengingat saat ia harus makan tempe, sedangkan yang lain ayam, tidur di kamar yang sempit tanpa kipas, sedangkan yang lain di tempat yang ber Ac. Berhenti sejenak mengusap air matanya yang lolos begitu saja.
"Ayah juga membedakan kami. Dia selalu memberikan apapun yang adik-adik minta, sedangkan untuk aku, sekalipun ayah tidak pernah menuruti permintaanku. Apa Mama tahu apa alasan dia? Itu karena aku terlahir dari rahim, Mama."
"Hati aku sakit, setiap kata dia selalu menyangkut tentang keburukan Mama. Sampai aku dewasa, ayah pun tidak memberi ijin padaku untuk kuliah, dengan alasan yang tidak masuk akal."
"Oke, aku bisa terima karena saat itu aku sudah berpikir bahwa kehadiranku memang tidak diinginkan oleh ayah. Disaat itu aku menemukan laki-laki yang sangat baik dan sholeh. Aku merasa nyaman saat di dekatnya. Mama pasti bertanya kenapa aku tidak memilih dia? Itu karena orang tuanya tidak setuju setelah tahu. Mama adalah wanita malam. Aku pun memutuskan untuk tidak berhubungan dengan laki-laki, sampai pada suatu hari mas Aidin hadir dalam hidupku. Awalnya aku tidak memperdulikannya, tapi aku melihat kesungguhannya. Dia terus mendesakku untuk menerimanya. Disaat itu aku langsung jujur tentang kondisi keluarga kita, dan mas Aidin adalah orang yang pertama kali menerima baik buruknya Mama. Dia tidak protes dan berkata, bahwa setiap manusia pasti punya salah. Cepat atau lambat Allah akan membuka hati orang-orang yang tertutup dengan kemaksiatan."
Delia mencerna setiap ucapan Zahra. Sama seperti wanita di depannya itu, air matanya lolos seperti banjir bandang.
"Disaat itu aku masih ragu dan butuh pendapat orang lain. Aku mencari Mama, tapi pelayan bilang kalau Mama keluar negeri. Aku mencoba bicara dengan ayah, tapi dia tidak peduli dengan semua urusanku. Apa Mama masih mau menyalahkanku yang tetap bertahan dengan mas Aidin? Suami bukan barang yang bisa dijual belikan atau ditukar seenaknya jika kita merasa tidak suka sifatnya. Dia manusia, disaat hatinya gelap, kita harus menyadarkannya. Aku tidak mau Zea bernasib seperti aku. Mas Iqbal memang baik, tapi belum tentu dia bisa menyayangi Zea seperti anaknya sendiri. Jangan pernah menghakimi mas Aidin. Karena surga neraka bukan manusia yang menjamin, tapi Allah yang menentukan. Aku tidak mau mengungkit masa lalu lagi, dan aku akan tetap bertahan dan menerima apapun yang ada di diri mas Aidin."
Seketika itu juga mama Delia berhamburan memeluk Zahra. Meminta maaf akan sikapnya yang keterlaluan sudah mengatur hidup putrinya.
Tak hanya Delia, Aidin yang ada di depan ruangan itu pun tergugu saat mendengar kisah hidup Zahra yang menyedihkan. Tak menyangka di balik senyum, ada luka yang sudah tertanam sejak kecil.
"Jangan menangis, ini rumah sakit. Nanti orang mengira keluarga kita ada yang meninggal," ujar suara berat dari arah samping.
Aidin menoleh ke arah sumber suara, kemudian memeluk pria itu dengan erat.
__ADS_1
"Kakak," ucapnya tersendat menahan dadanya yang terlalu sesak untuk membendung penyesalan.
Ternyata pria itu adalah Darren. Setelah menerima tes DNA semalam, ia memboyong keluarga kecilnya ke Sydney dengan membawa jet pribadi.