
Layaknya pasangan suami istri pada umumnya, Zahra dan Aidin saling bergandengan tangan saat memasuki ruangan pesta. Mereka berdusta di depan semua tamu dengan hubungan yang sebenarnya sudah di ambang perceraian.
Zahra tidak ingin berita rumah tangganya terkuak di depan umum. Demi nama baik Adijaya, ia mengesampingkan hatinya yang sudah terluka parah.
Pertama kali mereka menemui kedua kakaknya, orang yang paling bahagia di antara tamu yang datang.
"Selamat ya, Kak. Semoga diberi kelancaran sampai melahirkan."
Setelah saling memeluk, Zahra mengelus perut buncit Keysa. Seperti permintaan wanita itu, Zahra memberikan doa terbaik untuk calon ibu dan bayinya. Memberikan kado yang ia bawa. Kemudian menangkupkan kedua tangannya di depan Darren, sang kakak ipar yang sudah lama tak ia jumpai.
Mereka memang tidak tahu isu rumah tangga Aidin dan Zahra karena tinggal di luar negeri. Sedangkan kedua orang tuanya pun tak pernah memberitahu.
"Kenapa Kalian lama sekali?" keluh Darren merangkul sang adik lalu menepuk bahu Aidin.
"Macet," jawabnya singkat.
Kebahagiaan juga dirasakan bu Lilian dan pak Herman, Meskipun mereka tahu bencana yang melanda rumah tangga Aidin dan Zahra, setidaknya bisa melihat menantunya datang.
"Bagaimana kabar Mama dan Papa?" tanya Zahra melepas pelukannya.
"Alhamdulillah, mama dan papa baik. Kapan kamu main ke rumah?"
Mengusap pucuk kepala Zahra yang tertutup hijab. Dari lubuk hati yang terdalam, Bu Lilian belum rela melepas Zahra menjadi mantan menantunya.
Zahra menoleh ke arah Aidin yang sibuk berbicara dengan Darren lalu tersenyum pada Bu Lilian.
"Nanti kalau mas Aidin gak sibuk," ucapnya lirih.
Kau begitu pintar menyembunyikan masalahmu, Ra.
Mata pak Herman berkaca-kaca. Sebagai orang tua hatinya ikut tersayat dengan nasib menantunya.
Pak Herman tahu siapa Zahra sebenarnya. Anak Delia (si wanita malam) dan Adinata. Namun, ia yakin bahwa menantunya itu adalah wanita baik dan bisa menuntun putranya ke jalan yang benar.
"Nanti setelah pesta temui papa di ruangan itu." Menunjuk salah satu pintu yang tertutup rapat.
Zahra mengangguk tanpa suara. Dalam hatinya terus bertanya apa yang akan dibicarakan papa mertuanya. Pasti hal yang serius.
Zahra berhamburan dengan tamu yang lain. Ia tak mau mengganggu Aidin yang juga bertemu dengan rekan-rekan kerjanya. Ia memilih duduk sambil menikmati hidangan yang diantarkan pelayan sambil mendengarkan musik yang menenangkan.
"Hai, kamu apa kabar? Lama tidak bertemu," seru pria tampan sembari menepuk bahu lebar Aidin dari belakang.
Sontak, Aidin menoleh ke arah sumber suara yang tak asing itu. "Iqbal," pekiknya.
__ADS_1
"Kamu di sini juga?" Aidin celingukan mencari seseorang. Entah siapa yang dicari, pria itu membuat Iqbal bingung.
"Kamu cari siapa?" tanya Iqbal meneguk minuman yang tinggal sedikit, lalu meletakkan gelas kosong di meja yang ada di belakang ia berdiri.
"Kamu kesini dengan istri kamu, kan? Mana dia?" tebak Aidin.
Iqbal tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aidin.
"Aku belum punya istri."
Aidin mengerutkan alis tak percaya.
Iqbal duduk di kursi kosong. Pandangannya mengedar mengabsen seluruh tamu yang hadir. Lalu berhenti pada Zahra yang nampak sibuk dengan ponsel di tangannya.
Mereka berteman sudah lama, hanya saja harus berpisah karena pekerjaan masing-masing, bahkan, ini kali pertama mereka bertemu setelah sekian tahun lamanya berpisah.
"Masa sih, laki-laki sepertimu belum punya istri?" Aidin tak percaya.
Iqbal tersenyum lalu mengalihkan pandangannya saat Zahra menoleh ke arahnya.
"Belum ada yang cocok," ucap Iqbal. Masih mencuri-curi pandang pada Zahra.
"Memangnya kriteria kamu seperti apa?" tanya Aidin lagi, penasaran dengan tipe wanita pilihan Iqbal.
Iqbal menyungutkan kepalanya ke arah Zahra yang tersenyum pada pelayan.
"Perempuan yang memakai gaun pastel?" Menunjuk Zahra memastikan itu adalah wanita yang di maksud Iqbal.
Iqbal mengangguk cepat. Dari awal melihat sudah terpesona dengan penampilannya, dan sudah yakin bahwa perempuan seperti itulah yang ia cari selama ini.
Seharusnya Aidin senang dan mempunyai banyak peluang supaya secepatnya bisa berpisah. Namun sebaliknya, ia malah geram dengan pengakuan Iqbal yang menyangkut istrinya.
"Dia istri ku," jawabnya, tanpa sadar sudah mengakui status Zahra di depan sahabatnya.
Iqbal yang baru saja meminum jus itu menyemburkannya, terkejut dengan pernyataan Aidin.
"Kamu serius?" tanya nya. Meskipun alunan musik menggema, ia masih bisa mendengarkan dengan jelas ucapan lirih sang sahabat.
"Iya lah, namanya Zahra."
"Kenapa kau tidak menemaninya, bodoh."
Iqbal beranjak dari duduknya lalu menghampiri Zahra yang sendirian.
__ADS_1
"Selamat siang, Nona," sapa Iqbal mengulurkan tangannya di depan Zahra.
"Siang," jawab Zahra singkat, ia menangkupkan kedua tangannya di depan Iqbal tanpa ingin menerima uluran tangan itu.
"Siapa nama kamu?" tanya iqbal lagi, menarik tangannya yang hampa.
"Zahra," jawab Zahra menatap Aidin yang tetap duduk di tempatnya, bahkan saat Iqbal duduk di depannya pun ia tak ingin mendekat.
"Kamu istrinya Aidin?" tanya Iqbal basa-basi.
Apa mas Aidin cerita tentang statusku, atau inisiatif laki-laki ini sendiri.
Zahra enggan memberi jawaban. Ia takut salah menjawab yang membuat Aidin marah besar. Akhirnya Zahra hanya tersenyum simpul.
Tamu Berlalu lalang menikmati pesta, namun hati Zahra tetap hampa. Berada di antara banyak orang ternyata tetap membuatnya kesepian mengingat Aidin yang tak mempedulikannya.
Ada apa dengan mereka? tanya Iqbal dalam hati. Ia tak mau berkesimpulan dulu dan ingin membuktikan kecurigaan yang melintas di otaknya.
Suasana pesta semakin ramai saat berada di puncak acara. Semenjak pertemuan Zahra dengan Iqbal, ia merasa memiliki teman disaat kedua mertua dan kakaknya menyambut tamu yang lain.
Aidin yang berdiri tak jauh dari mereka pun sesekali melirik Zahra yang terus tersenyum saat berbincang dengan Iqbal.
"Cepat sekali mereka akrab, menyebalkan."
Terpaksa Aidin mendekati Zahra dan berbisik di telinga wanita itu.
"Aku mau bicara dengan kamu, sebentar," ucapnya lalu membelah kerumunan.
Zahra meraih tasnya. Mengikuti langkah Aidin menuju lantai dua.
Iqbal yang penasaran pun diam-diam mengikuti mereka dari jarak yang lumayan jauh.
"Apa maksud kamu sok akrab dengan Iqbal?" tanya Aidin memunggungi Zahra, kedua tangannya berkacak pinggang menunjukkan kekesalannya.
"Terserah, aku rasa itu bukan urusan kamu lagi. Sebentar lagi kita bercerai, jadi jangan ikut campur urusanku," ketus Zahra tanpa rasa takut.
Aidin membalikkan badan dan menatap Zahra dengan tatapan tajam. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal.
"Tapi saat ini kamu masih istriku dan tidak boleh bicara dengan laki-laki lain," protes Aidin dengan tegas. Seolah-olah dirinya memang benar sudah melarang Zahra melakukan sesuatu.
"Kalau itu yang mas mau, aku bisa melakukannya. Asalkan mas juga mau menjauhi Amera sebelum dia resmi menjadi istrimu."
Permintaan yang cukup mudah, namun berat bagi Aidin.
__ADS_1
Skak
Aidin kalah telak, kali ini ia tak bisa berbicara apa-apa selain menerima kekalahan dan membiarkan Zahra dekat dengan pria lain.