
Iqbal menghampiri Zahra yang masih terpaku di tempat.
"Ikut naik mobil yuk!" tawar nya pada Zahra dan juga Kirana.
"Gak usah, Mas. Kami hanya mau jalan-jalan keliling kota," jawab Zahra asal. Menoleh ke belakang, ke arah gerbang rumahnya yang masih nampak. Takut Aidin melihatnya berbincang dengan pria lain, dan pasti akan terjadi salah paham.
Benar saja. Tak lama kemudian mobil Aidin keluar. Namun, nampaknya pria itu melewati arah yang berlawanan yang berarti adalah apartemen Amera.
"Tadi om James menelponku, katanya kamu butuh teman. Dia menyuruhku untuk menemani kamu."
"Papa James?" Zahra memastikan tak salah dengar.
Iqbal mengangguk cepat.
Apa rencana mereka?
Zahra hanya bisa bertanya dalam hati. Tak mungkin ia membantah. Sementara hubungannya dengan Delia baru saja membaik.
"Baiklah, tapi dengan Kirana."
Iqbal mengangkat dua jempolnya tanda setuju.
Tempat pertama kali yang mereka kunjungi adalah pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota. Zahra masuk ke sebuah toko gamis. Sudah lama ia tak berbelanja dan hari ini ingin memanjakan dirinya yang sudah lama tenggelam dalam hiruk pikuk rumah tangga nya.
Siapa lagi yang membuat aku bahagia kalau bukan diriku sendiri.
"Kamu mau beli yang mana?" tanya Kirana yang sudah membawa dua gamis dengan warna yang berbeda.
Zahra menunjuk gamis yang terpajang di manekin. Dari awal masuk, hanya baju itu yang membuatnya terpesona. Ia Lalu meminta pelayan toko untuk membungkusnya.
"Hari ini aku yang bayar." Iqbal yang dari tadi mengawasi mereka pun mengeluarkan sebuah kartu untuk membayar barang pembelian Kirana dan Zahra.
"Gak usah, Mas. Aku sudah bawa uang sendiri," tolak Zahra mengembalikan kartu milik Iqbal.
Pria itu tetap kekeh dan memberikan kartunya pada pelayan yang berada di kasir.
"Anggap saja ini sebagai awal dari pertemanan kita." Iqbal mengambil kartunya lagi setelah melakukan transaksi pembayaran.
"Tapi masih banyak yang belum aku beli," bantah Zahra lagi.
__ADS_1
"Gak papa, sekali-kali ada yang ngabisin uangku."
Zahra menggeleng sambil tersenyum kikuk.
Aneh sekali. Disaat orang lain berlomba-lomba memperbanyak harta, justru ia mau menghabiskan uangnya untuk orang lain.
Semakin lama Zahra merasa risih. Setiap pergerakannya harus diikuti Iqbal. Seolah-olah pria itu menjadi ajudannya. Sedangkan Kirana, hanya bisa menikmati traktiran yang tak terhitung jumlah nya.
"Mas Iqbal gak kerja?" Zahra melayangkan pertanyaan. Menatap Iqbal yang dari tadi duduk di samping nya sembari menikmati es krim.
"Hari ini aku ambil cuti. Sengaja mau nemenin kamu."
Zahra mengernyitkan dahi. "Seharusnya mas Iqbal gak usah dengerin omongan mama dan papa James. Aku gak mau nyusahin kamu atau siapapun. Aku gak mau menjadi beban orang lain." Suara Zahra semakin lirih. Teringat ucapan Aidin yang sering mengoloknya dan menganggapnya beban.
"Hanya orang bodoh yang menganggap mu beban, Za. Kamu jangan berkecil hati. Jika Aidin tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan. Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau, termasuk cinta. Aku jatuh cinta padamu saat di pesta kak Keysa. Kalau ada yang lebih baik, kenapa harus mempertahankan yang buruk."
Zahra menggeleng cepat. Wajahnya mendadak pias mendengar ucapan Iqbal.
"Aku tahu kamu baik, Mas. Tapi alangkah baiknya jangan menyamakan orang. Mas Aidin mungkin tidak memberikan aku cinta dan tidak sebaik kamu. Tapi dia itu suamiku, dan aku tidak mau kamu membandingkan kamu dengan dia. Seburuk apapun, aku akan tetap menjunjung tinggi harga dirinya."
Begitu besar cintamu untuk dia, Za. Sampai kamu rela mengorbankan kebahagiaanmu.
"Sudah waktunya makan siang, lebih baik kita makan. Setelah itu aku antar Kalian pulang."
Zahra dan Kirana mengikuti langkah Iqbal. Mereka menuju restoran yang ada di mall tersebut.
Mereka duduk di satu meja dan saling berhadapan.
Percakapan renyah kembali tercipta saat Iqbal mencairkan suasana. Ia tidak ingin Zahra beranggapan buruk lagi yang sebenarnya hanya memancing dan ingin mengetahui isi hati wanita itu.
"Kamu mau makan apa?" Iqbal membuka buku menu yang ada di depannya.
"Steak aja," jawab Zahra singkat, yang langsung diikuti Kirana.
"Kamu yakin mau makan di sini?" tanya seorang pria pada wanita yang terus bergelayut manja di lengannya.
Tempat itu sangat padat, bahkan tak nampak ada kursi kosong hingga mereka menyisir setiap pengunjung yang datang.
"Iya, di sini terkenal enak kok," jawab wanita itu. Matanya terus berkeliling mencari kursi kosong.
__ADS_1
"Tapi di sini penuh."
"Itu ada." Menunjuk kursi kosong yang terletak sedikit jauh.
Terpaksa pria itu masuk. Namun, baru beberapa langkah pria itu berhenti saat melihat seseorang yang ada di antara tamu lainnya.
Zahra, ngapain dia di sini bersama Iqbal? Bukankah dia jalan dengan Kirana saja.
Dadanya meletup-letup saat melihat Zahra terus tertawa dengan pria yang ada di depannya.
"Kamu kenapa?" tanya wanita yang mengikuti ke mana arah mata pria itu memandang. Lalu tersenyum menyeringai.
"Ternyata seperti itu kelakuan istri kamu saat diluar. Aku kira wanita baik-baik, ternyata dia seperti mamanya. Benar kata pepatah, bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya."
Ya, tamu yang baru datang itu adalah Amera dan Aidin. Seperti janjinya, hari ini Aidin menemani Amera berbelanja.
Aidin menggenggam erat tangan selingkuhannya dan melanjutkan langkahnya hingga ia duduk di belakang Zahra.
Mas Aidin.
Zahra tidak ingin menyapa dan memilih untuk bercanda dengan Kirana dan Iqbal.
Makanan yang dipesan datang. Zahra langsung menyantapnya tanpa ingin berkomentar apapun. Berpura-pura tak mendengar suara Amera yang terus berbicara lembut pada suaminya.
"Din, kamu makan di sini juga?" sapa Iqbal dari tempat duduknya.
"Iya," jawab Aidin singkat. Menahan amarah yang kian mendalam saat Iqbal nampak perhatian pada istrinya.
"Terima kasih traktiran ya, Mas. Hari ini kamu membuatku bahagia," ucap Zahra dengan suara lantang, yang mana mampu menyulut emosi Aidin.
"Ini tidak seberapa, aku bisa membelikan apapun yang kamu mau," jawab Iqbal dengan suara keras pula. Sengaja menimpali ucapan Zahra yang berbau menyindir. Ingin melihat reaksi Aidin.
"Sayang, kamu gak lupa dengan hari ulang tahunku, kan?" tanya Amera dengan suara lembut, tangannya mengusap pipi Aidin.
"Tidak, hari Sabtu tanggal 20 Agustus. Mana mungkin aku lupa dengan hari bahagiamu. Sekarang kita makan." Meletakkan makanan pesanan Amera di depan sang empu.
Kamu tidak pernah lupa dengan ulang tahun Amera, tapi kamu melupakan sejarah pernikahan kita. Dan di malam itu juga kau tidak akan melihatku lagi. Aku akan pergi membawa separuh diri kamu.
Mengelus perutnya yang masih rata.
__ADS_1