Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Mulai misi


__ADS_3

Otak Delia dipenuhi dengan balas dendam. tidak ada yang ia pikirkan selain membalas orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Saat itu ia mulai menginjakkan kakinya di sebuah klub malam demi mendapatkan informasi tentang kejadian yang menimpanya. 


Sebagai anak baru, Delia banyak diperebutkan lelaki hidung belang yang menginginkan tubuhnya. Mereka seakan menemukan permainan yang unik dan langka. 


Delia sangat cantik dan itu mampu memikat pria dalam hitungan menit. Hidungnya mancung disertai senyum menawan membuat semua orang terpana.


"Cantik, malam ini temani aku." Seorang pria mendekati Delia yang sedang duduk menyendiri sambil mengabsen mereka yang berlalu lalang. 


"Mau bayar berapa?" tanya Delia lugas. Padahal, dadanya sudah bergemuruh menahan takut. 


Membuang semua kepolosan dan keanggunannya, kini menjadi Delia yang pemberani dan penuh dengan teka-teki. 


Pria itu mengeluarkan kartu hitam. Sudah dipastikan dia adalah orang kaya. 


Mati aku. 


Menggeser tubuhnya sedikit menjauh, namun pria itu terus merangsek duduknya, mengikis jarak antara keduanya. 


"Aku sudah gak perawan." Terpaksa Delia mangaku. Meneguk segelas air putih hingga kandas. Keringat bercucuran mulai menembus pori-pori. Bulu halusnya berdiri saat pria itu mulai menyentuh tangannya. 


"Gak masalah, yang penting malam ini kau bisa memuaskan aku."


Delia menarik tangannya yang semakin gemetar. Tak bisa membayangkan apa jadinya jika malam ini ia melayani pria itu. 


"Aku gak bisa." Berdiri dari duduknya, langkahnya tertahan saat pria itu menarik tali gaunnya hingga terlepas. 


Delia menoleh, matanya terbelalak, lalu menampar pria itu. 


"Jangan kurang ajar! Aku bisa melaporkanmu atas tindakan pelecehan."


Pria itu tertawa keras hingga beberapa pengunjung menatapnya. Tak menyangka wanita cantik yang ia anggap berpengalaman itu masih sangat polos dan butuh pembelajaran. 


"Jangan pura-pura, Sayang. Aku tahu kamu menginginkannya," ucap pria itu dengan suara parau. 


Delia bukan orang yang suka diam atau menerima keadaan begitu saja, ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu. 


"Aku ke toilet dulu." Bergegas pergi ke arah toilet. 


Ia mengunci pintu lalu menyandarkan punggungnya di dinding.


"Aku harus minta bantuan siapa?" Mengingat beberapa teman dekat. Menatap bayangannya dari pantulan cermin. 


Hanya berjarak semalam penampilannya sudah berbeda. Kini Delia bukan seorang istri melainkan wanita malam. Begitulah ia menyebutnya.


Aku harus bisa. 


Kembali keluar, yakin ia akan menemukan orang yang menjebaknya tanpa menjual diri. 


Mengedarkan pandangannya ke arah pria tadi yang berbincang dengan pria lain. 

__ADS_1


Ini waktunya aku pergi. 


Delia membelah pengunjung yang berjoget. Kepalanya terus menunduk dengan kaki melangkah cepat, berharap ia bisa semata dari jeratan pria yg menurutnya atk waras itu. 


"Mau ke mana?" Tiba-tiba suara berat menghentikan langkah kaki Delia yang hampir tiba di halaman. 


Seorang pria tampan itu berdiri di depannya. 


"Ka--kamu siapa?" tanya Delia sambil melangkah mundur. 


"Aku pemilik klub ini."


Dia pemilik klub ini, itu artinya tahu kejadian yang menimpamu semalam. 


"Kenalkan, namaku Delia." Delia mengulurkan tangan ke arah pria itu. Kini ia terlihat lebih tenang.


"Rudi." Pria itu menerima uluran tangan Delia. Menatap penampilan wanita itu dari atas hingga bawah. Tak menyangkal  bahwa wanita di depannya itu bak bidadari. 


"Kalau kamu pemilik klub ini, itu artinya kamu tahu kejadian semalam?"


Rudi berpikir keras. Entah, klub yang dimaksud Adinata itu atau bukan, Delia mencari yang lebih dekat dengan mall. 


"Dari kemarin tidak ada kejadian apa-apa, disini aman."


Berarti aku salah, lalu klub mana? 


"Baiklah, terima kasih kalau begitu, aku pergi dulu."


"Tak semudah itu, Nona. Kamu sudah masuk ke sini, itu artinya kamu adalah pegawai di sini."


Kedua alis Delia berkerut. Ia tak mengerti dengan ucapan Rudi. 


"Aku bukan pegawai, aku hanya bertamu. Apa itu salah? Lagipula aku gak nyaman dengan tempat ini."


Menepis tangannya lalu pergi. Tak peduli dengan teriakan yang menggema, Delia memilih naik ojek untuk mencari tempat yang lain.


"Ke klub selain klub tadi, Pak," ucapnya pada tukang ojek yang fokus melajukan motornya. 


Selang dua puluh menit, Delia tiba di sebuah klub malam yang lebih besar, sepertinya pengunjung tempat itu juga lebih banyak. 


Delia masuk tanpa ragu. Berjalan lagaknya orang yang sudah biasa masuk. Padahal, menahan rasa takut. Takut jika ada pria jelalatan yang menginginkan dirinya. 


"Permisi, Nona?" tanya Delia pada bartender cantik yang berjaga. 


"Ada apa, mau melamar kerja atau sekedar __" Wanita itu menghentikan ucapannya, mengira bahwa Delia sudah tahu maksudnya. 


"Saya mau bertemu dengan pemilik klub ini." Wanita itu langsung menunjuk pria bule yang duduk di pojokan. 


Tanpa banyak kata, Delia menghampiri pria itu lalu duduk sebelum dipersilahkan. 

__ADS_1


"Maaf, apa Tuan tahu dengan kejadian  semalam?" tanya Delia tanpa basa-basi, tak ingin lama-lama berada di sana. 


"Kejadian apa?" pria itu bertanya. 


"Kejadian apa ya?"


Delia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung bagaimana cara dia menjelaskan, sedangkan ia sendiri tak mengingatnya. Terakhir kali yang ia ingat duduk di restoran sebuah mall, dan terbangun saat di depan rumahnya. 


"Apa di sini ada cctv?" tanya Delia lagi. Mungkin dengan itu ia bisa menjelaskan semuanya. 


"Ada," jawabnya cuek. 


"Mungkin Anda bisa memutarnya lagi." 


Meskipun tak direspon dengan baik, Delia tetap antusias mendesak pria itu. 


Terpaksa pria itu memenuhi permintaan Delia. 


Benar saja, dari cctv itu Delia bisa melihat pertengkaran antara Adinata dengan pria yang sempat memeluk dan menciumnya. 


Pantas saja mas Adinata marah, ternyata seperti ini kejadiannya. Tapi siapa laki-laki itu? Bertanya dalam hati. Menerka-nerka pada sosok yang sudah berani memeluknya. 


Buliran bening lolos membasahi pipi Delia. Namun, ia segera mengusapnya. Tak ingin orang lain menganggapnya cengeng dan menyedihkan. 


"Maaf, Tuan. Apa saya boleh meminta bantuan, Anda?" 


Pria yang berambut pirang itu menatap Delia lekat. 


"Boleh, silahkan!"


"Saya ingin tahu siapa dia." Menunjuk pria yang pingsan setelah mendapat tonjokan Adinata, "dan saya juga ingin tahu kenapa dia bisa membawa saya ke sini," lanjutnya. 


"Apa upahnya?" Pria itu terlihat santai. 


Delia bingung, ia tidak punya apa-apa, namun ia butuh bantuan seseorang untuk secepatnya menemukan pelakunya. 


"Aku punya tawaran menarik." Pria itu melipat kedua tangannya. Menatap Delia yang masih dirundung kebingungan. 


"Apa?" tanya Delia menyelidik, takut pria di depannya itu meminta tubuhnya. 


"Aku mau, kamu menjadi pacarku." 


Tanpa pikir panjang Delia mengangguk setuju. 


"Asalkan kamu tidak minta aneh-aneh," imbuhnya sebelum mereka bersalaman. 


"Namaku James."


"Delia." Saling tersenyum, dan itu adalah awal hubungan mereka. 

__ADS_1


__ADS_2