Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Terungkap


__ADS_3

Setiap hari tingkah Zahra semakin aneh dan berubah-ubah. Ia sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, terkadang ingin Aidin menjauh darinya, hingga mengundang banyak tanda tanya. 


Seperti hari ini, Zahra menghebohkan semua keluarganya karena tiba-tiba saja menangis sesenggukan. Aidin yang semakin takut menghubungi mama nya dan juga Delia, takut mereka menyangka ia yang menyakiti. Padahal, Zahra menangis dengan sendirinya. 


''Kamu yakin tidak menyakitinya, Din.?'' Bu Lilian kembali memastikan. Ia tidak mau kejadian yang lalu terulang lagi dan memecah belah keluarganya. 


''Gak, Ma. Sedikitpun aku tidak menyakitinya.'' Aidin putus asa, seolah-olah mereka terus menuduhnya bertindak kejahatan. Sudah berbagai cara ia lakukan, tapi Zahra malah membuatnya bingung. 


''Kamu kenapa, Nak?" Bu Lilian memeluk tubuh Zahra yang bergetar hebat. Kedua matanya sembab dengan pipi yang dipenuhi air mata. 


''Aku juga gak tahu, Ma.'' Jawaban Zahra membuat Delia terkekeh. Kini ia yakin kalau Aidin tak berbohong. 


''Tapi kamu menangis, matamu bengkak,'' imbuh Delia. 


Aidin menceritakan perubahan yang terjadi pada istrinya. Di telinga para ibu, tingkah itu tak asing karena mereka sering mengalaminya, tapi di waktu hamil. 


''Apa kalian sudah periksa ke dokter kandungan, jangan-jangan Zahra hamil?'' tebak Delia. 


Jika itu benar, maka Aidin adalah satu-satunya orang yang paling bahagia di dunia, tapi dengan cepat Zahra menggeleng. 


''Aku sudah coba tes pakai tespack, Ma. tapi hasilnya negatif, aku gak hamil,'' terang Zahra yakin. 


Tanpa izin dari Zahra, Delia memanggil dokter kandungan. Sebab, ia tak yakin jika putri nya itu tidak hamil. 


Tidak hanya Delia dan Bu Lilian yang datang, Adinata pun turut hadir bersama istrinya. Meskipun terlambat, tapi Zahra sangat bahagia bisa melihat pria itu di rumahnya. 


Zahra mendapatkan pelukan dari seluruh keluarganya secara bergantian. Kali ini Aidin yang menyingkir, ia mengalah karena Zahra tak mau dekat dengannya. 


''Bagaimana kalau kita taruhan, Pak?'' tantang James menyenggol siku Adinata. Mereka bersikap layaknya sahabat, sedikitpun tidak ada guratan permusuhan.


''Maksudnya?'' Pak Herman menyahut, ia suka taruhan asalkan menguntungkan. Tapi kali ini bukan taruhan yang serius, hanya tebak-tebakan saja. 


''Kita taruhan, siapa yang menang dia yang mendapat hadiah,'' jelas James lagi.


''Apa Hadiahnya?'' Adinata mulai tergiur saat menyinggung tentang hadiah. 

__ADS_1


''Hadiahnya masih rahasia. Kamu tebak saja dulu, menurutmu Zahra hamil apa tidak?'' tanya James menunjuk Adinata. 


Adinata mengusap punggung Zahra  dengan lembut, sebagai seorang ayah yang merawatnya dari bayi, ia tahu sifat gadis itu, tidak mungkin Zahra cengeng jika tidak ada masalah, begitu kira-kira. 


''Menurutku Zahra memang hamil,'' jawab Adinata tanpa ragu. 


''Kalau menurutku sih gak hamil,'' jawab James. Sebab, Cherly pun sering nangis tanpa sebab seperti sang kakak dan menurutnya itu memang turunan dari Delia. 


Keduanya sama-sama yakin dan berharap jawabannya benar. 


Lima belas menit kemudian dokter datang. Mereka keluar dari kamar, kecuali Aidin. 


Sesuai keinginan Zahra, Aidin berdiri sedikit menjauh, ia hanya bisa melihat tanpa menyentuh. 


Dokter Alfa tersenyum, membantu Zahra untuk bangun. 


''Selamat ya, ternyata kamu hamil,'' tutur dokter Alfa memeluk Zahra. 


Zahra terkejut, ia masih tak percaya dengan ucapan Dokter yang ada di depannya itu hingga memintanya untuk mengulang. 


Air mata Aidin lolos begitu saja. Itu adalah Anugerah terbesar dalam hidupnya. Jika waktu itu ia terlambat mengetahui, kini ia adalah orang yang pertama kali tahu bahwa Zahra hamil, dan itu momen yang luar biasa. 


Kini ia bisa merasakan kebahagian yang belum tentu dirasakan oleh pria lain. Kehadiran janin yang ada di rahim sang istri mungkin akan menyiksanya lebih parah lagi karena itu sudah terbukti, namun Aidin bersyukur bisa menjaganya, tidak seperti saat kehamilan Zea. 


Ingin memeluk tapi Aidin takut kena marah, dan akhirnya ia tetap mematung di tempat menahan keinginannya. 


Setelah dokter Alfa keluar, kini ruangan itu terasa hening, tidak ada yang bersuara. Zahra hanya bisa menatap Aidin dengan tatapan kasihan. 


Sudah hampir sehari semalam mereka tidak saling peluk, dan mungkin ini waktunya Zahra mengesampingkan ego. 


''Apa kamu tidak ingin memelukku, Mas?'' Merentangkan kedua tangannya. 


Aidin tersenyum, ingin mendekat ragu, takut itu hanya keinginan sementara, tak mendekat sayang karena ia sudah tak tahan ingin segera menyalurkan kebahagiaannya. 


''Ayo dong peluk!'' pinta Zahra penuh harap, akhirnya Aidin berlari dan memeluk Zahra dengan erat. Mengecup pucuk kepalanya berulang kali. Menandakan jika ia sangat mencintainya. 

__ADS_1


''Aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Kalau kamu hamil, aku akan menuruti semua keinginanmu. Sesulit apapun, aku akan berusaha memenuhinya.''


Zahra semakin mengeratkan pelukannya. Ia tak bisa mengucap apapun. Kesungguhan Aidin selama ini sudah cukup membuktikan kesetiaan pria itu.


Berbeda dengan Zahra dan Aidin yang saling mengurai kebahagiaan lewat pelukan hangat, di luar suasana semakin riuh. 


Kehadiran bayi Zahra yang kedua memang membawa kebahagian bagi mereka, tapi semua orang tidak melupakan Zea. Sebab, kehadiran bayi itulah yang menyatukan kedua orang tuanya. Pernikahan yang berada di ujung tanduk dan hampir lepas terikat kembali dengan erat.


''Sebentar lagi Zea punya adik." Delia mencium pipi gembul cucunya. Meskipun pernikahannya dengan Adinata kandas, tapi ia masih bisa merasakan menjadi seorang ibu, dan bahkan bisa menemani putrinya saat dirundung masalah.


Delia tak sungkan-sungkan mendekatkan Zea pada Adinata. Bagaimanapun juga pria itu adalah opa nya.


''Ternyata kamu memang ayah yang hebat, Mas,'' puji Delia mengangkat kedua jempolnya. 


Adinata tersenyum dan menggendong cucunya. Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan pada Delia, namun selalu saja tak punya waktu untuk itu.


''Apa kita bisa bicara sebentar?'' Adinata mengucap di depan semua orang. Takut mereka beranggapan buruk.


Delia mengangguk setelah mendapat persetujuan dari James.


Mereka kini berada di teras samping.


"Kemarin aku bertemu dengan Yuli," ucap Adinata yang membuat Delia terkejut.


Nama itu memang tak asing di telinga Delia, tapi bagaimana bisa Adinata bertemu dengan wanita itu yang jelas-jelas sudah dibuang oleh James.


''Kita sudah bertemu berulang kali, Del. Tapi kenapa kamu diam saja, kenapa kamu tidak menjelaskan padaku yang sebenarnya?" Adinata mengucap dengan penuh penyesalan.


Delia menundukkan kepala, akhirnya yang ia takutkan terjadi. Dari lubuk terdalam tidak ingin mengungkit masalah itu lagi.


''Aku minta maaf,'' ucap Adinata lirih.


Delia menggeleng cepat. Tak ingin kembali larut ke dalam masalah yang sudah berlalu.


''Gak ada yang perlu dimaafkan, Mas. Ini bukan salah kamu, tapi salah orang lain. Kita hanya korban."

__ADS_1


Delia semakin mendekat dan bertatap muka. ''Kita memang tidak bisa bersatu lagi. Tapi kita akan membesarkan Zea dan adik-adiknya sama-sama.''


__ADS_2