
Aidin tak tinggal diam. Ia memanggil Richard dan menyuruh pria itu datang ke apotik yang ada di dekat rumah Adinata. Menyuruhnya untuk memeriksa cctv yang ada di sana, karena hanya itu yang bisa membuktikan bahwa dirinya benar-benar tidak membohongi Zahra.
Kamar itu masih terasa sunyi mencekam. Zahra tak mau berbicara dengan Aidin, begitu juga dengan pria itu yang tak mau bertanya, takut menyulut emosi sang istri yang masih uring-uringan. Hanya ibu Negara yang bisa mengendalikan keadaan.
"Ke mana sih dia, kenapa lama banget?" gerutunya. Memeriksa layar ponselnya lagi, menunggu kabar dari Richard yang menurutnya sangat lambat dalam menjalankan tugas.
Zahra bisa melihat guratan kegusaran di wajah Aidin. Namun, ia tetap mendesak supaya suaminya itu untuk cepat memberikan bukti yang akurat. "Mana, katanya mau memberi bukti?" tagih Zahra mencairkan suasana, hatinya masih terlalu sakit dan tak akan luluh begitu saja.
"Iya, Sayang. Richard baru di perjalanan. Nanti pasti dia datang." Meyakinkan Zahra bahwa itu hanya masalah waktu saja.
Beberapa menit kemudian, suara klakson mobil menggema membuat Aidin tersenyum lalu keluar meninggalkan Zahra yang ada di balik selimut.
Awas saja kalau bohong, aku akan membawa pergi Zea untuk selama-lamanya, jangan harap aku akan memaafkanmu.
Aidin dan Richard duduk di ruang tamu. Mereka langsung membicarakan pokok permasalahan. Sesi yang ada di ruang tengah memilih pergi ke belakang bersama yang lain.
"Bagaimana? Apa kau sudah membawa rekaman cctv yang aku minta?"
Richard mengangguk sambil mengambil sesuatu dari tasnya. Tanpa diminta, ia memutar kembali kejadian di depan apotik beberapa waktu yang lalu.
"Benar dugaannya, lipstik yang ada di baju adalah lipstik wanita yang tak sengaja menabraknya, namun ada yang sedikit menjanggal setelah kepergiannya dari tempat itu, ternyata wanita itu terlihat jelas menerima uang dari seseorang yang ada di dalam mobil.
"Apa ini disengaja?" terka Aidin memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut.
"Sepertinya, tapi saya juga tidak tahu, Tuan."
Richard memperbesar gambar yang ada di depannya. Kemudian menulis plat mobil yang sedikit mencurigakan.
"Saya akan memberi kabar secepatnya. Sebaiknya Tuan potong video ini untuk menjelaskan pada Nona Zahra," saran Richard.
Tapi itu bukan sifat Aidin saat ini. Lebih baik jujur dan blak-blakan daripada menutupinya.
"Ini titipan dari bu Lilian." Menggeser tumpukan rantang yang tadi dibawa. "Anda dan nona disuruh untuk segera pulang."
Aidin hanya mengangguk. Kembali ke kamar setelah Richard pergi, ia akan menjelaskan, takut masalah akan berlarut dan semakin runyam.
Masih sama sebelum ia keluar. Zahra berbaring di ranjang. Matanya tampak memerah dan bengkak, sudah dipastikan itu karena melihat noda di kemejanya. Mengucap kata maaf berulang pun percuma, Zahra hanya butuh bukti.
__ADS_1
"Aku sudah punya bukti, Sayang." Duduk di samping Zahra. Mengusap sisa air mata di pipinya.
"Itu asli atau palsu?" Menatap penuh curiga. Namun, itu tak membuat Aidin sakit hati. Justru ingin membuktikan bahwa ia benar-benar tulus dan tidak berbohong sedikitpun.
"Asli dong, aku kan bukan tukang edit video? Mana bisa membuat rekaman palsu," goda Aidin mencairkan hati Zahra yang masih membeku. Bagaimanapun juga ia harus bisa menghadapi kemarahan itu dan mengesampingkan emosinya yang meluap saat wanita itu marah padanya.
Dalam video itu memang tidak ada adegan mesra antara Aidin dengan perempuan yang nemplok di dadanya, bahkan Aidin nampak menepis wanita itu dengan memasang muka masam, dan itu sudah mampu meluluhkan hati Zahra yang sedikit mengeras.
"Sekarang percaya, kalau belum aku akan mengajakmu ke apotik dan mencari saksi lainnya."
Zahra melirik ke arah sang suami yang berbicara serius.
"Percaya," ucapnya singkat.
Kruuuukkk
Suara perut Zahra membuat Aidin tersenyum kecil. Memalingkan pandangannya ke arah lain, tak mau melihat wajah sang istri yang pasti sudah merona.
"Mau makan di luar apa di sini?" tawar Aidin seraya mengulurkan tangannya, layaknya seseorang yang akan menggendong bayi.
"Di luar." Zahra turun dari ranjang. mengabaikan tangan Aidin.
Namun, setelah memunggungi pria itu, ia kembali memutar badan dan memeluk sang suami dari belakang.
"Maaf, aku terlalu egois dan tidak mempercayaimu," ucapnya penuh penyesalan. Ingin bersikap ketus, namun hati nuraninya selalu menolak, takut akan laknat Allah karena sudah berani pada suami.
"Itu wajar kok, aku kan memang __"
Zahra membungkam mulut Aidin. Tak ingin melanjutkan ucapannya yang pasti akan menjurus ke masa lalu yang kelam itu.
"Ibu masak apa?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
Aidin menggeleng tanpa suara karena ia pun belum tahu.
"Tapi tadi Richard bawain makanan dari rumah mama. Dan dia juga menyuruh kita segera pulang."
"Pasti gulai kambing," tebak Zahra yakin.
__ADS_1
"Kok tahu?" tanya Aidin penasaran, ia saja belum membukanya, tapi dari aroma makanan yang dibawa Richard memang seperti yang diucapkan Zahra.
"Kemarin aku menelpon mama dan minta dimasakin gulai kambing," ucapnya malu-malu.
Aidin merangkul pundak kecil Zahra lalu keluar.
Benar saja, ternyata Sesi sudah menyiapkan gulai kambing yang dibawa Richard tadi di meja makan. Dari aromanya saja sudah menggugah selera, dan Zahra tak akan lupa rasa masakan dari mertuanya tersebut.
"Ayah di mana, Bu?" tanya Zahra yang tak melihat ayahnya yang seharusnya sudah pulang.
Sesi menyungutkan kepalanya ke arah Adinata yang baru keluar dari kamar Zea. Sudah dipastikan pria itu menimang cucunya sejak tadi pulang dari kantor.
Adinata menatap wajah Zahra yang nampak kusut dengan mata yang sedikit sembab.
"Kamu kenapa, Za?" tanya Adinata duduk di kursi paling depan.
"Kalian bertengkar?" imbuhnya mengintimidasi.
Zahra menggeleng. Pasalnya, tadi bukan sebuah pertengkaran. Hanya dirinya saja yang sudah membentak, sedangkan Aidin hanya membela diri dengan tutur sapa yang lembut.
"Lalu kenapa matamu sembab?"
"Gak papa, Yah. Aku cuma kesel saja sama perempuan yang suka mencium baju suami orang," sindir nya.
Sesi pun ikut tersenyum. Mengambilkan nasi untuk Aidin dan yang lain. "Itu bumbu rumah tangga, Za. Anggap saja penyedapnya. Ibu yakin semakin hari kalian akan semakin romantis."
Zahra dan Aidin hanya menjadi pendengar setia ucapan ibu tirinya.
"Oh iya Yah, kami akan pulang sore ini karena besok aku harus kembali ke kantor, mungkin untuk kedepannya kami akan jarang ke ini karena sibuk."
Mengingat Beberapa proyek yang terbengkalai membuat Aidin harus ekstra kerja keras. Memulihkan perusahaannya yang sempat kolaps, sedangkan Darren pun mulai bekerja di perusahaannya sendiri.
"Gak papa, ayah dan ibu yang akan sering ke rumah kalian."
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mana nih yang lain, yang DM baru tiga orang loh, IG @Nadziroh2