
Malam yang seharusnya dilewati penuh suka cita itu berubah menjadi duka. Aidin tak henti-hentinya meneteskan air mata. Menyesali perbuatannya selama ini. Kini hanya bisa berandai-andai dengan sesuatu yang tak akan pernah terjadi lagi.
Darren menghampiri sang adik yang tampak kacau. Tak ingin menyalahkan siapapun. Menganggap itu percikan masalah yang harus dilewati.
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Zahra sih, Dek? Kenapa jadi seperti ini?" Pria yang sebentar lagi menjadi ayah itu memastikan yang terjadi pada adiknya.
Terselip rasa iba untuk sang adik yang nampak menderita.
Aidin membisu. Ia pun belum mengerti perasaan apa yang saat ini menyelimuti hingga membuatnya terus bimbang.
"Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa tidak kamu ceraikan," imbuhnya.
"Aku gak mau cerai dari dia, Kak."
"Itu artinya kamu mencintai Zahra. Hanya saja egomu terlalu tinggi dan mementingkan Amera," sahut Keysa yang ikut di duduk di samping sang adik ipar. "Itulah laki-laki, rakus."
"Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
Seketika itu juga Aidin tersenyum. "Aku akan mencari Zahra. Aku akan membawanya kembali. Apapun syarat darinya, akan kupenuhi, Kak," ucap Aidin bersungguh-sungguh. Sedikitpun tak ada rasa ragu hingga membuat Darren yakin, bahwa kali ini adiknya yang pecicilan itu sudah taubat.
"Aku akan selalu mendukungmu. Apapun yang terjadi, kamu dan Zahra harus bersatu." Walaupun terkesan memaksa, Darren tetap ingin mereka bersama lagi. Meskipun kali ini tak semudah yang lalu.
"Saudara Aidin, Anda dipanggil pasien." Seorang suster menyampaikan perintah dari pak Herman. Darren mengikuti Aidin dari belakang, sedangkan Keysa menemani bu Lilian yang saat ini istirahat di kamar sebelah.
Aidin membuka pintu dengan pelan. Menghampiri pak Herman yang berbaring di atas brankar. Ia tahu pasti akan dimarahi habis-habisan, tapi juga sudah siap untuk itu.
Tak seperti yang ia kira, ternyata pak Herman menyambutnya dengan senyuman. Entah itu tanda apa, Aidin pun jadi bertanya-tanya.
"Maafkan aku, Pa," ucap Aidin lirih, tak berani menatap wajah papanya yang tampak pucat.
"Kenapa Harus minta maaf. Jodoh ada ditangan Allah. Mungkin kamu dan Zahra memang ditakdirkan tidak berjodoh. Sekarang papa hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Semoga kamu dan dia diberi jalan yang terbaik."
Seperti orang yang putus asa. Pak Herman tak ingin lagi memaksakan kehendak. Menyerahkan urusan itu pada Sang Pencipta. Dengan begitu ia bisa tenang tanpa beban.
"Tapi aku tidak mau kehilangan dia, Pa."
Meskipun harapannya bersatu sangat tipis, Aidin tetap kekeh dengan keputusan terakhir, yaitu mempertahankan pernikahannya yang kini sudah berada di ujung tanduk.
"Bagus itu, papa akan tetap dukung, asalkan kamu serius pasti Allah akan memudahkan jalanmu. Perbaiki diri kamu, karena Allah suka orang yang berada di jalan yang benar."
__ADS_1
Aidin menganggukkan kepala.
"Tidurlah di sini! Temani papa," pinta pak Herman penuh harap.
Aidin beralih membaringkan tubuhnya di sofa, sedangkan Darren keluar menemani istrinya dan Bu Lilian.
Ini semua bukan salah Aidin, seharusnya aku tidak terus memaksanya. Dia melakukan itu hanya tertekan.
Menyadari akan kesalahan yang sering memaksa putra bungsu nya untuk melakukan sesuatu yang tak disukai. Dan saat ini waktu nya pria itu bangkit dengan dirinya sendiri sesuai kemampuan yang dimiliki.
"Bangun, Mas. Sudah subuh."
Sontak Aidin membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya terasa berguncang saat mendengar bisikan suara lembut istrinya.
"Zahra," lirihnya, bisa didengar pak Herman yang memang sudah terbangun.
"Kamu mimpi Zahra, Din?"
Aidin mengusap wajah kasar. Menyadarkan dirinya yang masih sedikit bingung.
"Dia seperti membangunkan ku, Pa. Semua itu seperti nyata."
"Kau terlalu berhalusinasi. Itu tandanya kau memang kangen sama dia."
"Mama marah sama Aidin?" tanya Darren mendekati bu Lilian yang nampak termangu.
"Tidak. Semua bukan salah dia semata. Papamu yang memaksanya menikah, dan mama sadar kalau cinta memang tak bisa dipaksa."
Darren keluar dari ruangan untuk membeli makanan. Tak berselang lama, suara ketukan pintu menggema.
"Masuk saja," sahut bu Lilian berat. Ia masih menyimpan kesedihan yang mendalam atas perginya sang menantu.
Aidin duduk bersimpuh di depan bu Lilian. Menyandarkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Menunjukkan betapa rapuhnya ia saat terkena musibah.
"Jangan pernah menyesal. Anggap saja ini adalah pelajaran yang berharga. Mama tidak akan pernah menyalahkan kamu. Ini ujian." Mengusap rambut tebal putranya.
Aidin mendongak. Tangannya mengulur, menggenggam tangan sang mama.
"Do'akan aku, Ma. Aku akan berjuang mempertahankan Zahra. Hanya dia yang bisa membuatku berubah lebih baik."
__ADS_1
"Doa mama menyertaimu."
Aidin pergi membawa semangatnya yang begitu besar. Yakin jika ia bisa menemukan Zahra dan membawanya kembali.
Pertama kali yang Aidin tuju adalah tempat kos, di mana Zahra pernah tinggal di sana.
"Wah, suami Ning Zahra, ya?" sapa seorang wanita yang memakai daster bunga. Sepertinya sudah sangat menghafal Aidin.
"Iya, Bu. Saya ke sini mau mencari Zahra."
"Bukannya Ning Zahra sudah pulang, dia cuma beberapa hari tinggal di sini."
"Tapi __"
Aidin tak melanjutkan kata-katanya. Tak mungkin ia mengatakan bahwa Zahra pergi dari rumah untuk yang kedua kali.
"Jadi Zahra tidak tinggal di sini?" Menunjuk rumah sederhana yang pernah menjadi tempat singgah sang istri.
"Tidak," jawab wanita itu singkat dan jelas.
Setelah mengucap terima kasih, Aidin kembali ke mobil. Kali ini tujuannya adalah rumah ayah Adinata. Sebab, kemungkinan besar Zahra pulang ke rumahnya.
Satu jam membelah keramaian jalan, akhirnya Aidin sudah tiba di depan rumah mertuanya. Ia melihat suasana rumah yang sangat sepi itu dari mobil. Tidak ada siapapun kecuali penjaga yang ada di pos.
"Pak," panggil Aidin tanpa ingin turun.
Pria berseragam putih itu menghampiri Aidin yang masih fokus mengamati rumah mewah yang ada di balik gerbang.
"Apa Zahra tinggal di sini?"
"Non Zahra gak pernah pulang. Malahan pak Adinata sudah menjual rumah ini."
Deg
Jantung Aidin berdegup tak karuan. Teringat saat Zahra meminta bantuannya, namun tak digubris. Penyesalannya kian bertambah melihat nasib ayah mertuanya yang sekarang entah tinggal di mana.
"Apa bapak tahu ke mana ayah pindah?" tanya Aidin lagi.
"Beliau tidak memberitahu saya, Pak. Semenjak perusahaannya bangkrut, beliau cenderung tertutup dan menjual sebagian asetnya."
__ADS_1
Aku harus cari tahu siapa yang membeli perusahaan ayah.
Kambali melajukan mobilnya ke arah kantor. Sebab, ia belum tahu akan ke mana lagi mencari Zahra.