Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Pembohong ulung


__ADS_3

"Kenapa berhenti di sini, Mas?" Zahra terlihat bingung saat Aidin menghentikan mobilnya di depan pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota. 


Aidin meraih tangan Zahra lalu menggenggamnya. "Sudah lama kita gak jalan bareng. Hari ini kita akan belanja. Kamu boleh membeli apapun yang kamu mau." 


Zahra menarik tangannya kembali. Memalingkan wajahnya dari tatapan Aidin yang tak dapat diartikan. 


"Kita hanya akan pura-pura di depan papa dan mama, jadi mas tidak usah memperlakukanku berlebihan." Zahra mengucap dengan tegas. Seperti perjanjian awal, ia ingin terlihat mesra hanya di depan pak Herman dan Bu Lilian. Selebihnya tetap saling menjauh. 


Terdengar helaan napas panjang dari Aidin." Apakah aku tidak punya kesempatan untuk berbuat baik. Aku ingin memperbaiki hubungan kita."


Apa apaan ini, kenapa mas Aidin tiba-tiba baik padaku. 


Tangan Zahra berubah dingin, ia gugup saat Aidin mendekatkan wajahnya tepat di pipinya. 


"Aku minta maaf. Beri aku kesempatan sekali lagi, kita bisa memulai dari awal." Suara Aidin terdengar lirih yang membuat Hati Zahra tersentuh. 


Wanita itu membius bibirnya dan tidak menanggapi ucapan Aidin, namun hatinya merespon dengan baik permintaan maaf sang suami. 


"Baiklah, kita belanja." Zahra membuka pintu lebih dulu, kemudian Aidin menyusul. 


Layaknya pasangan yang lain, mereka berjalan bersejajar. Aidin yang mendorong troli, sedangkan Zahra yang memilih bahan dapur dan sesekali meminta pendapat Aidin dan menanyakan makanan kesukaannya. 


"Beli yang banyak, karena setelah ini aku pasti akan super sibuk dan tidak bisa menemani kamu belanja."


Zahra mengambil beberapa bahan makanan yang ia butuhkan, juga minuman kaleng untuk persediaan di rumah, tak lupa camilan dan susu serta perlengkapan lainnya. 


Tak hanya membeli bahan dapur, Aidin juga mengajak Zahra masuk ke sebuah toko baju. 


"Aku gak butuh baju, Mas," cicit Zahra menghentikan langkah Aidin yang hampir mendekati baju gamis yang terpajang di sisi kanan pintu toko. 


Aidin menoleh ke belakang. Memegang kedua lengan Zahra. Ini pertama kali ia menatap wajah cantik wanita itu. Ada desiran di Ulu hati terdalam, namun Aidin tak begitu peduli dengan itu semua. 


"Kamu memang gak butuh, tapi aku ingin membelikanmu. Jadi jangan menolak." 


Lagi-lagi suara Zahra tercekat dan ia tak bisa menolak pemberian Aidin. 


Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatimu, tapi aku harap kamu benar-benar tulus dan tidak ada embel-embel apapun. 

__ADS_1


Zahra mengikuti Aidin memilih baju. Ia hanya menikmati rasanya memiliki seorang suami. Apapun yang dibeli Aidin, ia pun menyetujuinya tanpa membantah. Bahkan mereka mendapat pujian dari pengunjung lain karena romantis. 


"Kita makan di sana yuk!" Menunjuk restoran yang ada di dalam mall. Menarik tangan Zahra dan menuntunnya masuk. 


Entah mimpi apa semalam, Zahra tidak pernah menyangka Aidin akan memperlakukan dengan begitu lembut dan terus memperhatikannya. Bahkan sedetikpun pria itu tak meninggalkannya. 


"Apa gak sebaiknya kita makan malam di rumah?" tanya Zahra sembari duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Aidin. 


"Malam ini aku ada janji dengan Agha, jadi gak bisa makan malam di rumah. Kamu gak papa, kan?"


Zahra menggeleng tanpa suara. Ia sudah terbiasa dengan itu, dan tidak mungkin akan protes. 


Dari jauh tampak seorang wanita juga berada di restoran itu. Wajahnya yang tak asing membuat Zahra harus pindah duduk. 


"Kenapa pindah?" tanya Aidin saat Zahra memilih duduk di depan nya. Akhirnya ia pun ikut pindah demi bisa duduk berdampingan. 


"Ada mama," jawab Zahra dingin. Sampai detik ini ia masih belum sepenuhnya menerima tante Delia. 


"O," Aidin hanya ber oh ria. Melihat sekilas ke arah mama mertuanya yang sedang menikmati hidangan bersama teman lelakinya. 


Entah sejak kapan Aidin merasa begitu akrab dengan Zahra. Saling melempar senyum, bahkan saling mencicipi makanan satu sama lain. 


Zahra hanya mengangguk tanpa suara. Ia tak mau banyak bertanya, namun juga teringat satu hal. 


"Jangan mabuk ya, Mas. Maaf kalau aku lancang."


"Aku gak akan mabuk. Sekarang kamu makan, sudah hampir Maghrib. 


°


°


°


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Seperti ucapannya, Aidin pergi dengan memakai baju santai. Tak seperti biasanya yang langsung pergi tanpa pamit, kali ini ia menghampiri Zahra yang masih sibuk merapikan sprei. 


"Nanti kalau mama tanya, bilang saja aku ketemu Agha."

__ADS_1


Aidin mengecup kening Zahra lalu mengucapkan salam sebelum keluar dari kamar. 


Setibanya di samping mobil, ponsel yang ada di saku celana Aidin berdering. 


"Iya, Me. Aku baru saja keluar dari rumah, pokoknya tunggu aku, di sana ada Agha juga, kan?" 


"Ada, cepetan aku kangen." 


Aidin bergegas masuk ke mobil daripada harus mendapat omelan dari Amera. 


Baru saja turun dari mobil, Aidin sudah mendapatkan sebuah hadiah manis berupa peluk cium dari sang kekasih. Amera tak henti-hentinya menghujani wajah Aidin dengan ciuman lembut. Mencurahkan rasa bahagianya pada pria itu. 


"Sudah dong, Me. Malu dilihat orang," bisik Aidin sedikit menghindar. Takut ada salah satu mata-mata pak Herman. 


"Kita masuk ke dalam," ajak Aidin merangkul pundak Amera. 


Dasar laki-laki buaya darat, aku pastikan kamu akan menderita karena sudah membohongi putriku. Kamu akan tenggelam dalam penyesalan di mana dari semua orang didunia ini hanya kamu yang akan merasakannya. 


Membuang puntung rokok lalu menginjaknya. Tanpa sengaja tante Delia melihat Aidin dan Zahra waktu di restoran. Ia curiga dengan kebersamaan mereka, dan ternyata dugaannya itu tidak melenceng, Aidin hanya mengelabui kepolosan Zahra. 


"Hai, Gha. Tumben kamu sudah datang duluan," ucap Aidin dengan suara keras. Menendang alunan musik yang menggema, saat ini ia berada di klub malam sesuai dengan janjinya pada Amera dan Agha. Ia akan merayakan kedudukan barunya dengan mereka. 


"Malam ini kan kamu yang traktir, jadi aku akan minum sepuasnya." Menaik turunkan alisnya. 


"Terserah kamu, yang penting happy." 


Amera menyodorkan segelas whine pada Aidin, namun pria itu tak menerimanya. 


"Kenapa?" tanya Amera dengan lembut, jari lentiknya terus membelai pipi Aidin. 


"Aku sudah janji pada Zahra kalau malam ini aku gak akan minum." 


Seketika itu Agha tertawa lepas. Begitu juga dengan Amera yang ikut tertawa. 


"Sejak kapan kau patuh pada istrimu yang sholehah itu? Apa kau mulai mencintainya?" Pertanyaan itu membuat hati Amera tersentil. Ia meletakkan gelas dengan kasar lalu memeluk Aidin dengan erat. 


"Jangan bilang kau mulai mencintainya?" Amera mengulang pertanyaan Agha. 

__ADS_1


Aidin pun tersenyum membalas pelukan itu. 


"Aku tidak mencintainya. Aku hanya melakukan apa yang dia mau supaya papa tetap percaya padaku."


__ADS_2