Noda Hitam Suamiku

Noda Hitam Suamiku
Restu Delia


__ADS_3

Aidin dan Zahra sudah tiba di ruangan. Suster yang menjaga Zea langsung keluar setelah mendapatkan perintah. Kini hanya ada keluarga kecil Adijaya yang ada di tempat itu. 


"Apa alasanmu ingin kembali padaku? Bukankah Amera adalah perempuan yang kamu cintai?"


Zahra terlihat serius. Tak ingin salah memilih. Meskipun hatinya sudah mantap, tetap saja harus mendapat penjelasan dari suaminya. 


Aidin hanya menatap Zahra tanpa membuka suara. Ia bingung harus menjawab apa. Banyak sisi yang mendorongnya untuk kembali dan mempertahankan pernikahan itu. Memiliki wanita yang saat ini ada di depannya. 


"Kalau aku mengatakannya, pasti kamu kaget."


Zahra menautkan alis. "Memangnya apa alasannya?" Semakin kepo dengan jawaban Aidin. 


"Ayo dong, Mas. Aku juga butuh kepastian." Menarik lengan Aidin hingga pria itu terhuyung. Untung ia bisa menjaga keseimbangan hingga Zea yang ada di gendongannya itu tak terusik. 


Aidin terkekeh, sedikitpun tak ingin menjawab alasannya yang menggunung. Menikmati cubitan demi cubitan yang terasa seperti gigitan semut. 


"Yang pasti bukan karena harta warisan papa. Sebenarnya malam ulang tahun pernikahan kita aku pulang dan membawa banyak hadiah untuk kamu, tapi aku terlambat."


Zahra masih ingat kenapa dirinya pergi, dan mungkin saat ini semua harus jelas sebelum mereka menjalin rumah tangga lagi. 


"Karena aku pikir kamu lebih memilih Amera daripada aku. Aku juga melihat kamu memberikan hadiah mahal untuk dia."


Aidin sudah menebak, pasti itu yang menjadi pemicu Zahra meninggalkannya. Tidak ada yang perlu disesali, dengan kejadian yang lalu sudah cukup menjadi pelajaran bahwa setiap perbuatan tak dinilai orang dengan baik, begitupun keputusan Aidin yang ingin memutuskan Amera dengan caranya, justru dianggap Zahra lebih memilih wanita itu, karena tak mendengar ucapannya sampai akhir. 


Aidin mengeluarkan ponsel lalu menunjuk beberapa foto yang tersimpan rapi di galeri. 


"Malam itu aku datang ke pesta Amera untuk memutuskan dia. Aku memang memberikannya hadiah mahal, karena aku juga merasa bersalah sudah mengingkari janjiku. Tapi aku lebih merasa bersalah padamu, karena sudah menyakitimu berulang-ulang. Merendahkanmu dan merenggut kebahagiaanmu. Bahkan aku merasa tidak ada manusia yang lebih hina daripada aku."


Menghentikan ucapannya sejenak, tangannya mengulur membelai pipi Zahra. Mengusapnya dengan lembut. 


"Aku sempat berpikir kalau aku ini memang tidak pantas untuk kamu. Tapi hati kecilku selalu berkata, perjuangkan, pertahankan. Akhirnya aku meminta restu mama untuk mencarimu."


"Kamu datang ke rumah mama, 'kan?"

__ADS_1


Aidin membulatkan matanya. Beberapa kali datang ia tak pernah melihat Zahra, bagaimana bisa wanita itu melihatnya. 


"Dari mana kamu tahu?" tanya Aidin antusias. Sebenarnya banyak kejanggalan saat ia ke rumah Delia, hanya saja tak bisa menembus dinding pertahanan sang mertua yang dilapisi para bodyguard tangguh. 


"Aku melihatmu sendiri. Sudah, sekarang jangan dibahas lagi, bukankah kita akan memulai hidup baru. Hanya ada kita bertiga."


Aidin mengangguk cepat, kembali menunjukkan kado yang dipersembahkan untuk Zahra. 


"Lihatlah, dua ratus dua puluh lima hari kita berpisah, dan setiap hari aku selalu membeli kado untukmu."


Pintu terbuka membuyarkan canda mereka. 


Delia datang, kali ini waktu yang tepat bagi Aidin berbicara dengan Zahra dan juga Delia. Ia beranjak menghampiri sang mertua yang berdiri dibelakang pintu. 


"Aku mau bicara dengan mama sebentar," ucap Aidin. 


"Baiklah, kita bicara di luar." Meninggalkan ruangan itu. 


Tiba-tiba Zahra cemas, ia takut kejadian yang lalu terulang lagi mengingat mamanya yang selalu tega menyakiti Aidin sesuka hati. 


Aidin mengembalikan Zea ke dalam box lalu menghampiri Zahra. 


"Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa." 


Zahra sedikit tenang, yakin jika Aidin bisa meluluhkan hati mamanya tanpa ada pertengkaran.  


Aidin mengikuti langkah Delia. Mereka tiba di  balkon rumah sakit. Sepi, tidak ada siapapun di sana. 


"Apa yang akan kamu bicarakan? Bukankah kamu sudah menang dariku, bisa mendapatkan Zahra."


"Ini bukan soal menang, Ma. Bagaimanapun juga Zahra adalah anak Mama, menjadi istriku atau bukan tidak akan mengubah takdir, bahwa dia terlahir dari rahim Mama. Aku hanya ingin meminta maaf, karena selama ini sudah merendahkan Mama. Dengan sengaja aku mengolok Zahra dan menyebut mamanya wanita malam."


"Untuk sementara waktu Zahra akan tinggal di sini bersamaku. Aku minta doa restu Mama. Restui aku untuk menjaga putri dan cucu Mama," ucap Aidin bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Ingin mengawali dengan kebaikan dan berharap mendapat doa dari semua orang disekelilingnya. 


Delia tak bisa berbuat apa-apa. Nasib Zahra adalah yang terpenting di atas segala-galanya, dan jika pria itu adalah sumber kebahagiaan putrinya, ia harus tetap mengalah dan mengesampingkan ego. Selama ini ia pun tak berperan apapun, bahkan seharusnya Adinata yang berhak memutuskan. 


"Baiklah, aku mengizinkanmu membawa Zahra dan Zea. Tapi jangan pernah menyakitinya lagi, karena nyawa kamu hanya ada satu. Jaga baik-baik." 


Seketika itu juga Aidin berlutut di kaki Delia. Seorang Ibu yang sudah menghadirkan bidadari tak bersayap dan bisa membimbingnya ke jalan yang lurus. Menuntunnya dari kegelapan menuju cahaya terang. Mengucapkan terima kasih tiada henti. 


"Sekarang pergilah, temani Zahra dan Zea, besok aku akan pulang."


Aidin mengusap air matanya dan berlari untuk kembali ke ruangan istrinya.


Melihat punggung yang semakin menjauh membuat Delia tersenyum tipis. Baru kali ini melihat pria yang pantang menyerah untuk mendapatkan cintanya. Meskipun sudah mengorbankan jiwa raga serta harta tetap tak menyurutkan niatnya yang sudah menggebu-gebu. 


Setelah memastikan Aidin masuk ke ruangan Zahra, Delia menghubungi James. Memberi kabar tentang rencananya yang akan segera pulang karena urusan pekerjaan. 


Tak seperti tadi, ruangan itu sudah dipenuhi beberapa orang, termasuk Iqbal. 


Zahra mengulas senyum melihat suaminya kembali dengan keadaan baik-baik saja tanpa cacat sedikitpun.


''Eh, papa datang, kayaknya bawa sesuatu untuk Zea."


Aidin mencerna ucapan Zahra. Melirik ke arah kotak kado yang ada di atas meja, lalu melihat Iqbal yang berdiri tak jauh dari box putrinya.


Sungguh, ia bukanlah ayah yang teladan, disaat semua orang hilir mudik menyambut putrinya dengan barang mewah, ia justru sibuk dengan penyesalan yang tak berujung.


''Mas Iqbal, terima kasih atas kadonya, tapi aku belum sempat membukanya, mungkin nanti kalau sampai rumah.''


Iqbal hanya mengangguk tanpa suara. Hampir saja ia melangkah keluar, Aidin menghentikannya. Menarik lengan kekar pria itu dari belakang.


''Besok aku akan mengadakan acara syukuran di rumah, kamu datang. Nanti aku kirim alamatnya."


Iqbal menepuk punggung tangan Aidin. ''Aku akan datang."

__ADS_1


Di sisi lain, Darren pun sibuk memilih rumah untuk sang adik tinggal, ia ingin memberikan tempat yang nyaman untuk keponakan dan adik iparnya sebelum pulang ke Indonesia.


__ADS_2