
Setelah sekian lama berpisah, akhirnya Zahra bisa memeluk bu Lilian dengan erat. Mengurai rasa rindu yang terpendam selama beberapa bulan lamanya. Begitu juga dengan pak Herman, ia tak mau kalah dan turun dari brankar dengan bantuan Aidin. Merengkuh sang menantu yang duduk di kursi roda. Layaknya seorang ayah yang menemukan anaknya, hatinya sejuk, bahkan itu bisa menjadi penyemangat dirinya sebelum menjalani operasi.
"Di mana cucu papa?" Mengelus kepala Zahra yang dibalut dengan hijab putih.
Delia membawa bayi mungil itu masuk dan menghampiri kedua orang tua Aidin. Bagaimanapun juga mereka berhak atas cucunya. Darah daging salah satu putra keluarga Adijaya.
"Cantiknya seperti kamu, Nak." Bu Lilian menciumi hidung mancung bayi itu.
Mengambil alih lalu mendekatkan pada pak Herman. Meskipun itu bukan cucu pertama, namun mereka seakan baru mendapatkan hadiah istimewa.
Aidin yang ada di samping brankar hanya diam. Tak ingin merusak momen bahagia itu, sadar di balik perpecahan mereka itu mau karena ulahnya. Walaupun hatinya ingin sekali memeluk dan mencurahkan kasih sayangnya, tetap saja harus bersabar dan benar-benar mendapat izin.
Zahra menundukkan kepala, sesekali melirik ke arah sang suami yang nampak cuek padanya.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Mereka hanya bisa menjadi pendengar setia saat Pak Herman menimang bayinya.
"Namanya siapa, Za?" Seperti Delia, bu Lilian pun menanyakan nama bayi itu.
Zahra kebingungan dan menatap Aidin dengan lekat. Memberi kode pada pria itu untuk memberi nama. Namun, karena kurang peka, Dia hanya membalas tatapan sang istri.
"Za," seru Delia membuyarkan lamunan Zahra. Ia tampak panik saat menatap mereka bergantian.
"Mas Aidin yang berhak memberi nama putri kami, Ma."
Delia menatap Aidin sinis, tak mengerti dengan jalan pikiran Zahra yang masih menyangkut pautkan dengan anaknya. Padahal, pengkhianatan pria itu sudah keterlaluan dan tak bisa dimaafkan.
"A–ku?" Menunjuk dadanya, seakan tak percaya dengan permintaan sang istri yang menyuruhnya memberi nama.
"Iya, kamu papanya jadi kamu yang berhak memberinya nama."
Aidin menghampiri Zahra dan yang lain. Mengusap lembut ubun-ubun putrinya yang berdenyut.
"Namanya Zea Almaira Adijaya." Mengecup kening putrinya yang beberapa detik lalu diberi nama.
Zea Almaira Adijaya, nama yang bagus.
Zahra hanya memuji dalam hati, tak ingin Aidin terlalu percaya diri dengan pujiannya.
"Tapi kalau kamu tidak setuju, ganti saja." Mengusap lembut tangan Zahra. Duduk di samping kursi roda mensejajarkan tingginya dengan sang istri yang duduk.
__ADS_1
"Gak papa, nama itu bagus kok. Aku suka." Mengucap dengan nada datar.
Aidin tersenyum lebar. Ternyata nama yang disusun sedemikian rupa tidak sia-sia.
Kebersamaan itu semakin hangat. Pak Herman yang tadinya berada di ambang ketakutan kini lega. Setidaknya ia bisa melihat cucu dan menantunya sebelum menjalani operasi.
"Aku yakin papa bisa melewati ini semua. Jangan takut, kita semua akan berdoa untuk papa." Zahra meyakinkan pak Herman untuk tetap tenang.
Bu Lilian menyerahkan cucunya lagi pada Delia, dan wanita itu langsung membawanya keluar bersama Hanif dan suster serta Deswita.
Aidin masih pada tempatnya. Sedikitpun tak ingin bergeser menjauh, mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk bisa bersama Zahra.
"Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Aidin berbisik, mencairkan keheningan.
Zahra memutar bola matanya. Menoleh ke arah kiri kanan belakang, baru menyadari bahwa seluruh keluarganya tidak ada di sana.
"Sejak __" Zahra menghentikan ucapannya, berpikir keras mengingat-ingat kapan ia mulai tinggal di Sydney.
"Lupa."
Aidin terkekeh, mendorong kursi Zahra dan membawanya sedikit menjauh dari ranjang pak Herman.
Kini ia bisa leluasa menatap Zahra. Mengabsen setiap jengkal wajah wanita itu. Sedikit pun tidak ada perubahan, tetap cantik seperti sebelumnya, hanya saja terlihat lebih berisi.
"Aku mau kembali ke kamar," ucapnya dengan tangan yang hampir menyentuh roda, namun dengan sigap Aidin menariknya.
"Aku akan antar kamu."
Tak ingin membuat Zahra kesal, Aidin membawanya keluar. Menyusuri setiap lorong rumah sakit hingga keduanya tiba di lantai tiga, di mana tempat Zahra.
"Di mana kamarnya?" tanya Aidin yang sedikit kebingungan saat tiba di pertigaan.
Zahra hanya menunjuk tanpa suara. Masih merasa canggung saat berada di dekat Aidin. Meskipun statusnya suami istri, masa lalu kelam itu membuat keduanya saling kikuk dengan sikap masing-masing.
"Assalamualaikum…" sapa Aidin sembari membuka pintu.
Tidak ada siapapun di sana yang membuat Zahra celingukan.
"Kok sepi, apa mama dan Zea belum sampai?"
__ADS_1
"Mungkin mama membawa Zea ke taman."
Mendorong Zahra masuk ke dalam lalu merapikan selimut yang ada di brankar. Setelah itu berlutut di depannya.
Jarak yang terlalu dekat membuat Zahra tak bisa menghindar lagi.
Netra keduanya saling bertemu. Aidin menggenggam kedua tangan Zahra dan menciumnya. Dan itu sukses membuat mata Zahra berkaca-kaca.
"Aku memang laki-laki bajingan yang tidak pantas dipertahankan. Aku pendosa yang tidak patut dimaafkan. Tapi izinkan aku untuk merawat kamu dan Zea," ucap Aidin memohon.
Zahra melepas tangan Aidin. Mendorong tubuh kekar pria itu hingga terjengkang. Kemudian mendorong kursinya ke arah kamar mandi.
Aidin segera bangkit dan menghampiri Zahra yang nampak kesusahan membuka pintu.
"Mau apa?" tanya Aidin berdiri di depan sang istri.
Zahra menggeleng tanpa suara. Menyuruh Aidin untuk pergi meninggalkannya sendiri.
Tidak semudah menyuruh anak kecil, faktanya pria itu tetap berdiri di sampingnya, bahkan sedikitpun tak ingin memenuhi permintaan Zahra.
"Aku mau buang air kecil, apa kau mau terus di situ, aku malu."
Zahra membuka suara, ia sudah tak tahan dan ingin segera masuk.
Seketika Aidin mengangkat tubuh mungil Zahra dan membawanya masuk ke dalam. Tak segan-segan membantu Zahra dalam segala hal. Kemudian melipat kemejanya hingga sesiku lalu berjongkok
"Jangan, Mas! Aku bisa sendiri." Menahan tangan Aidin yang hampir menyentuh kakinya. Wajahnya merona saat pahanya sudah terekspos. Mencoba menurunkan tangan pria itu. Tak sengaja Zahra melihat luka kecil di bagian tangan Aidin, tak hanya satu tapi ada beberapa cakaran dan bekas gigitan di sana.
"Ini kenapa, Mas?" tanya Zahra penuh kekhawatiran. Sedikitpun tak bisa melihat luka di tubuh suaminya.
"Ini?" Menunjuk lukanya sendiri.
Zahra mengangguk cepat. Penasaran dengan orang yang berani melukai suaminya, begitu pikirnya.
"Tadi ada bidadari cantik. Dia sengaja mencakarku untuk balas dendam karena aku pernah menyakitinya."
Zahra memutar otaknya. Berpikir keras dengan ucapan Aidin yang seolah-olah seperti sebuah sindiran.
Tak lama kemudian menepuk lengan kekar sang suami.
__ADS_1
"Kau menyindirku, itu gigitanku tadi saat melahirkan Zea, 'kan?"
Aidin hanya bisa tersenyum kecil serta membelai pipi Zahra dengan lembut.