
Roy memarkir mobil nya sembarangan, seperti biasa aura dingin nya akan menguar jika sudah di tempat ini, sama dengan Smith. Entah ada apa di dalam bangunan ini, tapi yang pasti selalu membuat mereka emosi.
"Selamat pagi Tuan Muda Smith, Pak Roy.." Sapa anggota yang berjaga di luar, mereka membungkuk hormat saat kedua pria itu berjalan melewati mereka.
"Dimana Barry?" Tanya Roy.
"Saya disini tuan.." Jawab Barry, entah dari mana pria itu. Tapi di lihat dari gelagat nya, pasti dari kamar mandi.
"Mana wanita itu, apa kau sudah menyiapkan sesuatu yang aku pesan?"
"Sudah tuan, mari saya antar."
"Aku ingin lihat hukuman apa yang akan kau berikan pada wanita itu, Roy.." Ucap Smith datar.
"Mari tuan.." Smith mengekor di belakang Roy dan Barry, biasa nya kedua pria itu yang akan mengekor di belakang nya, tapi kini keadaan nya terbalik.
Barry membuka pintu kayu yang sudah lapuk dengan perlahan. Lalu menunjukan wanita itu yang belum sadarkan diri.
"Dia pingsan?"
"Maaf Pak, tadi malam dia sangat berisik jadi saya tampar dan ya belum sadarkan diri sampai sekarang." Jawab Barry.
"Siram dia Barry.." Barry mengangguk dan menyiramkan satu ember air hingga membuat wanita itu tersedak dan bangun dari pingsan nya.
"Aawwhss, dingin sialan.." Pekik Riska, dia terbatuk karena sebagian air masuk ke dalam hidung dan mulut nya secara tiba-tiba.
"Selamat pagi Nona Riska.." Ucap Roy, membuat Riska yang sedari tadi mengumpat kasar menghentikan umpatan nya dan menatap Roy yang berdiri tegap di depan nya.
"Sudah kuduga, ini semua pasti ulahmu Roy."
"Lalu? Apa kau sadar telah berbuat di luar batas yang menyebabkan wanita ku celaka?"
"Cihhh, sampai mati pun aku takkan mengakui sesuatu yang bahkan tidak aku lakukan." Riska berdecih, dia pikir Roy itu tak tau apapun tentang perbuatan nya yang mendorong Rena hingga membentur guci.
"Lalu ini apa hah?" Roy memutar rekaman cctv yang berisi perdebatan Rena dan Riska di lobi, hingga di akhir dia melihat sendiri dengan kedua tangan nya, Riska mendorong Rena hingga terjerembab dan kepala nya membentur guci keramik hingga tak sadarkan diri.
Sontak saja Riska melotot melihat rekaman kejahatan nya. Tiba-tiba saja tubuh nya terasa lemas dengan bulu kuduk yang merinding.
"Masih tak mau mengakui perbuatan mu hah? Untung saja anak ku baik-baik saja, kalau tidak aku pasti sudah menembak mu di tempat."
__ADS_1
"Jadi office girl itu hamil Roy? Wow, kau sangat ganas ternyata."
"Cukup berbasa-basi nya, inti nya aku kemari untuk memberi mu hukuman yang setimpal dengan perbuatan mu, hukuman yang takkan kau lupakan seumur hidup bahkan sampai mati." Roy menyeringai, membuat Riska merinding.
"Barry, bawa dia." Barry mengangguk dan menyeret kursi yang di duduki wanita itu ke sebuah ruangan kecil.
Roy datang dengan langkah angkuh nya, senyuman licik nya tak pernah pudar dari kedua sudut bibir nya.
"Lepaskan semua nya," Perintah Roy, mendengar itu semua anggota bergerak dan membuka semua kandang kecil di sekeliling ruangan kecil nan sempit itu.
Ribuan kalajengking beracun berdesakkan keluar dari sarang mereka, membuat Riska berteriak ketakutan.
"Roy, aku mohon jangan lakukan ini..." Teriak Riska, kaki nya bergerak-gerak ketakutan saat kalajengking itu mulai mendekat.
"Cukup selama ini aku lembek padamu, karena aku pikir kau akan berhenti. Tapi setelah melihat betapa kejam nya dirimu melukai Rena, membuat aku marah dan aku berfikir kau harus di beri pelajaran yang setimpal atas perbuatan mu sendiri."
"Andai saja kau tak mengganggu hidup ku lagi setelah kau memutuskan meninggalkan aku, mungkin kau takkan pernah mengalami hal seperti ini." Ucap Roy, dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.
"Royy, toloonggg..." Pekik Riska saat kaki nya mulai di sengat oleh kalajengking itu.
"Tak ada guna nya, keputusan ku sudah bulat. Nikmati hukuman mu, hingga kau akan mati mengenaskan disini. Tentu nya, buaya-buaya milik tuan Smith dengan senang hati memakan mayat mu."
"Kali ini giliran Gerald, harus ku acungi jempol. Pria itu mampu bertahan hidup di sela kesakitan nya, aku harus mengakhiri hukuman nya."
"Jangan lepaskan dia semudah itu tuan, hukuman nya belum setimpal menurut saya." Celetuk Roy membuat Smith mendelik.
"Siapa juga yang berniat melepaskan pria brengseek itu Roy, kau tak tau arti dari mengakhiri?" Roy menggeleng.
"Sejak punya pacar, otak mu jadi tak berfungsi dengan baik. Artinya mati Roy.."
"Ahh iya, maaf tuan.."
"Sudah, ambilkan masker dan jubah plastik ku." Roy mengangguk dan mengambil barang yang di butuhkan tuan nya.
Setelah itu, Smith memakai nya dan pergi ke ruangan yang terasa mencekam itu seorang diri. Roy tak tahan dengan bau busuk yang menguar dari ruangan itu, hingga memutuskan berdiri di ambang pintu.
"Gerald.." Panggil Smith, hingga sosok yang di panggil itu membuka mata nya perlahan.
"Haii kawan lama, ternyata kau masih ingat tempat ini." Jawab Gerald, meski sudah lemah tapi kesombongan dan keangkuhan pria itu tak hilang.
__ADS_1
"Aku kesini hanya merasa kasian padamu, jadi aku memutuskan untuk mengakhiri hukuman mu. Kau mau di tebas atau di tembak?"
"Terserah kau saja, yang mana pun asalkan cepat. Aku sudah tak tahan." Jawab nya.
"Ada pesan terakhir?"
"A-aku minta maaf pada mu dan Amelia, maaf sudah membuat dia sakit."
"Amelia gadis yang baik, dia pasti memaafkan mu Gerald. Sedangkan aku, kau tau sendiri aku takkan memaafkan seseorang sebelum dia mati."
"Jadi lakukan saja, aku sudah tak berharap hidup."
Smith mengeluarkan senjata api nya dari saku jas khusus nya, dia membidik tepat sasaran hingga membuat Gerald terkapar bersimbah darah dengan kepala yang bolong.
"Barry.." Teriak Smith. Pria itu dengan cepat datang.
"Buang mayat nya, terserah jika mau di buat makanan buaya atau apapun."
"Baik tuan, saya mengerti."
"Aku harus ke kantor, kau urus sebaik mungkin. Bersihkan semua jejak, jangan tertinggal setitik pun."
"Baik tuan." Smith membuka jubah transparan nya untuk di bakar oleh Barry, sedangkan pria itu pergi bersama Asisten nya.
Roy kembali mengemudikan mobil nya ke kantor setelah urusan mereka selesai.
"Rencana mu membuat Riska mati, Roy?" Tanya Smith.
"Itu yang terbaik tuan, dengan dia mati pasti hidup saya lebih tenang."
"Terserah kau saja, tapi saran ku jangan biarkan Rena mengetahui perbuatan mu atau dia akan kecewa."
"Saya mengerti tuan, tentu saja saya akan menyembunyikan nya serapi mungkin."
...
🌻🌻🌻🌻
Kopi sama bunga nya don't forget ya bestie🤭🤭
__ADS_1