
Pagi hari nya, Smith terbangun karena mendengar suara gaduh dari kamar mandi. Dia membuka kedua mata nya perlahan, lalu bangkit dari tiduran nya, dia melirik ke samping. Tapi istri nya sudah tak ada lagi, mungkin dia di kamar mandi.
Smith menyusul sang istri dengan langkah yang terseok karena masih pusing setelah tidur nyenyak nya tadi malam, dia membuka pintu kamar mandi.
Huekk.. huekk..
Smith membulatkan mata nya saat melihat sang istri tengah memuntahkan seluruh isi perut nya di wastafel.
"By.." Smith memijat tengkuk istri nya.
"Tenggorokan aku pait banget.." Keluh Amelia, dia terkulai lemas dan bersandar di dinding.
"By, kita ke kamar lagi ya? Gak baik disini, dingin." Smith langsung menggendong sang istri dan membaringkan nya di ranjang.
"Mual Oppa.." Amelia menutup mulut nya saat desakan di perut nya semakin terasa.
"Tunggu By, tahan sebentar." Smith mengambil wadah dan mengalasi nya dengan plastik.
Huekk... Huekk..
"Oppa, sakit..." Keluh Amelia sambil memegangi tenggorokan nya.
"Kita ke rumah sakit sekarang sayang.."
Smith meraih jaket tebal nya lalu memakai nya, tak lupa juga memakaikan jaket tebal pada istri nya yang terlihat lemas, wajah nya memucat.
Smith menggendong Sang istri ala bridal style, sesekali pria itu memandangi wajah pucat Amelia dan mengecup kening nya.
"Selamat pagi tua.."
"Ayo cepat, kita ke rumah sakit sekarang."
"Baik tuan.." Anak buah Smith segera berlari ke mobil nya dan membukakan pintu untuk sang tuan yang terlihat sangat panik.
"Bau.."
"Bau apa sayang?" Belum sempat Amelia menjawab, dia malah muntah mengenai celana sang suami.
"Maaf oppa, aku tak sengaja."
"Tak apa sayang.." Jawab Smith, dia nyengir-nyengir geli saat merasakan cairan hangat di paha nya.
"Percepat laju mobil nya." Perintah Smith, membuat anak buah nya itu kebingungan. Karena jalanan sangat padat hari ini, karena ini hari senin jadi awal masuk kerja lagi.
Setelah mendengarkan berbagai umpatan dari pria muda itu, akhirnya setelah hampir satu jam menempuh perjalanan yang menguras tenaga dan mental, mobil itu sampai di rumah sakit terkenal di daerah ini. Rumah sakit terbaik dengan pelayanan VVIP.
Smith membuka pintu dan kembali menggendong tubuh sang istri yang tak sadarkan diri, mungkin karena kelelahan.
"Sus, tolong istri saya.."
__ADS_1
"Baik, akan kami tangani. Silahkan menunggu.."
"Pastikan istri ku baik-baik saja." Suster itu hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruangan dengan mendorong brankar Amelia yang terbaring.
"Hei kau, carikan aku celana baru."
"Baik tuan.." Pria itu pergi dengan tergesa, keburu pria itu berkata dua kali.
Smith pergi ke kamar mandi, sekedar menyiram bekas muntahan sang istri dengan air agar tak berbau amis.
Tak lama, suster keluar dan celingukan mencari keberadaan pria yang datang bersama pasien yang sedang di tangani di dalam.
Karena tak kunjung menemukan suami pasien, akhirnya suster itu masuk kembali ke ruang pemeriksaan.
Smith juga baru keluar dari toilet pria yang terletak di ujung koridor.
Pria itu nampak berantakan, tadi pagi mana sempat dia cuci muka. Apalagi sarapan, saat ini perut nya sudah berdemo minta di isi, tapi dia masih menunggu kabar tentang keadaan sang istri.
Smith mengusap perut nya yang terasa melilit, maklum saja dia tak pernah mengalami kelaparan seperti ini, ini pertama kali nya dia mengalami yang nama nya kelaparan.
Smith merogoh saku jaket nya, menelpon anak buah nya sekalian membeli sarapan, dia sudah tak tahan dengan rasa yang begitu menyiksa ini.
"Hallo tuan.."
"Beli gimbap telur, eomuk, ramen, minum nya susu pisang dan cola."
"Sundubu jigae, dan cepat aku sudah kelaparan."
"Saya akan berangkat sekarang."
"Seperti nya orang itu membeli celana di jepang, lama sekali." Gerutu Smith lalu kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku.
Tak lama, suster tadi kembali keluar dengan wajah khawatir nya.
Smith yang menyadari raut tak biasa dari perawat itu segera mendekat.
"Ada apa dengan istri saya sus?" Tanya Smith.
"Istri anda sudah bangun, silahkan masuk. Saya hanya khawatir kalau anda pergi, karena tadi saya mencari anda, tapi anda tidak ada. Mari masuk." Perawat itu membuka pintu ruangan lebar-lebar, tapi saat Smith lewat dia menutup hidung nya, mungkin karena aroma tak sedap yang berasal dari celana nya yang belum sempat dia ganti.
"Oppa.."
"Iya by, kenapa sayang?" Smith segera mendekat ke sisi brankar, mengusap kepala sang istri, mengecup kening nya singkat, tanpa peduli kalau di ruangan itu ada orang lain selain mereka.
"Permisi tuan.."
"Iya dok."
"Apa tuan tau kalau Nona sedang hamil muda?" Tanya dokter itu.
__ADS_1
"Saya hanya baru tau istri saya hamil, belum tau sudah berapa bulan." Jawab Smith jujur, tapi justru malah membuat dokter itu terkekeh pelan.
"Kalau begitu mari kita periksa." Ucap dokter itu sambil menyibak pakaian tidur yang di pakai Amelia.
"Ehh, apa-apaan ini? Kenapa harus buka baju segala?" Tanya Smith, mata nya memicing menatap dokter di depan nya.
"Saya akan memeriksa berapa usia kandungan Nona, Tuan."
"Dengan cara apa?"
"Ultrasonografi atau USG." Jawab Dokter itu sedikit kesal, karena Smith mengganggu nya bekerja.
"Ohh, baiklah." Akhirnya Amelia bisa bernafas lega, jujur saja jika Smith sudah bersikap posesif berlebihan dia malu bukan main.
Dokter itu mengoleska gel di perut Amelia, lalu memutar benda yang terhubung dengan sebuah layar yang menunjukan gambar berwarna abu-abu.
Hanya terlihat satu bulatan dengan titik yang terlihat kecil. Sepasang suami istri itu tak tau apa yang mereka lihat, jadi ekspresi nya datar.
"Nona lihat, ini kantung rahim anda." Tunjuk dokter itu sambil terus memutar-mutar benda itu di atas perut Amel.
"Woahh, selamat ya janin nya kembar." Ucap dokter itu dengan antusias.
"Ap-apa? Kembar dok?" Tanya Smith dan Amelia barengan.
"Perkiraan ini kembar tuan dan Nona, dua titik kecil ini adalah janin anda yang sedang berkembang." Jawab dokter itu dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah nya.
"Kandungan Nona sehat, janin nya tumbuh dengan baik. Saat ini dia masih sebesar kacang merah, yang berarti usia kandungan Nona baru menginjak usia dua bulan." Jelas dokter itu.
"Dua bulan?"
"Ya tuan, apa sering berhubungan setelah selesai datang bulan?"
"Sering dok, dia mah kalau habis datang bulan pasti langsung di pake." Celetuk Amelia membuat wajah Smith memerah.
"Nah itu kan bagus, Nona sedang dalam masa subur langsung di buahi, sangat efektif."
"Tapi kata dokter di Indonesia, saya di vonis akan sulit hamil karena rahim saya terluka." Jelas Amelia.
Dokter itu tersenyum simpul mendengar ucapan Amelia.
"Tak ada yang tak mungkin jika Author sudah berkehendak Nona, dunia ini di ciptakan oleh tingkat kehaluan author, jadi nasib kita hanya author yang tau."
"Iya juga sih dok.."
...
🌻🌻🌻
Yuk like,komen,vote, gift kopi sama bunga nya jan lupa😊
__ADS_1