
Tak lama, Appa datang dengan setelan pakaian santai nya.
"Rose, tolong bikinkan susu hangat.." Dulu, Appa Joseon penggemar kopi hitam tanpa gula. Tapi sekarang, karena faktor kesehatan, beliau mengganti nya ke susu hangat.
"Amel aja yang buat ya Appa, Bibi nya lagi masak."
"Baiklah, jangan terlalu manis ya nak."
Amelia menganggukan kepala nya, dia menyendok susu bubuk di kaleng susu khusus lansia dan menyeduh nya dengan air yang hangat kuku.
Amelia membawa nya ke meja makan, meletakan nya tepat di depan mertua nya, juga kopi pesanan sang suami yang masih mengepul.
"Terimakasih Amel,"
"Sama-sama Pa.." Jawab Amelia dengan senyum manis nya.
"Makasih ya By.."
"Iya sayang, di minum nya pelan-pelan." Smith hanya tersenyum mendengar panggilan sayang yang keluar dari mulut sang istri.
Amelia masuk kembali ke arah dapur, membantu bibi Rose yang masih menyiapkan hot pot buatan nya.
Setelah selesai, Amelia menyajikan malatang dengan kuah merah dan asap yang masih mengepul, karena baru saja matang.
"Malatang? Wah udah lama gak makan malatang.." Celetuk Appa Joseon, meski sudah tua tapi beliau tetap menyukai makanan bercita rasa pedas.
"Jangan kebanyakan makan daging, nanti darah tinggi mu kambuh."
"Yaelah, iya.." jawab Joseon dengan wajah yang di tekuk.
Mereka pun memulai sesi makan malam dengan hening, hanya terdengar seruputan dan sesekali bunyi sendok garpu yang membentur piring.
"Huhh, pedes dan beneran lidah aku mati rasa Bi.." Keluh Amelia setelah makan.
"Tapi enak Bi,"
"Iya enak banget, tapi jadi mati rasa gini.."
"Kan bibi udah peringatin tadi, lah kamu makan nya banyak banget, mana kuah nya di seruput kayak orang minum air putih lagi."
"Hehe, enak Bi dan ini pertama kali Amel makan malatang." Jawab Amelia.
"Yaudah, sekarang bantu bibi beresin meja makan sama cuci piring ya.."
"Iya bi.." Amelia baru akan bangkit, tapi tangan nya keburu di tahan oleh sang suami.
"Gak boleh, kamu gak boleh kecapean sayang."
"Ya elah Smith, cuma bantu lap meja sama nyuci piring."
__ADS_1
"Pokok nya gak boleh.." Kekeh Smith, membuat Amelia memerah karena malu dengan keposesifan sang suami yang menurut nya berlebihan.
Melihat kelakuan sang anak, Joseon menggelengkan kepala nya. Smith begitu mirip dengan dirinya saat awal-awal menikahi wanita pujaan nya dulu, dia begitu posesif bahkan sang istri tak boleh mengerjakan hal-hal kecil sekali pun.
"Oppa, gapapa ya gak lama kok.." Amelia berusaha memberi pengertian pada suami bucin nya.
"Gak boleh, nyuci piring itu dingin sayang, nanti tangan mu keriput." Amelia tercengang mendengar ucapan sang suami.
"Keriput bentar Oppa, nanti juga kembali seperti awal. Udah jangan manja, aku bantuin bibi dulu."
"Tapi By.." Rengek Smith dengan mengayun-ayunkan tangan istri nya yang dia genggam erat.
"Udah, jangan merengek kaya anak kecil."
Smith merengut begitu mendengar ucapan sang istri, entahlah belakangan ini dia merasa tak ingin jauh dari Amelia, dia bahkan lebih posesif hingga sering kali membuat istri nya itu kesal dengan tingkah nya.
"Sudahlah Smith, lagi pun istri mu kan gak kemana-mana." Smith hanya mendelik sebal ke arah Appa nya yang mendukung keputusan Amelia untuk tetap membantu bibi nya beres-beres sehabis makan.
....
Sedangkan di apartemen, Rena tengah ngidam berat, sedangkan Roy tengah ketar ketir karena malam-malam begini calon istri nya kekeh meminta rujak buah.
Ya, Rena sudah pulang tadi sore. Tapi setelah pulang, ngidam nya semakin tak terkendali.
"Mau rujak buah.."
"Iya sayang, ini Barry lagi nyariin buat kamu.."
"Kamu ini, yaudah aku pergi dulu sebentar. Jangan kemana-mana."
"Memang nya aku mau kemana? Mana baru keluar rumah sakit, mana laper, mana lagi bunting."
"Mau makan sama apa yang? Biar sekalian aku beliin, makan nasi ya. Udah seminggu ini kamu gak makan nasi, kasian dedek bayi nya."
"Mau sate padang aja, 3 porsi.."
"Apa gak sekalian 5 porsi aja?"
"Ya itu tergantung kamu aja, aku cuma mau tiga porsi aja."
"Yaudah, aku pergi dulu. Tapi nanti minta jatah ya? Nengokin dedek.." Mendengar itu, Rena mendelik kesal pada Roy. Sudah hamil juga, tetep aja mau nabur benih.
"Satu ronde aja, tapi cepetan pergi."
"Iya sayang, makasih. Gini kan jadi semangat berjuang nyari rujak nya." Roy pun pergi setelah mengecup singkat kening Rena.
Roy berjalan riang menyusuri lorong apartemen, bahkan hingga masuk lift pun senyuman nya tak pudar. Membuat Barry yang sedari tadi menunggu di luar apartemen mengernyitkan dahi nya keheranan.
"Tuan Roy kenapa ya? Biasa nya kan dia berwajah datar seperti tembok, tapi ini terlihat cerah sekali seperti mentari pagi." Batin Barry, mana berani dia menggoda pimpinan tertinggi setelah Smith.
__ADS_1
Tapi rasa penasaran nya begitu mendominasi, hingga membuat bibir nya gatal, tak tahan untuk bertanya, ada apa di balik perubahan ekspresi sang tuan.
"Maaf tuan, anda kenapa?"
"Kenapa apanya?" Balik tanya Roy.
"Saya perhatikan sejak keluar apartemen, tuan selalu tersenyum."
"Ini bukan hal yang bisa di bahas dengan seorang jomblo abadi seperti mu." Celetuk Roy dengan senyum jahil nya, membuat Barry bungkam.
"Kok diam? Kau tak penasaran aku kenapa?"
"Penasaran tuan, tapi saya tak mau di sindir lagi, jadi lebih baik saya diam saja dari pada kena mental." Jawab Barry datar.
"Hahaha, kena mental.." Roy tertawa mendengar ucapan anak buah tuan muda nya.
"Makanya, cari cewek sana. Betah amat ngejomblo, keburu tua."
"Baik tuan, nanti saya cari yang lebih cantik dari Nona Rena." Jawab Barry dengan wajah datar nya, membuat Roy menghentikan tawa nya dan memukul lengan Barry dengan kencang hingga membuat Barry meringis.
"Berani sekali lagi kau menyebut nama kekasih ku dalam pembicaraan, ku potong burung puyuh mu Barry." Sontak saja, Barry menutupi burung nya dengan kedua tangan.
"Jangan tuan, maafkan saya."
"Intinya, aku kembali mendapat jatah malam ku setelah sekian lama berpuasa." Jawab Roy, membuat Barry mendongakan kepala nya. Ternyata masalah jatah toh.
"Memang nya apa pengaruh jatah sama ekspresi tuan?"
"Gini nih kalau ngobrol sama jomblo, ya jelas ada pengaruh nya bodohh. Jatah malam itu membuat kepala lebih terasa ringan, apalagi setelah melepaskan lahar panas Barry, kau mana tau sensasi panas dingin nya saat akan klimakss." Barry diam saja, percuma kalau pun menyahut dia akan kena ledek lebih parah lagi.
"Oh ya, aku ingin tau. Apa senjata mu pernah masuk di lubang wanita Barry?" Barry menatap sang tuan dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Bisa-bisa nya dia bertanya seperti ini, disaat begini. Kalau bisa, dia takkan mau datang kesini kalau hanya menjadi bahan ejekan.
"Barry.."
"Saya tak sepolos itu tuan, meski pun mendapat predikat jomblo abadi, tapi saya sudah pernah memecah perawaan seorang gadis." Jawab Barry, masih dengan ekspresi datar nya.
"Pasti sudah lama kan? Masukin sana, keburu karatan."
Barry memilih diam, dia sungguh tak tertarik dengan arah obrolan Roy yang membuat nya terpojok.
....
🌻🌻🌻🌻
Jahil banget Roy, mentang-mentang mau buka puasa🤣🤣
Mau promo nih,
__ADS_1
mampir juga yaw, ya meski baru up dua bab sih🤣🤣