
Tak terasa, setahun sudah berlalu. Anak-anak Smith sudah berusia satu tahun, mereka sudah bisa berjalan meski belum terlalu lancar.
Sudah setahun juga Smith merana karena sang istri malah di nyatakan koma oleh dokter yang dia sewa dari korea, khusus untuk menangani istri nya.
Amelia masih beristirahat, mungkin dia lelah. Tapi ini sudah setahun, bagi Smith ini sudah lebih dari cukup untuk beristirahat, dia begitu merindukan istri nya, semua nya!
Smith berdiri dengan tangan yang dia masukan ke dalam saku, sudah 4 bulan ini dia kembali bekerja di kantor. Meski ada Roy, tapi dia tak mau terus menangisi nasib nya. Mungkin dengan sibuk bekerja, dia bisa melupakan sejenak kesedihan nya.
"Permisi tuan.."
"Ya Roy, ada apa?" Tanya Smith pelan, sejak Amelia tertidur, Smith lebih banyak melamun.
"Ada berkas pengajuan kerja sama yang memerlukan tanda tangan anda, saya sudah memeriksa nya dahulu dan saya jamin aman."
Smith mengangguk dan menandatangani berkas itu tanpa membaca nya terlebih dahulu. Kinerja Roy tak perlu di ragukan lagi, dia pun mempercayakan nya pada Roy.
Roy pun merasa iba melihat penampilan sang tuan, tak ada Smith yang rapih. Wajah nya berewokan dengan potongan rambut gondrong, tak seperti dulu saat Amel selalu mengurus nya dengan baik. Tapi sekarang? Pria itu nampak seperti kehilangan separuh nyawa nya.
"Kenapa Roy?" Tanya Smith saat melihat tatapan berkaca-kaca Roy.
Mendengar pertanyaan Smith, Roy buru-buru mengusap kedua ujung mata nya. Dia sudah lama bekerja dengan Smith, tentu nya sudah terjalin ikatan yang dalam antara mereka.
"Aku baik-baik saja Roy, tak perlu khawatir." Ucap Smith lagi.
"Jangan bohong tuan, saya bisa melihat kesedihan dari tatapan anda."
"Benar Roy, aku tak pernah baik-baik saja tanpa Amel." Akhirnya tangis Smith pecah di depan sang asisten, sumpah demi apapun hati Roy terasa ngilu melihat Smith begini. Selama bekerja dengan nya, dia belum pernah melihat Smith menangis sepilu ini.
"Aku harus apa Roy? Harus bagaimana? Aku merindukan Amel, aku sangat merindukan nya tapi dia tak kunjung bangun juga." Ucap Smith dengan air mata yang membanjiri wajah nya.
"Tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu dengan sabar tuan, Nona Amelia pasti bangun, yakin lah tuan meskipun entah kapan kabar baik itu akan datang."
"Kita hanya bisa berdoa tuan, doakan yang terbaik untuk Nona Amelia, dia wanita yang baik pasti akan mendapat yang terbaik juga." Ucap Roy mencoba membuat Smith lebih tenang.
"Kau benar Roy, aku hanya bisa menunggu sampai kapan pun itu."
__ADS_1
"Apa tuan ingin pulang? Saya tau mood tuan sedang memburuk."
"Ya, aku akan pulang saja. Kau handle disini ya, aku lelah."
"Baik tuan saya mengerti, ada supir yang akan mengantar anda. Saya khawatir kalau anda menyetir sendiri."
"Terimakasih atas perhatian mu Roy, sudah lama aku tak mendapat perhatian sedetail ini sejak Amel ku tertidur." Ucap Smith sendu, Roy menepuk pundak sang atasan, memberi nya sedikit kekuatan.
Smith pergi dengan langkah pelan nya, mata nya sembab, selain kurang tidur, pria itu juga sering menangis.
...
Smith melangkahkan kaki nya memasuki mansion, tempat paling sepi yang dia rasakan saat kembali kesini, tak pernah ada lagi yang menyambut nya dengan mesra, kecuali kedua anak nya.
Aliya Sanha Alexander dan Ares Sakha Alexander. Smith memberi mereka nama, tanpa sempat berdiskusi terlebih dulu dengan sang istri.
"Alia, hati-hati jalan nya sayang nanti jatuh.." Ucap Bibi Rose, tapi gadis itu tak peduli dan tetap berjalan cepat. Kaki kecilnya belum bisa menahan bobot tubuh Aliya yang gembul, bisa di bilang bongsor, hingga akhirnya gadis kecil itu terjatuh dengan wajah yang membentur ubin.
Aliya menangis kencang hingga membuat Smith yang masih di luar itu segera berlari begitu mendengar suara tangisan sang putri.
"Aliya, kamu kenapa sayang?" Tanya Smith, dia segera menggendong tubuh gembul putri nya, mencoba menenangkan nya, tapi nihil gadis itu tetap menangis, bahkan bibi Rose pun tak mampu membuat gadis itu diam.
"Mau ke mama ya sayang? Boleh, tapi jangan berisik ya, mama lagi bobo." Seolah mengerti, Aliya menganggukan kepala nya.
Smith membuka pintu kamar tempat Amelia di rawat, Smith memutuskan untuk merawat sang istri di rumah dengan menyewa dokter dari korea secara khusus.
"Tuh mama nya masih bobo." Tunjuk Smith pada sang istri yang masih berbaring lemah dengan mata tertutup rapat.
"Mamama.." Celoteh nya lagi sambil menunjuk-nunjuk Amelia.
Smith menurunkan Aliya dan gadis kecil itu berjalan pelan mendekati sang mama, bahkan kaki kecil nya dia paksa untuk naik ke atas ranjang, lalu menciumi seluruh wajah Amel.
"Mamama atik.." Ucap Aliya dengan tawa menggemaskan nya. (mama cantik)
"Iya, mama mu memang cantik sayang makanya papa cinta mati sama mama mu." Ucap Smith, lalu kembali menggendong sang putri.
__ADS_1
"Au, mamama.." (gak mau, sama mama.)
"Mama lagi bobo, jangan di ganggu ya. Aliya sama papa aja, kasian mama nya."
"Biarkan Smith, dia ingin dekat dengan mama nya, apa salah nya?" Ucap Bibi Rose.
"Amel sedang tidur Ma, nanti Aliya ganggu Amel istirahat."
"Tak apa Smith, biarkan dia berkomunikasi dengan mama nya."
Smith menurunkan Aliya, lagi-lagi gadis mungil itu mendekati mama nya, menaiki ranjang dan menciumi pipi mama nya.
"Kau melihat nya Smith? Bahkan Amel belum pernah menemui anak-anak nya, tapi ikatan antara ibu dan anak sangat kuat."
"Iya Bi, aku hanya berharap Amel bisa bangun cepat dan kami bahagia lagi seperti dulu." Jawab Smith.
"Lihat itu Smith.." Tunjuk Bibi Rose pada jari jemari Amel yang bergerak pelan.
"Panggil dokter Bi, cepat.." Ucap Smith, dia kelewat senang sampai menyuruh bibi nya cepat-cepat.
Tak lama bibi Rose datang kembali dengan di ikuti dokter di belakang nya.
"Tangan istri saya bergerak dok.."
"Saya periksa dulu ya Tuan.." Jawab nya dengan bahasa korea.
Dokter itu pun memeriksa keadaan Amelia, dan hasilnya..
"Ini kemajuan yang bagus tuan, tapi Nona masih belum mampu sadar. Saya sarankan sering-sering lah berkomunikasi dengan Nona, agar alam bawah sadar nya mendorong nya agar cepat bangun."
"Begitu ya? Baiklah dok, terimakasih." Jawab Smith lesu.
Dia sudah sangat berharap sang istri bangun sekarang, tapi hasilnya tetap saja, Amel belum sadar. Lagi-lagi dia harus menunggu, entah sampai kapan.
....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻