
Roy pulang ke apartemen nya dengan langkah gontai, jujur saja dia sangat lelah bukan main. Selain mengurusi urusan kantor dan acara pernikahan tuan muda nya, dia juga harus mengurus pria brengseek yang kini mungkin sedang menikmati detik-detik berharga nya di tempat biasa.
Roy membuka pintu apartemen dengan card acces, tapi dia melihat apartemen nya dalam keadaan gelap gulita, bahkan lampu utama tak menyala sempurna, hanya lampu dapur dan lampu kamar atas yang menyala.
"Aduh, Rena ini kebiasaan.." Roy menekan saklar lampu utama, dan ruangan itu seketika terang.
"Udah pulang?" Tanya Rena dari lantai atas, dia bukan nya tak tau pria itu pulang, tapi hanya sekedar berbasa-basi untuk membuka pembicaraan.
"Udah yang, capek banget nih badan.." Keluh Roy, dia mendudukan bokongg nya di sofa sambil memijiti kaki dan pundak nya yang terasa pegal.
"Aku pijitin ya." Tawar Rena.
"Tumben baik gini, kenapa yang?"
"Gak boleh gitu? Yaudah kalau gak mau, aku gak maksa cuma nawarin aja."
"Mau dong yang, sini.." Roy menepuk sofa di samping nya yang masih kosong. Rena menurut dan duduk di samping pria itu.
"Oh ya, besok kita harus ke mansion jam 4 pagi."
"Jam 4 pagi? Kenapa pagi sekali.."
"Kan Nona sama Tuan di make up nya di gedung resepsi sayang, ya masa di rumah."
"Ohh begitu ya, alarm aja. Kamu kan tau sendiri aku tidur nya kayak apa.."
"Iya yang, kenapa gak bilang kamu jadi bridesmaid?" Tanya Roy.
"Hehe, waktu itu mau bilang, cuma ada kejadian itu kan, jadi lupa.."
"Yaudah, aku capek, kita tidur aja."
"Gak minta sesuatu dulu?" Tanya Rena heran, biasa nya pria itu selalu meminta jatah malam, apapun keadaan nya.
"Capek banget yang, ya kecuali kalau kamu mau di atas."
"Enggak ahh, yaudah kita tidur. Besok hari yang bersejarah buat sahabat aku."
Rena menarik tangan kekasih nya ke kamar untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk pekerjaan besok.
...
Sedangkan di mansion, benar saja, Smith tak bisa tidur. Pria itu berguling ke kanan dan ke kiri, tapi mata nya tak kunjung mengantuk juga.
Mungkin dia sudah terbiasa tidur bersama Amelia, tapi kali ini dia tidur sendirian.
"Haduh, ini mata kenapa gak ada tanda-tanda mau ngantuk ya, padahal udah jam 11.." Gumam Smith. Dia malah meraih ponsel nya di meja nakas, dan iseng mengirim pesan singkat pada gadis nya.
__ADS_1
"By, dah tidur?" Centang dua berwarna abu, berarti gadis itu masih online tapi belum membaca nya.
tringg...
Bunyi tanda pesan masuk, Smith segera membuka nya, senyum nya terukir manis saat membaca isi pesan dari calon istri.
"Aku sudah mengantuk, hanya saja kegugupan ku membuat mata ku tak bisa terpejam, Oppa. Apa kamu juga gugup untuk besok? Semangat ya dan tidurlah, besok adalah hari paling bersejarah untuk kita. Aku mencintai mu Oppa, selamat malam." isi pesan yang cukup panjang dari gadis nya, senyum Smith tak memudar, dia bahagia bahkan hanya dengan di kirimi ucapan semangat lewat pesan.
"Aku juga mencintai mu By, sangat.." Jawab Smith dalam hati, dan ya akhirnya dia bisa tidur.
...
Pagi hari nya, Smith sudah siap berangkat dan Roy juga sudah berdiri tegak di luar mansion bersama Rena.
Sedangkan Amelia, gadis itu akan berangkat bersama Pak Amir satu jam sebelum acara di mulai.
"Siap tuan?"
"Ya Roy, tapi entahlah tangan ku terasa dingin."
"Itu wajar tuan, ini moment sekali seumur hidup. Mengikat janji dengan orang yang kita cintai memang sangat mendebarkan."
"Mungkin kau benar Roy, semoga saja aku lancar mengucap ikrar suci itu."
"Saya akan ada di belakang anda tuan, jangan khawatir."
Roy menganggukan kepala nya dan masuk ke dalam mobil setelah sang asisten membukakan pintu untuk nya.
Di kamar, Amelia di serang kegugupan yang tinggi. Gadis itu sedari tadi tak berhenti berjalan mundar-mandir seperti setrikaan hingga membuat Rena pusing melihat nya.
"Kenapa Mel? Gugup ya? Bahkan kita belum pergi ke lokasi, udah ya lebih baik kamu mandi dan bersiap kita pergi sebentar lagi."
"Ren, kamu tau? Hati ku berdebar tak karuan, sampe rasa nya pengen pipis."
"Pipis? Oh ya, kalian di pingit kan jadi udah lama gak pipis enak." Celetuk Rena tanpa di saring.
"Mentang-mentang dah suka pisang tanduk jadi ngeledekin aku, gitu? Awas kamu ya.."
"Becanda Mel, kamu jadi kayak Tuan Smith sekarang, gak bisa di ajak becanda."
"Dahlah males, mau mandi dulu bye." Amelia pergi ke kamar mandi, dan mengunci pintu nya dari dalam.
.....
Amelia sedang di rias oleh MUA terkenal yang di sewa khusus oleh Smith untuk hari istimewa nya.
Gadis itu nampak pucat dengan jari yang bertaut.
__ADS_1
"Wajah nya jangan tegang dong, biasa aja.." Ledek sang MUA yang paham betul ekspresi klien nya.
"Degdegan ya? Wajar kok, gapapa. Ini kan moment sekali seumur hidup."
"Hehe, keliatan banget ya kak kalau saya gugup?" Tanya Amelia.
"Iya dong, saya udah berpengalaman make up in pengantin. Mereka ada bermacam-macam, ada yang pengen pipis mulu sampe buat kakak kesel, ada yang gugup, ada yang mewek, ada yang santai juga."
"Jadi saya masih wajar kak?"
"Wajar kok gapapa, jangan kaku aja ya biar make up nya bagus."
Amelia hanya menyunggingkan senyuman tipis nya.
...
Rena melongo saat melihat penampilan sahabat nya yang berubah 180 derajat seperti bidadari yang baru saja turun dari langit.
"Amel, cantik banget ampun.." Pekik gadis itu histeris.
"Apa iya aku secantik itu Ren?"
"Beneran, kamu cantik banget. Tuan Smith pasti natap kamu tanpa berkedip nih.."
"Ishh kamu ini.."
Tak lama, Roy datang dengan setelan jas rapi nya untuk memberi informasi kalau pengantin wanita sudah bisa turun.
"Permisi No..." Roy tak melanjutkan ucapan nya saat melihat penampilan sang mempelai wanita yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun mewah dan mahkota dengan taburan berlian dan mutiara yang berkilauan menghiasi kepala nya.
"Iya, ada apa Asisten Roy?" Roy sadar dari lamunan nya, dan dia juga baru tau kalau Rena dan Nissa ada disana sebagai bridesmaid yang akan mendampingi Amelia.
"Nona sudah bisa turun.."
"Baik, mana bapak?"
"Bapak disini nak, kamu terlihat cantik.."
"Bapak.." Amelia menghambur memeluk pria penguat nya selama ini, pahlawan tanpa tanda jasa, dia lah ayah nya. Ayah yang selalu mendukung setiap keputusan nya, ayah yang selalu memperjuangkan apapun untuk kebahagiaan putri satu-satunya.
"Maafin Amel Pak, mungkin Amel beluk sempat bahagiain bapak.." Bapak menangis dengan Amel yang masih memeluk nya erat, tangan kurus nya terulur mengusap punggung sang putri yang juga sedang terisak di pelukan nya.
Rena terbawa suasana, andai saja dia masih punya bapak, mungkin hati nya takkan sesakit ini. Tanpa sadar, air mata nya mengalir membasahi kedua pipi nya, tapi buru-buru dia menghapus nya sebelum Roy sadar dan bertanya.
....
❤️🌻🌻
__ADS_1
besok wedding nya deh ya🤭🤭 rencana nya mau sekarang, tapi takut alurnya kecepatan😁 ayoo ramein lagi ya, untuk revisi author bakal revisi setelah novel ini tamat aja deh🤭🤭