OG Simpanan Tuan Muda

OG Simpanan Tuan Muda
First Meet .


__ADS_3

Smith menduselkan wajah nya di dada sang istri, tentu nya dia sangat merindukan kehangatan dan kelembutan Amelia. Amel mengelus kepala Smith, dia tersenyum manis, dia begitu merindukan suasana hangat rumah ini.


"Oppa, mana anak kita? Siapa nama nya?" Tanya Amelia.


"Anak-anak sedang bersama kakek nya di taman belakang, nama nya Aliya Sanha Alexander dan Ares Sakha Alexander, By." Jawab Smith, tapi tidak menjauhkan wajah nya dari dada sang istri.


"Nama yang bagus, maaf tak sempat mendiskusikan nama untuk anak kita Oppa."


"Tak apa By, kalau kamu tak suka nama nya kita bisa mengganti nya sayang." Ucap Smith.


"Tidak, itu sudah sangat bagus Oppa. Itu kan nama pemberian ayah nya, jadi untuk apa di ganti?"


"Humm, baiklah. Aku begitu merindukan kehangatan mu ini sayang, aku tak mau melepaskan pelukan ini." Dan benar saja, pria itu terus memeluk Amelia dengan erat.


Tapi, Amelia teringat sesuatu. Tadi dia sempat melihat ayah dan ibu nya, dia begitu merindukan mereka.


Satu hal yang keluarga Smith tak tau, kedua orang tua nya sudah meninggal jauh sebelum Amelia mengenal Smith, mereka berdua meninggal karena pembunuhan saat Amelia masih berusia 7 tahun.


Hari itu, semua orang selalu menutup pintu dan jendela mereka setiap sore, tak ada satu pun warga yang berani keluar rumah lebih dari pukul 5 sore, karena penjahat berkeliaran mencari sasaran.


Tapi hari itu, Amelia keluar rumah jam 6 untuk membeli obat sang ibu yang sakit parah. Tapi naas, saat dia kembali ke rumah. Hal mengerikan terjadi.


Ayah ibu nya terkapar bersimbah darah dengan leher yang nyaris putus, Amelia histeris dia melempar kresek berisi obat dan berteriak meminta bantuan dengan tangis pilu.


Orang-orang berdatangan, tak peduli akan bahaya yang sedang mengintai, karena penjahat nya belum pergi jauh dari rumah Amelia.


Tapi rasa kemanusiaan para warga lebih besar dari rasa takut mereka, beruntung lah datang segerombol polisi yang entah darimana datang nya dan entah siapa yang memanggil polisi ke daerah pedesaan ini, karena tak mungkin polisi berpatroli ke daerah ini, kecuali ada yang menghubungi.


Amelia kecil hidup sebatang kara selama kurang lebih seminggu setelah orang tua nya tiada, hingga paman dan bibi nya datang dari kota. Mereka memutuskan untuk pulang dari perantauan setelah mendengar berita kematian orang tua Amelia.

__ADS_1


Kebetulan sekali, mereka tak mempunyai anak karena bibi Amel mengalami kecelakaan fatal hingga membuat rahim nya robek dan harus di angkat.


Akhirnya paman dan bibi nya Amel memutuskan mengurus Amelia hingga dewasa, menyekolahkan nya, memberikan kasih sayang layaknya orang tua kandung, dan tak mengungkit kalau mereka adalah paman dan bibi Amelia, bukan orang tua kandung nya, meski sebenarnya Amelia mengetahui nya.


Bahkan bayangan ayah dan ibu nya yang tewas bersimbah darah pun Amelia masih mengingat nya sampai sekarang.


"Oppa, aku ingin bertemu mamak bapak."


"Kondisi kamu tak memungkinkan sayang, kamu baru saja sadar. Mereka saja yang kesini ya?" Bujuk Smith, niat Amelia dia ingin mengunjungi makam kedua orang tua nya.


"Terserah Oppa saja, kabari mereka kalau aku sudah bangun."


"Tentu saja sayang, kenapa mata mu berkaca-kaca sayang? Ada masalah?" Tanya Smith saat melihat mata sang istri yang memerah.


"Aku hanya merindukan suasana ini, tak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Bawa anak-anak kesini, aku ingin melihat mereka. Pasti mereka sudah nakal kan?"


"Bawa kesini Oppa, aku tak sabar ingin melihat mereka berdua."


Smith mengangguk dan segera pergi ke luar ruangan. Amelia menunggu dengan antusias, tak sabar ingin melihat si kembar yang aktif itu.


Bibi Rose dan Appa Joseon yang sedang menunggui kedua cucu nya bermain di tenda-tendaan, di kejutkan dengan kemunculan Smith yang tiba-tiba membawa Aliya dan Ares.


"Heii Smith, mau di bawa kemana kedua cucu ku?"


"Mama nya pengen ketemu, katanya dia kangen." Jawab Smith santai tanpa menoleh, membuat kakak dan adik itu saling melemparkan pandangan heran ke satu sama lain.


"Apa Smith berhalusinasi lagi, Rose?"


"Entahlah, ayo kita ikuti saja. Siapa tau keajaiban datang dan menantu kita sudah bangun." Cetus Bibi Rose langsung bangkit dari duduk nya, di ikuti Joseon.

__ADS_1


"Huh kakek tua, jalan aja pake tongkat. Ribet sekali.."


"Diam lah, aku ini kakak mu wajar kalau aku lebih tua." Sewot Joseon, tak terima di katai kakek tua, padahal kan memang dia kakek tua. Dia punya dua cucu yang memanggil nya dengan sebutan kakek, kalau tua itu kan memang iya, bahkan anak nya saja sudah menikah, lalu kenapa tak mau di panggil kakek tua? Mana ada kakek muda.


...


Pintu berderit, Smith membawa kedua anak nya mendekati sang istri.


"Mamama.." Celoteh si bungsu, tangan nya meraih rambut Amelia dengan riang nya.


"Uhhh putri cantik mama udah besar ya, Aliya.." Amelia mengecup pipi gembul sang putri.


Tapi, siapa sangka si sulung akan iri melihat ibu nya mengecup pipi adik nya terlebih dulu, Ares meronta dari pangkuan sang ayah dan merengek ingin di pangku mama nya.


"Ututuu Ares juga pengen di pangku mama ya? Ganteng banget ya abang nya," Amelia melakukan hal yang sama terhadap putra nya, mengecupi pipi gembul Ares dengan gemas, hingga membuat nya tertawa karena geli saat sang mama mengecupi pipi nya.


"Ohhh apa ini? Ada tahi lalat di bawah bibir? Ini mirip sekali dengan milik mu kan Oppa?"


Smith menganggukan kepala nya dengan cepat, dia bahkan menunjuk tahi lalat di bawah bibir yang letak nya sama dengan milik sang putra, Ares.


Pintu terbuka, menunjukan raut wajah terkejut dari bibi Rose juga Appa Joseon yang masih berdiri di ambang pintu.


"Cubit aku Joseon, ini bukan mimpi kan?"


....


🌻🌻🌻


Noh yang nanya in orang tua nya amel, udah di jelasin di atas😊🌻🌷

__ADS_1


__ADS_2