OG Simpanan Tuan Muda

OG Simpanan Tuan Muda
Ternyata!


__ADS_3

Smith luruh ke lantai, tiba-tiba saja tubuh nya terasa lemas setelah mendengar kabar buruk yang dia dengar langsung dari dokter.


"Apalagi ini ya tuhan," Rutuk Smith, air mata nya luruh membanjiri wajah nya.


Tak lama, Roy menyusul masuk bersama Rena.


"Kenapa ini? Bagaimana keadaan sahabat saya dok?"


"Nona muda di vonis akan sulit mendapat keturunan, Nona."


"T-tapi kenapa? Amelia gadis yang sehat dok, dia juga menerapkan gaya hidup sehat." Jelas Rena, dia jelas tau bagaimana keseharian sahabat nya.


"Seperti nya perut nya terkena benturan yang cukup kuat hingga melukai rahim nya Nona, apa Nona Muda pernah terjatuh atau di pukul benda tumpul?"


Rena terlihat mengingat-ingat sesuatu, dia sesekali melirik ke arah Smith yang masih terduduk lemas di lantai dengan kepala yang menunduk.


"Mungkin kejadian waktu itu berpengaruh dok.."


"Maksud mu?" tanya Smith, tatapan nya begitu tajam hingga membuat Rena menelan ludah nya beberapa kali.


"Katakan cepat.."


Flashback on


Saat itu, Rena tengah bekerja membersihkan ruangan belakang khusus OG bersama sahabat nya, Amelia.


"Mel, aku ambil minum dulu buat kamu ya."


"Iya Ren, aku pengen dua botol yang dingin ya.." Jawab Amelia, gadis itu terlihat fokus mengelap meja-meja.


"Iya, gak lama kok.."


"Hati-hati Ren." Peringat Amelia.


Tapi saat dia akan kembali dengan kresek berisi air minum pesanan Amelia, dia melihat lima orang gadis yang seprofesi itu tengah membuly Amelia, mereka memegangi tangan nya dan gadis itu terlihat meronta ,meminta di lepaskan.


Kelima nya tertawa penuh kepuasan, bahkan salah satu dari mereka sempat memukul perut Amelia dengan balok kayu hingga membuat Amelia menjerit kesakitan.


"Ahhh, tolong lepaskan saya. Sakitt .." Ringis Amelia, bahkan air mata gadis itu sudah banjir membasahi wajah cantik nya.


Saat itu lah, salah satu dari mereka menyiram Amelia dengan seember air berbau busuk dari got.


"Amel.." Rena melempar kresek berisi air minum itu, dia berlari berniat menolong sahabat nya, tapi ada tiga gadis lain yang menghadang nya, lalu membawa nya ke gudang, mengunci nya dari luar.


"Amelia, maafkan aku tak menolong dirimu. Teman macam apa aku ini, aku bodoh telah meninggalkan mu sendiri Mel.." Rutuk Rena, dia menangis tersedu di ruangan gelap nan sunyi itu.

__ADS_1


Sedangkan Amelia, gadis itu masih menerima kekerasan fisik, mereka menampar nya beberapa kali hingga membuat ujung bibir nya terluka dan mengeluarkan darah, juga berbekas lebam keunguan.


Hingga semua itu terhenti saat Joseon datang menolong nya, lalu Roy dan Smith datang membawa nya ke rumah sakit.


Sedangkan Rena, dia baru bisa keluar gudang saat hari menjelang malam hari, itu juga karena di bantu satpam yang berjaga mendengar teriakan nya.


"Amel, kamu baik-baik saja kan? Maafin aku.." Dia segera masuk ke dalam kantor yang sudah sangat sepi dan gelap itu ditemani satpam yang tadi membukakan kunci gudang untuk nya.


Dia berusaha menelpon Amelia, tapi nihil ponsel nya tak dapat di hubungi.


"Pak, semua nya udah pulang? Termasuk Amel?" Tanya Rena, dia tau kalau satpam itu kenal dengan Amelia.


"Amel tadi udah pulang, Ren. Cepetan ini, bisa-bisa di sangka pasangan mesoom lagi."


"Iya iya, thanks ya udah bukain pintu gudang." Ucap Rena berterimakasih.


"Lagian kenapa masuk gudang sih? Sendirian lagi."


"Bukan niat sendiri, ada orang jahat yang masukin saya kesana. Udah ya, saya pamit dulu, sekali lagi terimakasih." Pamit Rena, lalu berjalan mendahului satpam itu.


Jujur saja, suasana kantor di malam hari terasa menyeramkan ,apalagi di tambah suasana yang sepi dan gelap.


Flashback Off


Smith mengepalkan tangan nya, dia sangat marah, urat-urat di leher nya kembali menegang apalagi dia baru tau semua nya sekarang, disaat semua nya sudah berlalu cukup lama.


"Amelia yang melarang nya Tuan, dia bilang tak mau membuat anda khawatir."


"Harus nya kau beri tahu aku sejak awal, jadi aku bisa mengobati dan lebih memerhatikan kesehatan nya. Kau tau bagaimana keadaan nya sekarang? Terlambat sedikit saja, rahim Amelia pasti akan di angkat. Teman macam apa kau ini.."


"Maafkan saya tuan.." Rena menundukan kepala nya, sungguh dia menyesal.


"Jadi, geng pembuly itu ada 8 orang? Yang 5 sudah aku pecat, berarti yang 3 masih bekerja?"


"Benar tuan.."


"Pecat mereka besok, jangan lupa tanpa hormat, tanpa pesangon." Ucap Roy tegas.


"Baik tuan, saya mengerti."


"Undur hari pernikahan ku, sampai Amelia benar-benar sehat."


"Baik tuan.."


"Lakukan tugas mu dengan baik dan pergilah, aku muak melihat wajah kalian berdua, terutama wanita mu." Usir Smith ketus.

__ADS_1


Roy menganggukan kepala nya, dia menarik tangan Rena yang malah memberi perlawanan, seperti tak ingin meninggalkan sahabat nya.


"Ayo, jangan buat Tuan Smith lebih marah." Setelah mendengar itu, barulah dia luluh dan memilih ikut pulang.


"Mel, aku pulang dulu, besok aku kesini lagi. Semoga kamu baik-baik saja.." Gumam Rena.


Smith memijat kepala nya yang terasa berdenyut, bagaimana bisa dia kecolongan? Dan berakibat yang cukup fatal.


Dia memegang tangan Gadis nya yang terasa dingin, dia menciumi nya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf aku teledor menjaga mu By, maaf. Aku sungguh tak tau.."


"Aku berjanji, apapun kekurangan mu, aku akan menerima nya By. Aku tak masalah walau kita tak punya anak seumur hidup pun, asal kamu tetap berada di sampingku."


Smith bahkan melupakan penampilan nya yang acak-acakan dengan lengan jas yang robek dan darah yang masih mengalir dari luka nya.


"Aku terluka ya? Kapan.." Smith mengingat-ingat, aneh sekali dia tak merasakan sakit apapun, mungkin karena kemarahan yang sudah mengambil alih kesadaran nya.


"Ohh, kena pisau sama peluru ya.."


Dia mengeluarkan ponsel nya dari saku celana bahan nya, dia menghubungi anak buah nya untuk membawakan pakaian ganti.


Setelah selesai menelpon, dia kembali menatap wajah pucat gadis nya, mengelus nya dengan lembut, mengecup kening nya dengan mesra.


"Aku berjanji By, siapa yang sudah membuat mu begini, pasti akan menerima hukuman yang setimpal."


"Siapapun orang nya, aku pasti akan menebas kepala nya." Lagi-lagi Smith mengepalkan tangan nya dengan kuat, hingga urat-urat nya menonjol.


"Kamu harus bangun By, kita akan menikah." Smith kembali mengecup pelan kening gadis nya.


Ceklek..


Bunyi pintu terbuka membuat pandangan nya berpaling ke arah pintu, anak buah nya datang dengan menenteng satu buah paperbag.


"Berjaga disini, jangan lengah."


"Baik tuan Muda." Smith pergi ke kamar mandi, mengganti pakaian nya yang robek dan berbau anyir darah dari luka nya.


....


🌻🌻🌻


Kata aku juga apa? jangan ngamok ya, author dah nyiapin skenario terbaik buat cerita ini ,sans aja jangan ngegas ya. Pokoknya happy ending, oh ya ada yang mau liat tuan Smith tersiksa karena ngidam? Lihat aja nanti ya, akan indah pada waktunya.


tetap pantau ya, jangan unfav karena cuma konflik yang ringan, masih awal-awal. Gerald juga masih hidup berkeliaran bebas.😊

__ADS_1


Dah, inti nya ini udah cerita yang author siapkan😊 happy reading❤️❤️


__ADS_2