
Ting..
Bunyi lift terbuka, kedua pria gagah itu keluar bersamaan. Wajah nya datar tanpa ekspresi.
"Lokasi pertama, kemana dulu Bar?"
"Jalan xxx, setau saya ada tukang buah yang buka 24 jam."
"Tapi Rena ingin rujak, bukan buah." Celetuk Roy membuat Barry seketika menoleh.
"Terus rujak di buat nya dari apa? Dari batu? Kan dari buah tuan." Sinis Barry, membuat Roy cengengesan karena yang di ucapkan Barry benar.
"Iya juga sih.."
"Semakin lama kelakuan tuan Roy semakin menggemaskan, pengen banget nyubit ginjal nya." Batin Barry, tentu saja dia takkan berani berkata begitu pada atasan nya sendiri, bisa-bisa dia di pecat.
"Tunggu apalagi Barry, ayo cepat.."
"Baik tuan.." Barry menyahut cepat dan segera masuk ke dalam mobil keburu tuan Roy bucin itu mengamuk.
....
Cukup lama mengendarai mobil nya, Barry menghentikan laju mobil itu di salah satu kedai yang menjual beraneka macam jenis buah.
"Pak, ada rujak?" Tanya Roy.
"Ada, Mas nya mau rujak campur atau satu jenis buah?" Tanya Ibu penjual rujak.
"Tunggu, saya telepon istri saya dulu, dia sedang ngidam." Roy merogoh ponsel nya dan memanggil nomor Rena.
"Hallo, ada apa? Udah dapet rujak nya? Awas kalo gak dapet, gak jadi dapet jatah malam ini." Ucap Rena begitu panggilan tersambung.
"Iya sayang, ini lagi di tukang rujak. Mau rujak campur atau rujak yang lain?"
"Campur aja, tapi jangan pake nanas." Jawab Rena.
"Iya sayang, tunggu di rumah sebentar lagi pulang."
"Iya, cepetan ya aku tunggu." Rena mematikan sambungan telepon nya sepihak setelah merasa tak ada yang perlu di tanyakan lagi.
"Rujak campur gak pake nanas satu ya Bu."
"Istri nya lagi ngidam ya, malam-malam begini beli rujak."
"Iya Bu, baru dua bulan." Jawab Roy seramah mungkin.
"Wahh, masih trimester pertama. Udah nikah berapa lama?" Mendengar pertanyaan sang ibu membuat Roy diam. Harus jawab apa? Dia kan belum menikah dengan Rena.
"Sekitar 6 bulan Bu," Barry nimbrung pertanyaan ibu penjual rujak itu.
__ADS_1
"Wahh langsung jadi, hebat ya.." Puji ibu itu membuat Roy tersenyum bangga.
"Hehe iya Bu." Jawab Roy sambil menggaruk tengkuknya.
Barry mendelik sebal ke arah tuan nya itu, tadi saja saat di tanya berapa lama menikah dia malah bungkam.
"Dulu, saat ibu masih anget-anget nya jadi suami istri, ibu juga sama langsung jadi tapi sayang sampai sekarang ibu gak punya anak, karena semua nya meninggal setelah lahir." Ibu tukang rujak bercerita.
"Lalu sekarang ibu sendiri?"
"Ya sendiri, suami udah gak ada, anak gak punya, sodara gak nganggap, mau gimana lagi." Jawab Ibu itu.
"Kenapa bisa pada meninggal Bu?"
"Yang pertama, keguguran karena jatoh di kamar mandi, kedua sama ketiga hamil di luar kandungan jadi harus di kuret, ke empat sama kelima keguguran lagi karena kandungan nya lemah, akhirnya di steril karena kalau pun hamil Ibu gak bakal sanggup melahirkan di usia ibu ini, dan sampai bapak meninggal ibu gak hamil lagi." Jelas Ibu itu, wajah berubah sendu. Di usia senja nya, dia hanya sendirian sekarang tanpa sosok suami sebagai pendamping dan anak sebagai penguat.
"Ini rujak nya selesai." Ucap Ibu itu menyodorkan satu bungkusan rujak.
"Berapa bu?" Tanya Roy.
"8 ribu."
Roy merogoh dompet nya dan mengulurkan dua lembar uang berwarna merah.
"Gak ada kembalian Mas nya, hari ini jualan nya sepi."
"Gapapa, ambil aja buat ibu. Terimakasih ya bu, saya pamit dulu."
"Iya bu, semoga." Roy pun pergi menjauh dari warung itu, lanjut mencari sate pesanan Rena juga.
...
Setelah cukup lama berkeliling, akhirnya Roy bisa bernafas lega. Kedua makanan pesanan bumil sudah di tangan, tak tanggung-tanggung dia membeli 5 porsi sate, karena takut istri nya tak kenyang.
"Bar, bagaimana wanita itu di markas?" Tanya Roy.
"Dia kuat sekali tuan, dia belum mati meski di sengat kalajengking setiap hari."
"Benarkah?" Tanya Roy tak percaya, biasa nya racun kalajengking sangat cepat merambat melalui aliran darah. Tapi kenapa hal seperti ini tak berlaku pada Riska? Apa dia punya semacam ilmu yang membuat nya kebal?
"Benar tuan, dia hanya terlihat lemas saja karena kami tak berani memberi nya makan tanpa perintah."
"Bukan kah kalajengking itu racun nya mematikan?" Tanya Roy.
"Benar tuan, saya tau karena saya menguji nya sendiri di laboratorium. Bahkan hewan besar juga bisa mati hanya karena satu sengatan dalam waktu kurang dari 24 jam, tapi ini seperti tidak mempan pada wanita itu." Jawab Barry.
"Besok aku kesana melihat keadaan wanita itu."
"Baik tuan.." Jawab Barry.
__ADS_1
Setelah percakapan unfaedah itu, terjadi keheningan. Roy yang sibuk dengan pemikiran nya sendiri dan Barry yang sibuk mengemudi.
"Terimakasih sudah mengantar aku mencari makanan pesanan ayang, aku tambahin bonus mu nanti ya.."
"Wahh terimakasih tuan, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Hari ini saya bagian libur, saya ingin tidur nyenyak."
"Tidurlah, hati-hati di jalan." Roy pun masuk ke area apartemen setelah mengucapkan itu kepada Barry.
Roy membuka pintu nya dengan riang, apalagi saat mengingat jatah malam nya akan di berikan oleh Rena malam ini.
"Sayang.." Baru saja masuk, Roy sudah di sambut dengan tatapan tajam dan ekspresi kesal dari wanita nya.
"Kok lama?"
"Ngantri beli sate sayang, ayo makan."
"Udah gak selera.." Roy tercengang bukan main, dia lelah. Tapi apa ini? Rena menolak makanan nya hanya karena lama?
"Yang, hargai perjuangan aku. Makan dikit aja ya, aku cape beli ini."
"Gak, udah gak mood." Jawab Rena datar, membuat Roy lemas.
Dia terduduk lesu di sisi ranjang, bahkan keringat di dahi nya belum kering.
"Tega banget sama papa dek," Ucap Roy, air mata nya jatuh tapi buru-buru dia mengusap nya, tentu nya dia tak mau terlihat lemah di hadapan Rena.
Tapi tak lama, Rena terlihat meraih bungkusan rujak dan memakan nya dengan lahap. Tentu nya dia merasa sangat bersalah pada Roy, dia sudah bela-belain keluar malem-malem cuma buat rujak dan sate.
Roy mendongak dengan wajah berbinar,
"Terimakasih, rujak nya enak dedek suka." Ucap Rena dengan meniru suara seperti anak kecil.
"Sama-sama, papa seneng kalau dedek sama mama suka."
"Udah, jangan nangis gitu dong. Kamu laki-laki, harus kuat sekuat baja. Jangan cuma bisa hamilin doang, tapi harus tanggung jawab sama ngidam nya juga."
"Iya sayang, maaf. Habis nya aku capek ngantri, ehh pas sampe kamu bilang udah gak mau." Jawab Roy.
"Ini aku makan kok, udah mandi sana yang wangi. Katanya mau jatah." Roy tersenyum ceria jika menyangkut tentang jatah.
"Iya sayang, makasih." Roy mengecup kedua pipi dan bibir Rena lalu pergi ke kamar mandi dengan langkah riang.
"Kelakuan calon bapak mu tuh dek, ada-ada aja." Ucap Rena sambil mengusap perut nya yang masih datar.
....
🌻🌻🌻🌻
Cieee abang roy🤭🤭🤭
__ADS_1
jangan lupa mampir ke karya baru author..