
Malam hari nya, benar saja Roy menagih jatah malam nya demi kesejahteraan si pisang tanduk.
"Yang, katanya mau di atas. Kok malah anteng di bawah sih, pinggang aku sakit tapi masih lama keluar nya." Bujuk Roy, dia bergerak memacu tubuh nya di atas tubuh polos gadis nya.
"Males ternyata, di bawah aja enak.." Celetuk Rena membuat Roy memberengut kesal.
Dia membenamkan senjata nya lebih dalam, menghentak inti sang gadis dengan kuat hingga membuat gadis itu memekik.
"Kau ini apa-apaan, sakit tau.." Gerutu Rena lalu menepuk dada bidang sang pria cukup kuat.
"Makanya, ayo bergerak jangan malas-malasan. Pinggang aku sakit nih.."
"Kamu masih muda, masa encok sih?" Rena malah terus mendebat pria di atas nya.
"Jangan terus mendebat ku sayang, ayo saling memuaskan jangan mau enak nya sendiri." Roy mencabut pisang nya, lalu menarik tangan gadis nya agar duduk di pangkuan nya.
"Pemaksaan.." Gerutu Rena, mau tak mau dia harus menuruti keinginan pria nya, menduduki pisang tanduk yang masih berdiri tegak dengan gagah nya.
"Gak susah kok, cuma tinggal bergerak naik turun, goyang." Roy memberi instruksi, tapi gadis itu malas mendengarkan dan segera melakukan gerakan naik turun seperti yang pria itu perintahkan.
"Ahhh, nikmat sekali sayang.." Roy meracau, sebelum mulut itu terbungkam oleh pucuk yang bergelantungan di dada gadis nya.
"Emmm..." Kali ini, Rena yang melenguh. Dia merasakan nikmat di kedua titik sensitif nya.
Roy meninggalkan banyak sekali kissmark di dada dan di leher gadis nya, membuat gadis itu terlihat seperti macan tutul.
Rena merasakan ada sesuatu yang siap tumpah, ini sudah kedua kali nya rasa itu datang dalam penyatuan malam ini.
Dia mempercepat gerakan nya, tapi tangan besar Roy mencekal pinggang gadis itu agar tak mencapai klimakss kedua kali nya.
"Ahhh, aku ingin pipis.."
"Tadi kan sudah, takkan ku biarkan kamu meraih puncak lagi. Kamu boleh pipis, tapi harus bersama." Ucap Roy, membuat Rena mendengus.
Gadis itu melepas penyatuan seenaknya, hingga membuat Roy menganga.
"Yang, kenapa di lepas?"
"Capek.." Jawabnya ketus. Lengkap dengan tangan yang bersedekap dan bibir yang mengerucut.
"Belom meledak sayang, ayo." bujuk Roy.
"Boleh, asal kamu yang gerak. Gimana?" Mendengar itu membuat Roy kembali menganga, gadis nya memang berbeda. Bahkan ketika bercintaa.
Akhirnya Roy kembali melakukan penyatuan dengan dia yang bergerak, tadi nya mau di puasin ehh yang punya sarang gak bisa di ajak kompromi. Tapi enak, jadi yaudah lah dari pada gak meledak. Bisa pusing 7 keliling nanti.
....
Di apartemen, pasangan lain pun sedang bermesraan, hanya saja tak ada penyatuan karena Amelia sedang datang bulan.
Awalnya Smith bad mood parah karena seminggu takkan mendapat jatah malam untuk si junior, tapi mau bagaimana lagi? Amelia gadis yang sehat, jadi dia datang bulan setiap bulan nya.
__ADS_1
"Sayang.."
"Iya Oppa.." Jawab Amelia, gadis itu tengah meringkuk di kasur sambil memegangi perut nya yang terasa nyeri karena tamu bulanan nya.
"Sudah mulai sakit ya?" Tanya Smith, Amelia hanya menganggukan kepala nya, lalu tersenyum paksa.
"Sini, aku usap-usap biar agak enakan, mau gak?" Tentu saja Amelia mengangguk cepat dan segera mendekati pria itu.
Masuk ke dalam pelukan hangat pria itu, melingkarkan tangan nya dengan erat di perut sixpack pria nya, bukan, tapi eight pack karena ada delapan roti sobek yang terjejer rapi.
Sedangkan tangan Smith sudah menyusup masuk ke dalam piyama yang di pakai gadis nya, mengusap penuh kelembutan di perut gadis nya. Juga menghujani kecupan di puncak kepala Amelia, entahlah aroma rambut Amel begitu candu untuk nya.
"Sayang.." Panggil Smith.
"Aku ingin memanggil mu baby atau honey, boleh?" Tanya Smith.
"Baby? Aku bukan bayi, Oppa.."
"Kamu bayi kecilku yang manis, dan jangan lupakan lubang kecil mu sangat enak."
"Iss, kesana terus. Rasain gak bisa masuk lubang seminggu, karena lagi banjir bandang." Jawab Amelia dengan sedikit ledekan di ujung kalimat nya.
Smith hanya cengengesan menunjukan gigi kelinci nya yang manis.
"Boleh ya, baby?"
"Terserah Oppa aja,"
"Okey baby.."
"Nanti juga terbiasa baby, oh ya bagaimana kalau kita double date sama Rena dan Roy?" Tanya Smith.
"Boleh banget dong, kapan oppa?"
"Weekend aja, sekalian belanja bulanan yang sudah kita rencanakan kemarin. Bagaimana?" Tanya Smith lagi.
"Hayuk pokok nya, besok aku mau ikut lagi ke kantor ya?"
"Mau apa Baby? Lebih baik duduk saja di rumah, tidur atau nonton drama kesukaan mu itu."
"Mau ketemu Rena dong, kemarin kan gagal. Besok pasti Rena masuk kerja, lagi pun sakit karena pecah perawann gak akan lama, sehari aja sembuh kan?"
"Tapi kamu waktu itu gak nyampe sehari kan? Malahan kamu bisa kabur ke mall tanpa izin waktu itu,"
"Ya dan aku dapat hukuman yang membuat inti ku berdenyut semalaman." Ketus Amelia, tentu nya dia masih ingat dengan tragedi pecah perawaan nya tepat di malam pertunangan pria itu.
Smith malah mabuk dan pulang tengah malam dengan keadaan yang mabuk parah, juga asisten Roy yang nampak acak-acakan hari itu.
"Duhh, lihat yang junior bangun.." Amelia mengikuti arah pandang pria itu, benar saja ada yang menonjol di balik selimut.
"Cuma karena bahas gituan bisa bangun? Kok gampangan sih?" Tanya Amelia dengan wajah polos nya.
__ADS_1
"Junior cuma nafsuu sama lubang kamu aja baby, sama yang lain dia susah bangun."
"Beneran?" Smith menganggukan kepala nya.
"Bahkan pada Nona Marissa?"
"Kenapa membahas wanita itu sih, ngerusak suasana aja." Ketus Smith, dia amat tak suka jika gadis nya memulai pembahasan tentang Marissa.
"Ya kan cuma nanya.."
"Iya, dia gak pernah bangun liat penampilan Marissa. Kamu tau sendiri kan gimana gaya berpakaian wanita itu? Tapi aku tak tergoda, aku malah tergoda oleh tubuh mu yang selalu tertutup seragam."
"Aku bahkan sering membayangkan bagaimana bentuk tubuh mu sebelum tidur, brengsekk sekali aku ini. Tapi, setelah memiliki mu aku malah tak bisa berhenti melakukan nya dan sering kali membuat inti mu sakit."
"Hiss, ternyata tingkat kemesuman Oppa sudah level tertinggi. Aku mana mau bersihin ruangan Oppa kalau ternyata malah di jadiin objek." Gerutu Amelia.
Smith tergelak kencang, dia bahkan pernah menjadikan Amelia objek fantasi nya. Dia pernah bermain solo di kamar mandi dengan Amelia sebagai fantasi liar nya, gila memang.
"Dahlah, aku marah.."
"Gadis cantik gak boleh marah, nanti cantik nya hilang."
"Gapapa hilang, palingan aku di tendang."
"Kata siapa? Kamu cantik kok yang, cuma kalau marah tingkat kegemesan nya yang meningkat. Kalau lagi senyum cantik nya yang bertambah."
"Bodo amat lah.."
"Baby.."
"Iya kelinci tampan ku yang lucu?"
"Kelinci?"
"Gigi Oppa seperti kelinci, aku akan memanggil mu dengan panggilan Rabbit Oppa."
"Terserah kamu saja, asal jangan marah aku tak bisa di diamkan oleh mu sayang."
"Okey, Rabbit Oppa.."
"Tidur ya? Besok kan mau ketemu Rena."
"Iya, Oppa juga tidur ya biar semangat kerja nya."
"Iya sayang.." Dia mengubah posisi nya menjadi lebih nyaman untuk gadis nya bersandar. Dalam sekejap mata saja kedua nya terlelap dalam dunia mimpi.
.....
🌻🌻🌻
Baby bunny atau Rabbit oppa?🤭
__ADS_1
Berasa pengen gigit bibir nya, ampunn🤭🤭🤭