OG Simpanan Tuan Muda

OG Simpanan Tuan Muda
Keputusan Final


__ADS_3

"Mana gadis yang mampu menggantikan Marissa di hati mu, Smith?" Suara tegas dari balik pintu begitu mendominasi, biasa nya orang yang mendengar nya pasti ketakutan. Tapi, tidak dengan Smith. Dia malah menunjukan ekspresi datar nya.


"Ada, memang nya kenapa?"


"Pertemukan Appa dengan gadis itu, Smith." Ucap Appa nya, masih dengan suara tegas.


"Baik, nanti malam aku akan membawa nya ke rumah. Tapi, perlakukan dia dengan baik."


"Kenapa?"


"Karena dia gadis yang aku cintai setelah Eomma." Jawab Smith.


"Itu tergantung dari bagaimana gadis itu bersikap."


"Tentu saja dia baik, sopan dan ramah." Jawab Smith, membanggakan gadis nya.


"Nanti malam, Appa tunggu.."


"Ayo Rose, kita pulang." Ajak Joseon, Rose mengangguk dan pergi mengikuti langkah lebar kakak nya. Sekilas, dia berbalik dan menatap Smith dengan senyum penuh arti.


"Semoga saja Appa berubah dan memudahkan jalan ku agar bisa memiliki mu, Amelia ku." Gumam Smith, dia tersenyum ketika mengingat senyum manis gadis nya.


....


Di bawah, Amelia masih menyapu aula bekas di adakan nya press comperence tadi pagi. Masih ada beberapa tempat yang terlihat berantakan, keringat mengucur di dahi nya.


Beberapa kali dia menyeka keringat itu dengan tangan nya, hingga rasa sakit menyerang di area hidung nya. Darah segar mengucur dari hidung nya, membuat sahabat nya khawatir.


"Amel, hidung kamu berdarah lagi. Kamu pasti kecapean kan? udah, duduk istirahat sana." Ucap Rena, dia memberi Amelia tissu.


"Ren, s-akit.." Keluh Amelia.


"Iya, jangan memaksakan diri. Ayo istirahat.." Rena membopong tubuh lemah Amelia, membawa nya duduk di kursi besi yang ada di aula.


"Ya ampun, sampai bergetar gini. Mau minum? Aku ambilin dulu ya.." Kebetulan di ruangan itu hanya ada mereka berdua.


Amelia mengangguk pelan, dia menahan rasa sakit yang teramat di hidung dan kepala nya, tapi darah itu masih terus mengucur.


Hingga Roy masuk memeriksa pekerjaan para petugas kebersihan itu, dia melihat hanya ada Amelia yang sedang terduduk dengan kepala yang menunduk.


"Nona, anda tidak kenapa-nap..."


"Astaga Nona, anda pasti kelelahan kan? Tuan pasti marah besar.." Roy panik sendiri, dia segera menghubungi Smith dan tak lama pria itu datang dengan raut ke khawatiran yang begitu mendominasi wajah nya.


"Sayang.." Panggil nya, Amelia menatap nya sekilas sebelum kesadaran nya hilang.


"Bawa gadis ku ke rumah sakit sekarang, Roy.. Cepat.." Pekik Smith, dia segera membawa Amelia ke dalam gendongan nya, berlari ke parkiran.


Karyawan lain yang melihat, hanya bisa saling melirik tanpa bisa berkata-kata. Bukan gosip semata ternyata, sepertinya Direktur utama itu punya hubungan spesial dengan Amelia, office girl kesayangan nya.


Smith memeluk kepala gadis nya, wajah nya memucat dengan lembaran tissu yang menyumbat di lubang hidung nya.

__ADS_1


"Cepat Roy, kalau sampai gadis ku kenapa-napa kau yang harus bertanggung jawab." Roy panik, pasalnya jalanan nampak sangat ramai.


"Royy..."


"Tuan muda, saya berusaha melajukan mobil ini dengan kecepatan tinggi, tapi lihatlah jalanan sangat ramai." Jawab Roy akhirnya, dari tadi dia diam mendengarkan berbagai umpatan pria itu.


....


Hingga setengah jam kemudian, mobil itu sampai di parkiran rumah sakit besar milik keluarga Alexander.


"Cepat tangani kekasih saya, lakukan yang terbaik." Perintah nya, dia meletakan tubuh lemah gadis nya di brankar. Petugas kesehatan yang sedang bekerja pun segera membawa gadis yang di bawa tuan muda itu. Meski dalam hati mereka bertanya, siapa gadis ini? mengapa bisa bersama tuan muda.


Smith berdiri dengan raut wajah yang tak bisa di tebak, dia khawatir, marah, kesal dalam waktu bersamaan.


"Cari tau, siapa yang menyuruh gadis ku membersihkan ruangan itu Roy. Aku takkan memaafkan nya."


"Baik tuan.." Roy pergi melaksanakan perintah tuan muda yang tengah kacau saat ini.


"Kau selalu membuat aku khawatir Amelia Putri, belum puaskah kau membuat gila dengan pesona mu itu." Rutuk Smith, dia berjalan mondar mandir menunggu dokter keluar dari ruangan darurat itu.


"Sial, lama sekali. Sebenarnya, apa yang mereka lakukan di dalam." Gerutu Smith sedari tadi mulut nya tak berhenti mengatakan hal-hal yang membuat dirinya sendiri kesal.


Tak lama, yang di tunggu pun keluar juga. Dokter keluar dengan pakaian serba putih.


"Bagaimana keadaan nya dok?"


"Apa dulu hidung nya pernah terbentur sesuatu?" Tanya dokter paruh baya itu.


"Itu membuat saraf nya putus tuan muda, jadi saat ketakutan atau kelelahan dia akan mengalami nya. Saran saya, jangan membuat nya takut atau kelelahan."


"Bisa saya masuk?"


"Silahkan, Nona sudah sadar dari pingsan nya. Saya permisi dulu." Smith hanya menganggukan kepala nya dan masuk ke ruangan tempat Amelia di rawat.


Smith melihat gadis itu tengah berbaring, wajah nya masih pucat.


"Sayang.."


"Tuan disini?"


"Tentu aku disini sayang, aku ingin menjaga mu." Jawab Smith, dia duduk di kursi yang ada di samping brankar.


"Mulai besok kamu berhenti bekerja ya,"


"Tapi kenapa tuan?" Tanya Amelia.


"Saya gak mau kamu kelelahan, lagi pun sebentar lagi kamu akan jadi Nyonya Alexander.."


"Maksudnya?" Tanya Amelia polos.


"Appa menyuruh ku membawa mu ke rumah sayang, bagaimana? Kamu siap?" balik tanya Smith, dengan raut keseriusan nya.

__ADS_1


"Ap-apa? Tapi kenapa secepat ini tuan?"


"Di tanya malah balik tanya, siap atau belum?"


"Kalau boleh jujur, saya belum siap tuan." Amelia menundukan kepala nya, memilin ujung seragam nya.


"Kenapa? Apa kamu takut dengan Appa?" Dengan polos, Amelia mengangguk mengiyakan.


Smith tertawa melihat kepolosan gadis nya, memang sih pria baya itu terlihat menakutkan, apalagi jika sedang marah.


"Appa sebenarnya baik kok yang, kamu coba aja dulu. Ya?"


Amelia menatap Smith, terlihat pria itu sangat serius dengan perkataan nya, tanpa keraguan sedikit pun.


Gadis itu menghela nafas nya perlahan, beribu pertanyaan masih mewarnai otak nya.


"Bagaimana kalau Appa tuan tidak menyukai saya?"


"Kenapa tidak, kamu pilihan saya Amelia."


"Saya merasa ragu saja tuan, saya orang tak mampu. Kita bagai langit dan bumi, jarak nya terlalu jauh." Ucap Amelia, dia kembali menundukkan kepala nya.


Smith tergerak, dia membingkai wajah cantik gadis nya. memberikan nya kecupan kasih sayang di kening nya.


"Aku tak pernah menilai seseorang berdasarkan kasta atau kekayaan sayang, aku mencintai murni karena aku jatuh cinta pada dirimu. itu saja."


"Itu kan tuan, bagaimana dengan Appa?"


"Dia pasti menyukai mu sayang, ayolah jangan merendah di hadapan ku, aku tak suka."


"Huhh, baiklah. Kapan mau ke rumah Appa?" Tanya Amelia.


"Nanti malam sayang.."


"Apa? Terlalu cepat tuan. Saya tak punya pakaian yang layak untuk bertemu calon mertua."


"Tak usah mengkhawatirkan hal yang tak penting, Roy sudah menyiapkan nya sayang. Besok, ajukan surat pengunduran diri."


"T-tapi tuan saya masih ingin bekerja."


"Ini keputusan final, tak bisa di ganggu gugat sayang. Lagi pun apa salah nya menurut pada calon suami, gak bakal dosa kok.." Amelia mendelik sebal ke arah pria itu. Padahal dalam hati dia merasa senang karena pria itu begitu posesif menjaga nya.


"Baiklah, saya menurut saja.."


"Gadis pintar, selain cantik kamu juga penurut." Smith mengusap puncak kepala gadis nya, melabuhkan kecupan-kecupan ringan di kepala nya. Menunjukan kalau dia sangat mencintai gadis itu.


....


🌻🌻🌻


Nanti up lagi pertemuan mereka ya, ada hal yang tak terduga pastinya☺️ semoga suka ya, happy reading❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2