OG Simpanan Tuan Muda

OG Simpanan Tuan Muda
Anak Pencuri Roti


__ADS_3

Pekerjaan yang sibuk sudah menunggu di perusahaan, hingga membuat kedua pria itu tenggelam dalam pekerjaan yang menumpuk, belum lagi beberapa meeting yang harus Smith hadiri, membuat nya pusing.


Smith memijat pelipis nya yang terasa berdenyut, selain pekerjaan yang banyak ada beberapa masalah yang sedang dia alami.


"Aku butuh vitamin ku," Ucap Smith, dia merogoh ponsel dalam saku jas nya dan membuat panggilan video pada sang istri.


Setelah beberapa detik, barulah panggilan itu di angkat.


"Hallo Oppa, ada apa?" Ucap Amelia di seberang sana.


"Aku rindu padamu By, aku pusing, kepala ku sakit, aku butuh kamu."


"Tapi, aku kan sedang di rumah sakit jagain Rena Oppa. Oppa kalau capek pulang aja, jangan maksain nanti sakit."


"Aku cuma butuh kamu By, kesini ya?" Bujuk Smith.


"Rena gimana? Gak ada yang jagain.."


"Aku akan menyuruh Barry berjaga disana, kesini ya sayang.."


"Huh, baiklah. Aku mau pesan taksi dulu,"


"Iya sayang, terimakasih." Smith pun menutup panggilan telepon itu secara sepihak.


"Kenapa Mel?" Tanya Rena.


"Oppa nyuruh aku kantor, katanya capek, kepala nya sakit."


"Oh gitu ya? Yaudah pergi aja Mel, aku gapapa kok."


"Beneran?" Tanya Amelia. Rena menganggukan kepala nya.


"Nanti ada Barry kesini buat berjaga diluar, kita gak tau kan si ulat bulu mau kesini ganggu kamu."


"Iya Mel, udah sana pergi. Hati-hati ya.."


"Makasih Ren, aku pergi dulu." Rena menganggukan kepala nya, dia kembali berbaring setelah Amel pergi.


...


Amelia menunggu taksi online yang sudah dia pesan, dia berdiri santai di dekat rumah sakit. Hingga pandangan mata nya tak sengaja melihat keributan di seberang jalan, hati nya tergerak ingin melihat apa yang terjadi.


Dia menyeberang dengan hati-hati dan mendekati kerumunan warga yang nampak marah-marah.


Mata nya melotot saat melihat anak kecil yang sedang di pukuli, anak kecil itu menjerit kesakitan saat tangan-tangan itu menjamah tubuh nya dengan kayu.


"Hentikan, ada apa ini?" Tanya Amelia, dia bergerak menghalangi tangan-tangan warga yang ingin menyakiti anak kecil itu.

__ADS_1


"Dia mencuri roti dari warung, kami memberi nya pelajaran agar jangan berani mencuri lagi."


"Kamu mencuri, Nak?" Tanya Amelia, anak itu menatap Amelia dengan wajah penuh luka lebam.


"S-saya lapar kak, tak tahan. Sudah dua hari ini saya tidak makan." Amelia menggelengkan kepala nya, memang anak ini bersalah karena mencuri, tapi tak perlu di aniaya seperti ini.


"Hanya karena roti kalian melupakan kemanusiaan? Begini kah cara kalian memperlakukan anak kecil?"


"Tapi dia mencuri.." Seru warga yang nampak emosi, terlihat dari wajah mereka yang memerah.


"Berapa roti yang anak ini curi? Aku ganti 10 kali lipat, jika itu mampu membuat kalian menghentikan siksaan pada anak ini." Ucap Amelia, dia mengeluarkan berlembar-lembar uang berwarna merah.


"Tidak perlu mbak, kami hanya memberi nya pelajaran agar jera dan tak mencuri lagi."


"Pelajaran apa yang kau ucapkan hah? Dengan di siksa seperti ini, bayangkan jika anak kalian yang ada di posisi ini, bagaimana perasaan kalian sebagai orang tua?" Tanya Amelia.


"Anak ini mencuri karena lapar, lalu dimana letak kemanusiaan kalian? apa tidak merasa kasian pada anak ini?"


Mereka diam, mungkin ucapan Amelia sedikit menyentuh perasaan mereka.


"Kalian bisa saja memberi nya pelajaran, tapi bukan begini caranya. Secara langsung kalian sudah menyakiti anak orang lain, ini bisa di pidanakan dengan pasal penganiayaan."


"Di pidanakan? Memang nya siapa kau?"


"Aku?" Amelia menunjuk dirinya sendiri.


"Berasa kayak pernah denger nama nya, tapi gak tau dimana ya?" Bisik ibu-ibu rempong yang tadi ikut-ikutan marah-marah pada anak kecil yang ketahuan mencuri itu.


"Iya, nama nya gak asing."


"Mungkin di televisi." Celetuk Amelia.


"Ahh ya, benar sekali. Dia kan istri nya Tuan Smith Alexander, CEO ALX company."


Mereka berkerumun meminta bersalaman dengan istri dari pria tertampan dan terkaya di kota ini.


"Ada apa ini?" Suara bariton membuat mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah suara.


Seorang pria dengan setelan jas rapi, bersandar di mobil sedan hitam yang nampak mengkilap di sinari cahaya matahari.


"Itu tuan Smith.."


"Gilaa ganteng bangett..." Pekik ibu-ibu itu histeris.


"Di televisi dia udah ganteng, ternyata asli nya lebih ganteng."


"Apa kalian tuli, ada apa ini?" Tanya Smith datar, dia melangkah ke arah sang istri yang terdiam.

__ADS_1


"Aku menunggu mu cukup lama di kantor By, ehh kamu malah disini. Ada apa sayang?" Smith mengusap poni sang istri yang nampak berantakan karena tertiup angin.


"Aku tadi lagi nunggu taksi disana Oppa, tapi lihat keributan jadi aku kesini. Ehh ternyata mereka lagi mukulin anak kecil ini, lihat deh sampe merah-merah gitu Oppa." Tunjuk Amelia pada punggung anak kecil yang memerah akibat pukulan.


"Kenapa di pukul?"


"Katanya cuma gara-gara nyuri roti Oppa, dia nyuri karena lapar." Jelas Amelia, membuat Smith melirik tajam ke arah kerumunan warga. Apalagi orang-orang yang ikut memukul anak itu tadi, bahkan pemilik warung tadi sudah nampak pucat.


"Di warung mana?"


"D-di warung saya tuan Smith." Jawab salah seorang pria yang wajah nya nampak pucat.


"Saya beli warung mu beserta isinya."


"T-tapi saya tak berniat menjual warung saya, itu satu-satunya sumber kehidupan saya."


"Dua kali lipat.." Smith mengeluarkan uang dari saku jas nya.


"Baiklah tuan." Ucap pria paruh baya itu dengan kepala yang tertunduk, kalau Smith yang sudah meminta dia takkan bisa apa-apa. Dia dengan jelas tau, siapa itu Smith Alexander.


"Mulai sekarang warung ini sah menjadi milik anak kecil ini, berikan sertifikat nya. Anak buah ku akan memantau disini, awas saja jika kau tak memberikan nya dalam waktu 24 jam."


"Kau akan tau sendiri akibat nya, kau tau siapa aku kan?" Pria itu mengangguk, siapa yang tak tau Smith Alexander, pria yang paling berkuasa di kota ini.


"Bubar.." Orang-orang pun pergi menjauh, karena takut kecipratan amarah seorang Smith.


"Dimana orang tua mu nak?"


"L-lagi mulung kak.."


"Orang tua mu pemulung?" Anak itu menganggukan kepala nya.


"Siapa nama mu?"


"Hendra kak.."


"Usia mu berapa? Masih sekolah?" Tanya Amelia lagi.


"9 tahun kak, sudah putus sekolah karena gak ada biaya.." Jawab Hendra.


"Putus sekolah?" Tanya Amelia sekali lagi memastikan, dan anak itu mengangguk lagi.


....


🌻🌻🌻


Haii, author up lagi. Maaf semalam gak up karena anak aku lagi sakit🙏

__ADS_1


jangan lupa gift bunga sama kopi nya ya, happy reading ❤️


__ADS_2