
Smith mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju tempat biasa, disana sudah ada Roy tapi pria itu tak mampu membuat ke empat orang itu mau membuka mulut nya, padahal biasa nya pria itu selalu bisa di andalkan.
Smith memarkir mobil nya sembarang, bodo amat jika ada yang mau lewat, bisa lewat sisi mobil.
"Selamat siang Tuan Muda.."
"Parkirkan mobil ku." Smith melempar kunci mobil nya dan anak buah nya dengan sigap menangkap kunci nya. Pria itu masuk ke dalam bangunan tua itu dengan langkah tegap dan wajah datar nya.
Roy terlihat sudah emosi dengan wajah yang memerah dan urat-urat leher yang menegang, tapi dia segera menetralkan ekspresi nya saat melihat Smith datang ke arah nya.
"Selamat siang tuan.."
"Sarung tangan Roy.." Roy segera memberikan sarung tangan karet berwarna hitam.
"Jadi, kalian tak mau buka mulut? Siapa yang menyuruh kalian menyakiti gadis ku?" Tanya Smith sambil memakai sarung tangan nya.
"Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian hemm?" Smith bertanya lagi, tapi keempat nya kompak diam.
Smith mengambil berbagai macam benda tajam, mulai dari silet, kater, pisau kecil berwarna silver, ada juga kapak dan golok.
"Apa kalian yakin akan terus diam jika salah satu benda ini menggores tubuh kalian? Tunggu, bukan menggores. Lebih tepat nya menyayat." Ucap Smith, dia memainkan salah satu pisau dengan jari nya.
Sontak saja, keempat pria itu mulai ketakutan. Wajah nya berubah menjadi pucat pasi, dengan keringat yang mengucur dari dahi nya.
Smith melangkah pelan, dia menggoreskan pisau kecil tapi sangat tajam itu ke salah satu pria itu, membuat nya meronta dan memekik kesakitan.
"Sakit ya? Ini belum seberapa dengan sakit nya aku saat melihat gadis ku tak sadarkan diri, dan itu semua ulah kalian." Ucap Smith datar, tapi mampu membuat bulu kuduk merinding.
Smith mengambil sebotol cuka dan menyiram kan nya di luka pria itu, membuat pria itu berteriak.
"Sumpal mulut nya Roy.." Roy menurut dan menyumpal mulut pria itu dengan kaos kaki yang bekas dia pakai.
Smith kembali mengoyak lengan pria itu, membuka nya hingga luka itu membesar.
"Garam.." Roy mengulurkan sebungkus garam, Smith menaburkan nya di luka pria itu.
"Arrrggghhhh..." Jerit pria itu tertahan karena sumpalan di mulut nya.
"Sekarang dimana lagi Roy? Leher atau kaki?"
"Kaki tuan, buat dia tak bisa berjalan. Leher adalah sentuhan terakhir.."
"Kau pintar Roy.." Smith kembali menyayat di paha pria itu, sebelum dia kesini Roy sudah membuka seluruh pakaian mereka, hanya menyisakan celana pendek saja.
Pria itu menggeleng, bahkan nyeri dan perih di lengan nya masih begitu terasa menyiksa nya. Tapi kini pria itu akan membuat luka baru dengan silet yang mengkilap saking tajam nya.
"Pasti kau bertanya-tanya kan, kenapa kau yang aku eksekusi terlebih dahulu. Jawaban nya, karena kau yang mencekik leher gadis ku dengan lengan kotor mu ini." Smith menggoreskan silet itu di paha nya hingga membuat darah segar mengucur deras.
"Jadi, kau mau bicara atau masih ingin menderita? Aku akan senang hati membunuh mu secara perlahan, masih banyak alat yang belum aku coba." Roy menyalakan lampu, dan terpampang lah jenis-jenis senjata tajam yang tertata rapi di dinding. Bahkan berbagai jenis pedang pun begitu rapi terjejer.
Ke tiga pria yang masih belum merasakan ke kejaman Smith, meronta ingin lepas dari ikatan mereka, tapi tak semudah itu.
"Masih ingin berteriak, sialan? Mari.." Smith kembali menaburkan garam di luka yang masih basah itu, lalu menyiram nya lagi dengan sebotol cuka.
Lagi-lagi pria itu memekik kesakitan, tapi Smith tak peduli dan fokus membuat luka baru lagi, hingga tubuh pria itu di penuhi luka sayatan yang berlumuran darah. Pria itu terkulai lemas dengan tubuh penuh luka, mungkin pria itu lelah berteriak.
"Lagi?" Pria itu menggelengkan kepala nya.
"Jadi, mau bicara atau tetap diam?" Pria itu diam, tak menggeleng atau mengangguk.
"Kalian semua sudah memiliki keluarga kan? Bagaimana kalau keluarga kalian aku bantai habis?" Tanya Smith dengan seringaian jahat tersungging di kedua sudut bibir nya.
"Tidak, tidak tuan jangan, kami mohon.."
"Bicara lah, siapa yang sudah menyuruh kalian melakukan hal pengecut seperti itu hah?" Tegas Smith, mata nya memerah karena amarah yang sudah memuncak.
__ADS_1
"Baik tuan, kami akan bicara.."
"T-tuan Gerald yang menyuruh kami tuan.." Ucap nya. Tepat sasaran, ternyata benar pria brnegseek itu yang ada di balik semua kekacauan ini.
"Berapa dia membayar kalian?"
"400 juta jika misi berhasil tuan.."
"Ckkk, masing-masing mendapat 100 juta sebagai bayaran? Kalian tau apa resiko nya berurusan dengan ku, kalian tau siapa aku?"
"Aku Smith Alexander, dan yang kalian lukai itu calon istri ku, pusat dunia ku Amelia Putri, wanita yang paling aku cintai."
"A-ampun tuan, saya tidak tau."
"Tak ada kata ampun bagi kalian, kalau saja sedari tadi kalian mau bicara, aku mungkin akan berbaik hati melepaskan kalian, tapi kali ini aku sudah marah." Ucap Smith.
"Barry, kerahkan semua anggota untuk mencari cassanova sialan itu dan bawa kemari dalam waktu 24 jam."
"Baik tuan Muda.." Jawab Barry, dia adalah ketua anggota yang paling berpengaruh dan paling di percaya oleh Smith.
Mereka pergi dengan membawa senjata api masing-masing.
"Roy, buat mereka bertiga sama seperti pria itu. Jika sudah, biarkan saja mereka mati."
"Baik tuan muda.."
"Aku harus pulang, Amel pasti sudah menunggu ku dan kau bisa pulang jika Barry sudah kemari dengan si brengsekk itu."
"Baik tuan, saya mengerti."
"Selamat bertugas dan selamat berpuasa." Ledek Smith, lalu dia pergi setelah membuka sarung tangan nya.
Roy mendengus sebal mendengar ledekan tuan nya, ingin rasa nya dia membalas, tapi tak mungkin. Pekerjaan nya pasti akan di pertaruhkan, kalau dia di pecat, Rena mau makan apa? Tak mungkin hanya makan cinta kan?
...
Dia membuka pintu ruangan itu, terlihat gadis nya tengah duduk sambil makan di suapi Rena.
"By.." Panggil Smith.
"Sudah pulang Oppa? Memang nya urusan nya sudah selesai?" Tanya Amelia, sedangkan Rena gadis itu hanya diam dan menunduk, tak bernai menatap sang tuan muda.
"Sudah By, kemana mamak, bapak?"
"Tadi sudah pulang karena bapak sesak lagi,"
"Ohh baiklah, bagaimana buah naga nya? Enak tidak?"
"Yang kuning enak, manis. Tapi yang merah rasanya dingin.."
"Dingin kayak sikap mu." Ucap Amelia lagi.
"Aku? Dingin dimana nya?" Tanya Smith.
"Tidak, lupakan.."
"Ya udah Mel, tuan Smith sudah kembali. Aku pamit pulang dulu ya.."
"Hati-hati di jalan ya Ren.." Ucap Amelia.
"Anak buah ku akan mengantar mu, tunggu sebentar."
Smith terlihat menghubungi seseorang dan tak lama orang itu datang dengan wajah sangar yang menakutkan bagi Rena.
"Antar dia dengan selamat, jangan macam-macam karena dia kekasih Roy."
__ADS_1
"Baik tuan, saya mengerti. Mari Nona.."
"Tenang saja, dia takkan menggigit.." Celetuk Smith, tapi tetap dengan wajah datar nya.
...
Kini di ruangan itu hanya ada Smith dan Amelia, pria itu terus menggenggam tangan gadis nya.
"Bagaimana pernikahan kita Oppa?"
"Mau gimana lagi, karena kamu sakit jadi terpaksa harus di undur By."
"T-tapi.."
"Tak apa By, yang penting kamu harus sembuh total dulu. Setelah seminggu menikah kita akan pergi ke korea untuk berobat ya.."
"Apa itu tidak berlebihan oppa? Kita kan bisa berobat disini.."
"Apapun untuk mu rasa nya tak pernah berlebihan By, jadi jangan menolak lagi. Aku akan melakukan yang terbaik untuk kesehatan mu."
"Bagaimana kalau nanti setelah berobat, aku dinyatakan tak bisa sembuh dan tak bisa punya anak selamanya?"
"Kita sudah membahas ini sebelumnya By, aku tak apa-apa asal kamu tetap disisi ku, itu saja sudah cukup. Jadi jangan mendahului takdir, siapa tau keberuntungan ada di pihak kita, kamu sembuh dan nanti punya anak, itu sebuah anugerah untuk ku. Jangan putus asa sebelum mencoba ya By."
"Baiklah Oppa, terimakasih."
"Sama-sama By, aku mencintai mu.."
"Aku juga.."
"Sudah lama pisang ku tertidur By.."
"Nanti kalau sudah bangun, pasti susah tidur lagi." Jawab Amelia.
"Pengen.." Rengek Smith.
"Boleh, tapi pelan-pelan."
"Beneran? Tapi, masa disini By.."
"Ya terus pengen nya main dimana? Aku belum boleh pulang kan?"
"Tahan lagi aja deh, gak mau main disini sempit.."
"Terserah Oppa saja, tadi yang minta kan oppa, yang bilang gak mau juga Oppa," Smith hanya nyengir mendengar ucapan gadis nya.
"Pengen tidur aja lah.."
"Sini.." Amelia menepuk sisi kasur yang kosong. Ranjang di ruangan VIP memang memiliki ranjang yang besar dan muat untuk dua orang.
Smith naik ke ranjang dan memeluk gadis nya dari belakang, meski sebenernya dia menginginkan sebuah kehangatan, tapi seperti ini sudah cukup karena gadis nya masih sakit.
....
🌻🌻🌻
Sabar ya oppa, nanti ada waktu nya lagi kalian berdua bercocok tanam🤭🤭🤭
100 buat kalian yang udah jawab Gerald😊
vibes nya udah kayak mafia ya kan?😂
__ADS_1
Jangan lupa bunga, kopi sama vote nya ya, happy reading ❤️❤️❤️