
Smith menatap gadis nya yang tengah memakan bakso pedas itu dengan lahap, semenjak kejadian mimisan kemarin seperti nya Amelia menjadi gadis yang berbeda, lebih berani dan nafsuu makan nya juga.
"Aaa..." Amelia menyodorkan garpu ke depan mulut pria itu.
"Gak ah pedes yang, aku gak suka pedes."
"Ohh gak suka ya, pantesan kalo makan bakso kuah nya selalu bening." Ucap Amelia.
"Iya sayang, tapi kalo pedes nya dari ramen aku terbiasa."
"Ohh, cobain ini dulu tuan sesuap aja.." Bujuk Amelia.
"Apa sangat pedas?" Amelia menggelengkan kepala nya, karena memang bakso nya tak terlalu pedas, menurut nya.
Smith ragu-ragu menerima suapan dari gadis nya, dia mengunyah nya pelan.
Wajah Smith memerah karena kepedasan, Amelia panik dan segera mengambilkan minum.
"Kamu mengerjai ku sayang, jahat sekali.." Gerutu nya setelah minum segelas air putih hingga tandas.
"Tapi menurut saya ini gak pedes."
"Pedes mu dan pedes ku berbeda, kemari."
Amelia mendekat dan duduk di samping pria itu, sebenarnya dia gugup bukan main, karena sudah pasti pria itu akan marah.
Smith merangkul pundak gadis nya, melayangkan kecupan ringan di kening nya.
"Sayang, apa kamu tau? Sebentar lagi pertunangan ku dengan Marissa akan di batalkan."
"Tuan serius?"
"Apa wajah ku terlihat seperti sedang bercanda sayang?" Amelia menggelengkan kepala nya, dia dengan jelas tau pria itu tengah bicara serius.
"Setelah semua nya selesai, aku ingin menepati janji ku pada orang tua mu."
Amelia mendongakan kepala nya, dia bisa melihat raut keseriusan di wajah pria itu.
"Mulai saat ini kau dan aku resmi menjadi kekasih, kamu bukan sekedar simpanan ku sekarang." Amelia melongo, bukan berarti dia tak bahagia dengan ucapan pria itu.
Dia hanya merasa tak pantas menggantikan nama Marissa di hati seorang Smith, bermimpi pun tidak. Menurut nya, bisa dekat, berbagi udara dengan pria itu saja sudah seperti keberuntungan.
"Aku mencintai dirimu Amelia Putri.."
Pria itu memeluk tubuh mungil nya, menenggelamkan kepala nya di dekapan hangat nya.
Amelia membalas pelukan nya tak kalah erat, jujur saja dia sangat bahagia saat ini. Tak ingin memikirkan apapun lagi, dia hanya ingin menikmati kebersamaan dan kehangatan ini sekarang.
....
__ADS_1
Marissa kembali mengamuk di apartemen nya, setelah usaha nya mendapat informasi tentang hubungan Smith dan gadis OG itu, belum lagi anak buah nya yang berhasil tertangkap membuat nya frustasi.
"Dengan cara apa lagi aku mendapatkan dirimu Smith, aku tak bisa kehilangan dirimu. Kau hanya milik ku, bukan wanita lain." Teriak nya.
"Hanya ada satu cara, baiklah. Ayo lakukan.." Marissa menyeringai jahat. Dia punya rencana licik untuk kembali menjerat Smith ke dalam pelukan nya.
"Untuk saat ini, kubiarkan dulu kalian bebas. Tapi setelahnya, jangan harap kalian bisa bersama." Ucap Marissa dengan senyum jahat nya.
....
Amelia tertidur setelah meminum obat nya, Smith harus pergi untuk mengurusi orang-orang iseng yang mengganggu ketenangan kekasih nya.
"Aku pergi dulu sayang, tidurlah dengan nyenyak. Aku mencintai mu." Smith berbisik dan mencium kening gadis nya sekilas.
"Jaga apartemen ini dengan ketat, jika bukan Roy jangan biarkan siapapun mendekat kemari. Ingat, nyawa kalian tergantung kebecusan kalian menjaga tempat ini. Jika gadis ku tergores sedikit pun, kepala kalian melayang." Ancam Smith pada anak buah nya.
"Baik tuan, kami mengerti." Jawab mereka serempak.
Smith pergi dengan gaya angkuh nya, dia siap mengintrogasi seseorang di tempat biasa, buka di kantor.
"Roy, aku ke lokasi sekarang. Kau harus menyusul, jangan lupa gunakan topeng mu." Ucap Smith di telepon.
"Baik, saya kesana sekarang." Jawab Roy. Seperti biasa, Smith selalu mematikan sambungan telepon nya sepihak.
...
Smith berdiri di depan sebuah bangunan tua, ini lah yang di sebut tempat biasa.
"Siap Roy?"
"Saya selalu siap tuan." Jawab Roy datar.
Mereka berdua pun melangkahkan kaki nya ke dalam bangunan tua itu, disana ada tiga orang pria yang menjadi tawanan mereka. Tau siapa? salah satu nya Gerald.
Sampai saat ini, pria itu tak tau kalau yang sudah menangkap nya adalah Smith dengan asisten kepercayaan nya.
"Selamat siang Geraldio.." Bisik Smith di telinga pria itu, membuat pria itu tersentak kaget.
"Siapa kau?" Pekik nya.
"Aku malaikat kematian mu,"
"Bangsatt, katakan siapa kau sebenarnya?"
"Aku sudah jawab pertanyaan mu itu."
"Apa hari-hari mu menyenangkan disini Gerald?"
"Suara itu, apa kau Smith?" Tanya Gerald.
__ADS_1
"Aku saudara nya, seperti nya kau mengenal nya dengan baik."
"Dia temanku, akan ku adukan kau. Menangkap ku seenaknya, mana tempat nya kumuh, menyeramkan sekali."
"Kau pasti tau alasan aku membawa mu kemari."
"Aku akan melepaskan mu jika kau bersedia bersaksi sebagai selingkuhan Marissa."
Deg...
"Dari mana kau tau semua itu?"
"Jelas aku tau, mata ku ada dimana-mana Gerald. Bagaimana, kau setuju?"
"Apapun itu, asalkan aku keluar dari tempat ini aku bersedia melakukan nya."
"Bagus, aku akan bilang semua nya pada Smith."
Sedangkan di ruangan sebelah nya, Roy sedang mengintrogasi kedua orang yang membuat kekakacauan kemarin.
"Katakan, siapa yang menyuruh kalian? Apa Marissa?" Tapi, kedua orang itu tetap bungkam.
"Berapa banyak orang itu membayar kalian? Aku bisa membayar dua kali lipat, jika kalian buka mulut."
"Atau, keluarga kalian mati di tanganku." Ancam Roy.
"Tolong jangan lakukan itu, tuan. Benar, Nona Marissa yang menyuruh kami."
"Berapa uang yang dia berikan pada kalian?"
"25 juta tuan.."
"Aku bayar kau dua kali lipat, tapi jangan berhubungan lagi dengan wanita itu, atau aku bantai seluruh keluarga kalian."
"Baik tuan, kami mengerti."
...
"Bagaimana Roy?"
"Nona Marissa yang menyuruh kedua orang itu, Tuan."
"Sudah aku duga, biarkan saja wanita itu. Ayo pulang, aku tak sabar ingin melihat gadis ku."
Roy mengangguk dan mengikuti langkah tuan nya, keluar dari bangunan itu.
....
🌻🌻🌻
__ADS_1
vibes nya udah kek bad boy gak sih?🤭🤭