
Amelia penasaran dengan ucapan Appa nya yang mengatakan kedua orang tua nya sedang senam di ruang olahraga. Sebenarnya dia baru tau kalau mansion ini di lengkapi dengan gym pribadi dan instruktur senam pribadi juga.
Baru saja keluar, Amelia sudah bisa mendengar suara dentuman musik ceria yang di putar dari kaset atau radio mungkin.
Dia mengikuti asal suara itu dan sampai lah dia di sebuah bangunan yang cukup besar dengan atap kaca di atas nya.
"Nona disini? Sedang apa?" Sapa salah satu maid yang bertugas di halaman belakang.
"Ahh iya, saya ingin ke ruang senam."
"Panggil bibi saja, mari saya antar Nona." Ajak nya, membuat Amelia mengikuti kemana langkah kaki maid itu membawa nya.
Dan ya, dia di bawa masuk ke dalam ruangan yang berisik menurut nya.
Seketika itu juga kedua mata nya membeliak saat melihat penampilan mamak nya.
"Mamak, apa-apaan ini." Gumam nya sambil menepuk jidat nya, bagaimana tidak. Mamak nya terlihat sedang senam dengan pakaian ketat yang membentuk tubuh besar nya.
Bahkan lipatan di perut nya begitu terlihat, Amelia tak tahan, dia tertawa melihat penampilan ibu nya sendiri.
"Amel, sini ikut senam." Ajak Bibi Roseanne.
"Nggak bi, Amel kesini cuma pengen lihat mamak aja. Ehh ternyata malah kayak ulat."
"Ngeledek ibu nya sendiri," Ketus mamak.
"Maaf mak, ya habis nya ngapain pake baju ketat gini sih."
"Kan bibi mu juga pakai." Jawab mamak.
"Ya beda dong mak,"
"Sudahlah, ayo pulang. Sudah masuk waktu makan malam, kamu kesini sama siapa?" Tanya Bibi Rose.
"Gak tau namanya Bi, tapi tadi ada maid yang nganter kesini."
"Oh yaudah, ayo kita masak." Ajak bibi Rose.
....
Amelia berkutat di dapur dengan peralatan dan bahan-bahan yang sudah dia siapkan.
"Masak apa By? Fokus banget." Smith datang dan memeluk Amelia dari belakang.
"Tomyum kung, Oppa." Jawab Amelia, tanpa terganggu sedikit pun.
"Wahh enak itu By,"
"Enak apanya? Kan belum jadi,"
"Ya kayaknya enak sayang, jangan pedes-pedes ya By masaknya."
"Iya Oppa, mau kopi dulu sebelum makan malam?"
__ADS_1
"Boleh By, makasih ya.." Smith mencuri ciuman di pipi sang istri lalu duduk manis di kursi.
"Wihh, istri nya masak di tungguin pawang nya nih.." Celetuk bibi Rose yang baru datang setelah mandi, terlihat dari rambut nya yang nampak basah.
"Gapapa dong By, kali aja ada yang bisa Smith bantu."
"Paling cuma ngerecokin sama bantu makan aja kamu Smith." Ledek Bibi Rose dengan senyum jahil nya.
"Kerjaan aku kan cuma makan, kalau gak makan masakan Amel, ya Amel nya yang Smith makan." Jawab Smith santai, membuat bibi nya mencebik.
"Masak apa Mel?" Tanya Bibi Rose.
"Tomyum kung bi.."
"Kamu bisa masak tomyum?" Tanya Bibi Rose lagi.
"Bisa Bi, di apartemen Amel sering masak buat Oppa. Ya meski awalnya harus nonton dari ponsel buat resep nya." Jawab Amelia.
"Ada yang harus bibi bantu?"
"Tinggal ngiris daun bawang aja Bi, setelah itu selesai."
"Yaudah, bibi yang ngiris aja."
....
Singkat nya, makan malam pun di mulai. Semua nya sudah berkumpul di meja makan, termasuk kedua orang tua Amelia.
"Wangi banget, kamu yang masak Mel?" Tanya mamak.
"Iya mak.." Amelia menuangkan makanan berkuah itu di piring mamak dan bapak nya, tentu nya setelah melayani suami bucin nya.
"Enak by, cuma panas.."
"Pelan-pelan makan nya dong, jangan buru-buru."
"Laper By.."
"Sini aku tiupin dulu," Amelia mengambil alih sendok dari tangan Smith dan menggeser piring suami nya ke depan nya.
Dengan telaten dia menyuapi Smith setelah memastikan makanan nya dingin. Semua perhatian itu tak luput dari penglihatan mata tajam Appa Joseon, semanja itu Smith pada Amelia.
"Kamu gak makan, Mel?" Tanya Bibi Rose, karena belum melihat menantu nya itu makan.
"Amel makan nya satu piring berdua aja sama Oppa, Bi." Jawab Amelia dengan senyuman manis nya. Bibi Rose hanya menganggukan kepala nya, pertanda mengerti.
"By, pengen udang nya.." Amelia menyendok udang dan menyuapkan nya.
"Enak By.."
"Oppa harus makan yang banyak, besok mulai masuk kantor lagi kan?"
"Kamu juga harus makan By, biar agak gendutan."
__ADS_1
"Iya sih, timbangan aku turun 3 kilo kemarin.' Jawab Amelia.
"Kok bisa turun, kenapa Mel?" Tanya Bibi Rose.
"Mungkin karena banyak pikiran aja sih Bi,"
"Gak usah banyak pikiran lagi ya Mel, fokus sama kesehatan kamu. Gak usah mikirin hal yang gak penting, itu berpengaruh sama kesembuhan luka kamu."
"Iya Bi, cuma mikirin acara pernikahan aja sih kemaren." Jawab Amelia.
"Bibi tau Mel, tapi ingat ya jangan mengabaikan kesehatan kamu cuma gara-gara omongan orang,"
"Baik Bi." Jawab Amelia sambil menunduk.
Bibi Rose tau bagaimana mulut-mulut netizen di media sosial yang mengatakan beragam macam nyinyiran untuk Amelia yang berhasil menikah dengan Smith Alexander.
"Jangan memikirkan omongan orang lain, Mel. Jangan merasa kamu tak pantas untuk Smith, dia menginginkan dirimu sebagai pendamping nya. Jangan terpaku hanya karena orang-orang mengatakan kamu tak pantas bersama Smith," Kali ini, Appa Joseon yang bicara.
"Iya Appa, Amel cuma merasa kurang percaya diri."
"Semua artikel tentang dirimu sudah Smith take down, jadi tak usah khawatir." Ucap Bibi Rose.
"Jejak di media memang bisa hilang Bi, tapi bagaimana dengan pikiran orang-orang nya? Mereka masih menyangka Amel merebut Oppa dari Nona Marissa."
"Kenyataan nya tak begitu kan? Orang-orang hanya bicara berdasarkan apa yang mereka lihat dan dengar By, tanpa mau mendengarkan fakta yang sesungguhnya. Dari awal kita bertemu, hubungan ku dengan Marissa memang sudah berantakan dan kamu tau itu By. Jadi ini bukan salah mu, biarkan saja orang-orang dengan persepsi nya sendiri, pada kenyataan nya kan kamu tak pernah merebut aku dari siapapun." Kali ini Smith yang angkat bicara, dia berusaha keras meng take down banyak artikel tentang pernikahan nya dengan gadis sederhana seperti Amelia.
"Kamu hanya perlu percaya pada ku By, tak perlu mendengar ocehan orang di luar sana." Smith mengusap puncak kepala sang istri yang masih tertunduk.
"Aku hanya merasa risih dengan banyak berita miring itu Oppa, tapi aku baik-baik saja sungguh."
"Kamu harus kuat Mel, menjadi istri seorang Smith Alexander perlu kekuatan hati dan mental yang kuat."
"Iya Bi.." Jawab Amelia, dia berusaha memberikan senyuman terbaik nya. Tapi tetap saja itu masih terlihat sangat di paksakan.
"Jangan tersenyum jika hati mu masih sakit Mel, bibi tak suka orang yang berpura-pura kuat padahal hati nya rapuh. Cukup apa adanya, jika sakit kamu boleh menangis Mel."
"Baik bi.." Amelia kembali memasang ekspresi murung nya.
Sebenarnya sudah lama dia terganggu dengan berbagai macam teror di akun media sosial pribadi miliknya, tapi selama ini dia mendiamkan nya, tanpa mau bicara juga pada Smith karena menurut nya itu hal yang kurang penting.
Tapi semakin kesini, semua nya terasa memojokan dirinya yang berhasil menjadi istri sah Smith, bukan Marissa.
Banyak sekali artikel yang menjatuhkan nama nya, dan mencantumkan nama nya sebagai pelakor.
Memang begini adanya, dia adalah orang ketiga dalam hubungan Smith dan Marissa. Tapi dari awal memang hubungan Smith dan Marissa sudah di ambang kehancuran, jadi apa dia salah?
...
🌻🌻🌻
Menurut Readers gimana? Apa cap pelakor pantas buat Amel? Menurut Author sih nggak😁
Jangan lupa bunga sama kopi nya, vote juga ya, tambahkan ke rak favorit😊🙏🙏
__ADS_1